Renungan Homili RP. Jhon Seran, SVD di Stasi Kristus Raja Abianbase
Dalam Misa Harian, Kamis 25 Juni 2026, umat Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Abianbase diajak merenungkan satu pesan iman yang sangat mendasar: menjadi murid Kristus tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi harus tampak dalam perbuatan nyata.
Misa harian tersebut dipimpin oleh RP. Jhon Seran, SVD. Melalui homilinya, umat diajak kembali melihat kedalaman sabda Yesus dalam Injil Matius 7:21-29, terutama ketika Yesus berkata:
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga.”
Sabda ini terdengar tegas. Bahkan mungkin terasa keras. Tetapi justru di dalam ketegasan itu, Yesus sedang mengingatkan umat beriman agar tidak hidup dalam iman yang hanya terlihat dari luar.
Iman Bukan Hanya Seruan
Dalam kehidupan sehari-hari, orang dapat dengan mudah mengucapkan nama Tuhan. Orang dapat berdoa, bernyanyi, mengikuti Misa, hadir dalam kegiatan Gereja, bahkan terlibat dalam pelayanan. Semua itu baik dan penting.
Namun Injil mengingatkan bahwa semua itu belum cukup bila tidak disertai dengan sikap hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.
Yesus tidak menolak doa. Yesus tidak menolak seruan kepada Tuhan. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa doa harus berbuah dalam hidup. Seruan “Tuhan, Tuhan” harus tampak dalam kasih, kejujuran, kesetiaan, pengampunan, kerendahan hati, dan tanggung jawab.
Iman yang sejati tidak berhenti di bibir. Iman yang sejati turun ke dalam tindakan.
Mendengar dan Melakukan Sabda Tuhan
Dalam homili ini, pesan Injil menjadi sangat jelas: ada perbedaan besar antara orang yang hanya mendengar sabda Tuhan dan orang yang mendengar lalu melakukannya.
Yesus mengumpamakan orang yang mendengar dan melakukan sabda-Nya seperti orang bijaksana yang membangun rumah di atas batu. Ketika hujan turun, banjir datang, dan angin melanda, rumah itu tidak roboh karena fondasinya kuat.
Sebaliknya, orang yang mendengar sabda tetapi tidak melakukannya diumpamakan seperti orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir. Ketika badai datang, rumah itu roboh dan kerusakannya besar.
Perumpamaan ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Setiap orang sedang membangun “rumah” hidupnya masing-masing: rumah iman, rumah keluarga, rumah pelayanan, rumah pekerjaan, rumah relasi, dan rumah masa depan.
Pertanyaannya: rumah itu dibangun di atas batu atau di atas pasir?
Batu Karang Itu Adalah Kristus
Batu karang dalam Injil bukan sekadar simbol kekuatan manusia. Batu karang itu adalah Kristus sendiri. Hidup yang dibangun di atas Kristus akan memiliki arah, kekuatan, dan ketahanan.
Orang yang hidup dekat dengan Tuhan tidak berarti bebas dari masalah. Ia tetap bisa mengalami hujan, banjir, dan badai. Ia tetap bisa menghadapi kesulitan keluarga, tekanan ekonomi, sakit, kekecewaan, konflik, atau pergumulan batin.
Namun bedanya, orang yang berakar pada Kristus tidak mudah roboh. Ia punya dasar yang kuat. Ia tahu kepada siapa harus kembali. Ia tahu bahwa Tuhan tidak meninggalkannya.
Iman yang kuat bukan iman yang tidak pernah diuji. Iman yang kuat adalah iman yang tetap berdiri ketika ujian datang.
Pasir Itu Jalan Pintas
Rumah di atas pasir tampak mudah dibangun. Tidak perlu menggali dalam. Tidak perlu kerja keras. Tidak perlu fondasi kuat. Dari luar mungkin terlihat cepat berdiri dan tampak bagus.
Tetapi ketika badai datang, kelemahannya terlihat.
Begitu juga hidup manusia. Kadang orang ingin hidup beriman secara instan. Ingin terlihat baik, tetapi tidak mau dibentuk. Ingin disebut pelayan, tetapi tidak mau rendah hati. Ingin dekat dengan Tuhan, tetapi tidak mau meninggalkan kebiasaan buruk. Ingin berkat, tetapi tidak mau taat.
