Belajar Rendah Hati dan Menemukan Harta dalam Pelayanan
Panggilan menjadi imam bukan hanya dibentuk di ruang kelas, perpustakaan, kapel, dan seminari. Panggilan itu juga dibentuk di tengah umat, di paroki, sekolah, komunitas, lembaga pelayanan, dan tempat-tempat nyata di mana kehidupan manusia berlangsung.
Semangat inilah yang tampak dalam Misa Perutusan para Frater TOP Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Sebanyak 42 frater SVD tingkat IV diutus untuk menjalani Tahun Orientasi Pastoral atau yang biasa dikenal dengan sebutan TOP.
Misa perutusan ini menjadi momen penting dalam perjalanan panggilan para frater. Mereka tidak hanya menerima tugas praktik, tetapi juga diutus untuk belajar, melayani, mendengarkan, dan menemukan pengalaman iman di tengah umat.
Diutus untuk Belajar, Bukan untuk Merasa Sudah Tahu
Dalam homilinya, Pastor Yosef Keladu, SVD, Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, memberi pesan yang sangat penting kepada para frater: mereka diutus untuk tetap rendah hati dan belajar.
Pesan ini sederhana, tetapi sangat dalam.
Seorang calon imam tidak diutus ke tempat TOP untuk merasa lebih tahu daripada umat. Ia tidak diutus untuk tampil sebagai orang yang sudah sempurna. Ia diutus untuk belajar dari kehidupan nyata.
Kerendahan hati adalah salah satu kualitas penting dalam panggilan imamat. Tanpa kerendahan hati, pelayanan mudah berubah menjadi kesombongan. Tanpa kerendahan hati, seorang pelayan bisa sibuk mengatur orang lain, tetapi lupa mendengarkan. Tanpa kerendahan hati, seseorang bisa banyak berbicara tentang Tuhan, tetapi kurang peka terhadap manusia di sekitarnya.
Maka, TOP menjadi kesempatan bagi para frater untuk belajar menjadi kecil, sederhana, dan terbuka.
Setiap Tempat Menyimpan Harta
Homili Misa Perutusan ini terinspirasi dari Injil Matius 6:19-23, tentang harta yang sejati. Yesus mengingatkan agar manusia tidak hanya mengumpulkan harta di bumi, tetapi mencari harta yang tidak rusak, tidak hilang, dan tidak dimakan ngengat.
Dalam konteks perutusan para frater, pesan ini sangat kuat. Pastor Yosef mengingatkan bahwa setiap tempat praktik pastoral menyimpan “harta” bagi proses panggilan mereka.
Harta itu bukan selalu berupa pengalaman yang menyenangkan. Kadang harta itu tersembunyi dalam kesulitan. Kadang ia muncul melalui perjumpaan dengan umat kecil. Kadang ia ditemukan dalam air mata, kesepian, kritik, kegagalan, atau keterbatasan.
iutus ke Berbagai Tempat
Para frater TOP Ledalero diutus ke berbagai paroki, sekolah, dan lembaga. Mereka akan berkarya di banyak wilayah keuskupan di Indonesia, termasuk Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Samarinda, keuskupan-keuskupan di Regio Nusa Tenggara, Keuskupan Amboina, Keuskupan Manokwari-Sorong, dan Keuskupan Jayapura.
Sebagian frater juga diutus ke luar negeri, seperti Timor Leste, Jerman, Hungaria, Togo, dan Brazil.
Perutusan yang luas ini menunjukkan wajah misioner Serikat Sabda Allah atau SVD. Sejak awal, SVD dikenal sebagai tarekat misionaris. Para anggotanya dipanggil untuk mewartakan Sabda Allah lintas daerah, lintas budaya, dan lintas bangsa.
Bagi para frater, pengalaman lintas tempat dan lintas budaya akan memperkaya panggilan mereka. Mereka akan belajar bahwa Gereja Katolik itu universal. Cara umat berdoa bisa berbeda. Bahasa bisa berbeda. Budaya bisa berbeda. Tantangan sosial bisa berbeda. Tetapi iman kepada Kristus menyatukan semuanya.
Semoga para frater yang diutus diberkati dalam tugas pastoral mereka. Semoga mereka menemukan harta iman di tengah umat. Semoga pengalaman TOP membentuk mereka menjadi pelayan Tuhan yang rendah hati, setia, dan penuh kasih.
Dan semoga Gereja terus melahirkan imam-imam yang bukan hanya pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi sungguh dekat dengan umat dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan nyata.
Sebab harta sejati dalam pelayanan bukanlah pujian, tetapi hati yang semakin dibentuk untuk mengasihi.
Sumber inspirasi: Hidup Katolik dan laporan Fr. Alfian Tanggang, SVD dari Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.



