Jejak Pelayanan TOP di Stasi Kristus Raja Abianbase
Misa Minggu akhir Juni 2026 di Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Abianbase menjadi momen yang penuh rasa syukur dan haru. Setelah perayaan Ekaristi, umat mendapat kesempatan mendengarkan ucapan dan kesan dari Frater Rello, yang bernama lengkap Frater Nicolas M. D. Mazzarello Taus.
Frater Rello menyampaikan pengalaman dan rasa terima kasihnya setelah menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral atau TOP di tengah umat. Setelah masa pelayanan tersebut, beliau akan kembali ke seminari untuk melanjutkan tahap pendidikan dan formasi berikutnya.
Momen sederhana ini menjadi tanda bahwa kehadiran seorang frater di tengah umat bukan hanya soal tugas pastoral, tetapi juga tentang perjumpaan, pembelajaran, persaudaraan, dan panggilan yang terus dibentuk oleh Tuhan.
TOP sebagai Sekolah Kehidupan
Tahun Orientasi Pastoral adalah bagian penting dalam proses pembinaan calon imam. Di masa ini, seorang frater tidak hanya belajar dari buku, kelas, dan ruang formasi, tetapi juga belajar langsung dari kehidupan umat.
Bagi Frater Rello, pengalaman TOP di Stasi Kristus Raja Abianbase tentu menjadi bagian dari proses pembentukan panggilannya. Di tempat ini, ia tidak hanya memberi, tetapi juga menerima banyak pelajaran dari umat.
Hadir di Tengah Umat Kristus Raja Abianbase
Selama menjalani TOP, Frater Rello menjadi bagian dari perjalanan iman umat Stasi Kristus Raja Abianbase. Kehadirannya memberi warna dalam berbagai kegiatan pastoral dan pembinaan umat.
Ia hadir bukan hanya sebagai calon imam yang sedang menjalankan tugas, tetapi juga sebagai saudara seiman yang berjalan bersama umat. Melalui sapaan, pelayanan, pendampingan, dan kehadiran sederhana, umat dapat merasakan bahwa panggilan imamat bertumbuh melalui perjumpaan nyata.
Di tengah umat, seorang frater belajar bahwa pelayanan tidak selalu harus besar dan terlihat. Kadang pelayanan justru tampak dalam hal-hal kecil: hadir saat dibutuhkan, mendampingi kegiatan, memberi semangat, ikut membina anak-anak dan remaja, serta menyapa umat dengan hati yang tulus.
Hal-hal sederhana seperti inilah yang sering meninggalkan kesan mendalam.
Jejak Pelayanan bagi Misdinar dan Remaja
Salah satu jejak pelayanan Frater Rello yang juga dikenal di Paroki Santa Theresia Tangeb adalah pendampingannya bagi para misdinar. Dalam kegiatan rekoleksi dan pemilihan pengurus misdinar Paroki Tangeb, Frater Rello pernah membawakan tema “Misdinar yang Solid.”
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya pengorbanan dalam pelayanan. Pesan ini sangat cocok bagi para misdinar, karena melayani altar bukan hanya soal mengenakan busana liturgi atau berdiri di dekat altar, tetapi juga soal kesiapan hati.
Misdinar belajar datang tepat waktu.
Belajar disiplin.
Belajar menghormati liturgi.
Belajar melayani tanpa mencari perhatian.
Belajar mencintai Tuhan melalui tugas-tugas kecil di sekitar altar.
Pesan tentang pengorbanan dalam pelayanan ini juga berlaku bagi semua umat. Setiap pelayanan Gereja membutuhkan waktu, tenaga, kesabaran, dan kerendahan hati.
Belajar dari Umat Sederhana
Dalam pengalaman pastoral, seorang frater sering menemukan banyak pelajaran dari umat sederhana. Ada umat yang setia datang ke Misa. Ada ibu-ibu yang diam-diam membersihkan gereja. Ada bapak-bapak yang membantu kegiatan tanpa banyak bicara. Ada anak-anak yang penuh semangat. Ada remaja yang perlu didampingi. Ada keluarga yang bertahan dalam iman meski menghadapi banyak pergumulan.
Kembali ke Seminari, Membawa Doa Umat
Kembalinya Frater Rello ke seminari bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan kelanjutan dari proses panggilan. Pengalaman TOP di Stasi Kristus Raja Abianbase akan menjadi bekal berharga dalam tahap formasi berikutnya.
Ia kembali bukan dengan tangan kosong. Ia membawa pengalaman, wajah-wajah umat, pelajaran pelayanan, kenangan kebersamaan, dan doa dari umat yang pernah ia layani.
Bagi umat, kepergian Frater Rello kembali ke seminari juga menjadi kesempatan untuk mendoakan panggilan. Gereja membutuhkan calon-calon imam yang setia, rendah hati, dekat dengan umat, dan siap dibentuk oleh Tuhan.
Setiap frater yang sedang menjalani formasi membutuhkan doa. Mereka juga manusia biasa yang terus belajar, bergumul, dan berusaha menjawab panggilan Tuhan dengan setia.
Perpisahan dengan Frater Rello juga menjadi pengingat bagi umat bahwa panggilan Tuhan perlu selalu didukung. Panggilan imam, biarawan, dan biarawati tidak tumbuh sendirian. Panggilan tumbuh dalam keluarga, komunitas, paroki, stasi, dan doa umat.
Karena itu, umat diajak untuk terus mendoakan para frater, seminaris, suster, bruder, dan para imam. Mereka adalah pelayan Gereja yang membutuhkan dukungan rohani dari umat.
Selain itu, pengalaman Frater Rello juga mengingatkan bahwa setiap orang punya panggilan untuk melayani. Tidak semua dipanggil menjadi imam, tetapi semua dipanggil menjadi murid Kristus. Tidak semua dipanggil masuk seminari, tetapi semua dipanggil untuk hidup dalam kasih, pelayanan, dan kesetiaan.
Pelayanan di Gereja tidak pernah sia-sia bila dilakukan dengan hati yang tulus.
Momen ucapan Frater Rello setelah Misa Minggu di Stasi Kristus Raja Abianbase menjadi tanda sederhana namun indah: Gereja adalah rumah perjumpaan. Di dalamnya, umat dan calon imam saling belajar, saling mendoakan, dan saling meneguhkan.
Frater Rello telah menjalani masa TOP sebagai bagian dari proses panggilannya. Kini ia kembali ke seminari untuk melanjutkan pendidikan dan formasi berikutnya.
Semoga setiap pengalaman di Stasi Kristus Raja Abianbase menjadi bekal berharga dalam perjalanan panggilannya. Semoga Tuhan yang telah memanggilnya juga terus menuntun langkahnya.
Selamat melanjutkan formasi, Frater Rello.
Terima kasih atas pelayanan dan kebersamaan di tengah umat Stasi Kristus Raja Abianbase.
Semoga panggilan yang telah ditanam Tuhan terus bertumbuh, berakar kuat, dan kelak berbuah bagi Gereja dan umat-Nya.
Sumber: Dokumentasi internal umat Stasi Kristus Raja Abianbase, audio ucapan Frater Rello, dan video singkat YouTube Shorts Stasi Kristus Raja Abianbase.