Inilah “pasir” dalam hidup rohani: iman yang dangkal, doa yang tidak mengubah hati, pelayanan yang mencari pujian, dan hidup yang tidak sungguh-sungguh dibangun di atas kehendak Allah.
Yesus mengingatkan agar umat tidak memilih jalan pintas dalam hidup beriman.
Belajar dari Bacaan Pertama
Bacaan pertama dari Kitab Kedua Raja-Raja menggambarkan kejatuhan Yehuda dan pembuangan ke Babel. Raja Yoyakhin melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, seperti yang dilakukan ayahnya. Akibatnya, Yerusalem jatuh, harta Bait Allah dirampas, dan banyak orang dibawa ke pembuangan.
Kisah ini menunjukkan bahwa ketika manusia menjauh dari Tuhan, hidup akan kehilangan arah. Ketika pemimpin dan umat tidak lagi setia kepada kehendak Allah, kehancuran dapat terjadi.
Ini bukan hanya kisah masa lampau. Ini juga menjadi cermin bagi hidup kita hari ini.
Jika keluarga tidak dibangun di atas kasih dan kesetiaan, keluarga mudah rapuh.
Jika pelayanan tidak dibangun di atas kerendahan hati, pelayanan mudah pecah.
Jika hidup menggereja tidak dibangun di atas iman yang benar, komunitas mudah kehilangan arah.
Jika hati tidak dibangun di atas sabda Tuhan, manusia mudah terbawa arus dunia.
Karena itu, sabda Tuhan hari ini mengajak kita membangun hidup di atas dasar yang benar.
Jangan Hanya Terlihat Rohani
Salah satu godaan dalam hidup beriman adalah hanya ingin terlihat rohani. Orang bisa terlihat aktif, terlihat rajin, terlihat sibuk dalam pelayanan, tetapi hatinya belum tentu sungguh dekat dengan Tuhan.
Yesus mengingatkan bahwa pada akhirnya yang dilihat bukan hanya apa yang tampak dari luar, tetapi apakah manusia sungguh melakukan kehendak Bapa.
Ini menjadi bahan refleksi bagi semua umat. Apakah doa kita mengubah cara kita berbicara? Apakah Misa membuat kita lebih sabar? Apakah pelayanan membuat kita lebih rendah hati? Apakah iman membuat kita lebih peduli kepada sesama?
Kalau iman tidak mengubah hidup, maka kita perlu bertanya kembali: fondasi apa yang sedang kita bangun?
Iman Harus Terlihat dalam Tindakan
Melakukan kehendak Bapa tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar. Kehendak Allah sering hadir dalam tindakan sederhana sehari-hari.
Mengampuni orang yang menyakiti hati adalah kehendak Allah.
Berkata jujur adalah kehendak Allah.
Setia dalam keluarga adalah kehendak Allah.
Melakukan tugas dengan tanggung jawab adalah kehendak Allah.
Melayani tanpa mencari pujian adalah kehendak Allah.
Datang kepada Tuhan dengan hati yang tulus adalah kehendak Allah.
Menolong sesama yang membutuhkan adalah kehendak Allah.
Dengan demikian, Injil hari ini bukan hanya berbicara tentang akhir zaman atau Kerajaan Surga. Injil ini juga berbicara tentang hidup kita hari ini: bagaimana kita membangun dasar hidup yang benar di hadapan Tuhan.
Homili RP. Jhon Seran, SVD dalam Misa Harian Kamis 25 Juni 2026 mengajak umat untuk kembali kepada inti hidup Kristiani: mendengar sabda Tuhan dan melakukannya.
Ketika hujan turun, banjir datang, dan angin melanda, semoga rumah iman kita tetap berdiri.
Sebab hidup yang dibangun di atas Kristus tidak akan mudah roboh.
Sumber: Audio homili Misa Harian Kamis, 25 Juni 2026 di Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Abianbase, dipimpin oleh RP. Jhon Seran, SVD.
















