Mengasihi Kristus dengan Hati yang Utuh: Renungan Misa Minggu di Stasi Kristus Raja Abianbase
Misa Kudus hari Minggu, 28 Juni 2026 di Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Abianbase berlangsung dalam suasana iman yang khidmat dan penuh syukur. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. Alex Dato, SVD, Pastor Paroki Santa Theresia Tangeb.
Dalam perayaan ini, pelayanan koor dipercayakan kepada Lingkungan Santa Sisilia, yang turut memperindah liturgi melalui nyanyian pujian. Kehadiran koor menjadi bagian penting dalam membantu umat semakin masuk ke dalam suasana doa, syukur, dan permenungan sabda Tuhan.
Pada Minggu Biasa XIII ini, Gereja mengajak umat merenungkan panggilan menjadi murid Kristus secara lebih mendalam. Injil Matius 10:37-42 menampilkan sabda Yesus yang tegas:
“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Sabda ini sekilas terdengar keras. Namun Yesus tidak sedang mengajarkan agar manusia mengabaikan keluarga. Sebaliknya, Yesus sedang menunjukkan bahwa kasih kepada Allah harus menjadi dasar dari semua kasih yang lain.
Kristus sebagai Pusat Hidup
Dalam hidup sehari-hari, manusia mencintai banyak hal: keluarga, pekerjaan, sahabat, pelayanan, kenyamanan, dan masa depan. Semua itu baik. Namun Injil mengingatkan bahwa tidak ada satu pun dari semua itu boleh menggantikan tempat Tuhan dalam hati manusia.
Mengasihi Kristus lebih daripada segala sesuatu berarti menempatkan Tuhan sebagai pusat hidup. Ketika Tuhan menjadi pusat, kasih kepada keluarga menjadi lebih murni. Pelayanan menjadi lebih rendah hati. Pekerjaan menjadi lebih jujur. Relasi menjadi lebih sabar. Hidup menjadi lebih terarah.
Tanpa Kristus sebagai pusat, kasih manusia mudah berubah menjadi kepemilikan, egoisme, atau kepentingan diri. Tetapi bila kasih berakar pada Kristus, manusia belajar mengasihi dengan lebih tulus.
Memikul Salib dan Mengikuti Yesus
Yesus juga berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Menjadi murid Yesus bukan hanya soal hadir di gereja atau mengucapkan doa. Menjadi murid berarti berani mengikuti jalan Kristus, termasuk ketika jalan itu tidak selalu mudah.
Salib dalam hidup bisa hadir dalam banyak bentuk: kesulitan keluarga, tanggung jawab pelayanan, sakit, kesalahpahaman, perjuangan ekonomi, kelelahan, atau tantangan dalam menjaga iman. Namun salib bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan manusia. Salib justru dapat menjadi tempat manusia belajar setia.
Kristus tidak meminta umat memikul salib sendirian. Ia berjalan bersama umat-Nya. Maka, salib yang dipikul bersama Kristus bukan lagi sekadar beban, tetapi jalan menuju kedewasaan iman.
Kehilangan Diri untuk Menemukan Hidup
Yesus melanjutkan, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”
Sabda ini mengajak umat melihat arti hidup dengan cara baru. Dunia sering mengajarkan bahwa hidup harus dipertahankan demi diri sendiri: demi kenyamanan, nama baik, harta, dan kepentingan pribadi. Tetapi Yesus mengajarkan bahwa hidup yang sejati justru ditemukan ketika manusia berani memberikan dirinya dalam kasih.
Orang yang hanya hidup untuk dirinya sendiri mungkin terlihat aman, tetapi hatinya bisa menjadi sempit. Sebaliknya, orang yang mau berbagi, melayani, mengampuni, dan berkorban karena Kristus akan menemukan sukacita yang lebih dalam.
Hidup yang diberikan dalam kasih tidak akan hilang. Hidup seperti itu justru berbuah.
Menyambut Sesama sebagai Menyambut Kristus
Bagian akhir Injil hari ini juga berbicara tentang menerima utusan Tuhan. Yesus berkata bahwa siapa pun yang menyambut murid-Nya, menyambut Dia sendiri. Bahkan memberi secangkir air sejuk kepada salah seorang kecil karena ia murid Kristus tidak akan kehilangan upahnya.
Ini adalah pesan yang sederhana tetapi sangat indah. Dalam Kerajaan Allah, tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih memiliki nilai besar.
Memberi perhatian kepada sesama, menyambut orang baru, membantu umat yang kesulitan, menyapa dengan ramah, mendukung pelayanan Gereja, atau memberi bantuan sederhana dapat menjadi cara nyata untuk menyambut Kristus.
Kadang umat berpikir bahwa pelayanan harus besar dan terlihat. Padahal, kasih Kristiani sering justru tampak dalam hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus.
Teladan dari Bacaan Pertama
Bacaan pertama dari Kitab Kedua Raja-Raja mengisahkan seorang perempuan Sunem yang menyambut Nabi Elisa. Ia menyediakan tempat bagi abdi Allah itu. Keramahan dan ketulusannya kemudian menjadi berkat.
Kisah ini sejalan dengan pesan Injil. Menyambut utusan Tuhan berarti membuka hati bagi karya Allah. Keramahan yang tulus tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan.
Dalam kehidupan menggereja, sikap seperti ini sangat dibutuhkan. Gereja bertumbuh bukan hanya karena bangunan atau kegiatan besar, tetapi karena umat yang saling menyambut, saling membantu, dan saling menguatkan.
Koor Lingkungan Santa Sisilia sebagai Bentuk Pelayanan
Dalam Misa Minggu ini, kehadiran Koor Lingkungan Santa Sisilia menjadi salah satu bentuk nyata pelayanan umat. Melalui nyanyian, mereka membantu umat berdoa dan memuliakan Tuhan.
Pelayanan koor bukan sekadar menyanyi. Koor adalah bagian dari liturgi. Dibutuhkan latihan, kekompakan, kesediaan meluangkan waktu, dan semangat melayani. Ketika nyanyian dibawakan dengan hati, umat dapat semakin terbantu untuk masuk dalam misteri Ekaristi.
Semangat pelayanan Lingkungan Santa Sisilia mengingatkan bahwa setiap umat memiliki cara masing-masing untuk mempersembahkan diri bagi Tuhan. Ada yang melayani lewat suara, ada yang melayani lewat kebersihan gereja, ada yang melayani lewat doa, ada yang melayani lewat dokumentasi, ada yang melayani lewat kehadiran sederhana.
Semua pelayanan menjadi berharga bila dilakukan demi Kristus.
Misa Minggu Biasa XIII di Stasi Kristus Raja Abianbase mengingatkan umat bahwa menjadi murid Kristus berarti mengasihi Dia dengan hati yang utuh, memikul salib dengan setia, dan melayani sesama dengan tulus.
Kasih kepada Kristus tidak menjauhkan manusia dari keluarga dan sesama. Justru kasih kepada Kristus membuat semua kasih menjadi lebih benar, lebih murni, dan lebih berbuah.
Semoga umat Stasi Kristus Raja Abianbase semakin bertumbuh sebagai komunitas yang menempatkan Kristus di pusat hidup, setia dalam pelayanan, dan murah hati dalam menyambut sesama.
Karena siapa yang menyambut sesama dalam kasih, ia sedang menyambut Kristus sendiri.
Sumber: Renungan berdasarkan bacaan liturgi Minggu Biasa XIII, 28 Juni 2026, dan suasana Misa Kudus di Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Abianbase yang dipimpin oleh RP. Alex Dato, SVD, dengan pelayanan koor dari Lingkungan Santa Sisilia.
















