Shopping cart

No Widget Added

Please add some widget in Offcanvs Sidebar

  • Home
  • Stasi
  • Homili Romo Vian pada Minggu Biasa XII 21 Juni 2026
Stasi

Homili Romo Vian pada Minggu Biasa XII 21 Juni 2026

Jangan Takut Mengakui Kristus

Abianbase — Pada Minggu pagi, 21 Juni 2026, umat Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Abianbase mengikuti Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XII. Misa pada pagi itu dipimpin oleh Pastor Oktovianus Robertus Baunsele, SVD, atau yang akrab dikenal sebagai Romo Vian, SVD.

Dalam homilinya, Romo Vian mengajak umat untuk merenungkan salah satu pesan utama Yesus dalam Injil hari itu: “Jangan takut.”

Pesan ini terdengar sederhana, tetapi sangat kuat. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang beriman sering kali menghadapi ketakutan: takut ditolak, takut dianggap berbeda, takut kehilangan kenyamanan, bahkan takut menunjukkan identitas iman di hadapan orang lain.

Melalui Injil Matius 10:26-33, Yesus meneguhkan para murid-Nya agar tidak takut kepada manusia, tetapi tetap setia kepada Allah. Inilah pesan yang kemudian diangkat Romo Vian dalam homilinya: iman kepada Kristus harus menjadi keberanian hidup, bukan sekadar pengakuan di bibir.

Mengenal Romo Vian, SVD

Romo Vian memiliki nama lengkap Pastor Oktovianus Robertus Baunsele, SVD. Beliau adalah imam dari Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD).

Sebagai imam SVD, Romo Vian hadir dalam semangat misioner: mewartakan Sabda Allah, membangun umat, dan menghadirkan wajah Gereja yang dekat dengan kehidupan manusia. Nama beliau juga tercatat dalam berbagai kegiatan Gereja, termasuk pelayanan dan pendampingan orang muda serta misdinar.

Kehadiran Romo Vian di Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Abianbase menjadi sukacita tersendiri bagi umat. Dalam homilinya, beliau menyampaikan pesan iman dengan sederhana, tetapi mengena: jangan takut menjadi murid Kristus.

Injil Minggu Biasa XII: Jangan Takut

Bacaan Injil pada Minggu Biasa XII diambil dari Matius 10:26-33. Dalam Injil ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya agar mereka tidak takut.

Yesus tahu bahwa para murid akan menghadapi tantangan. Mereka akan ditolak, dicurigai, bahkan dianiaya. Namun Yesus menegaskan bahwa yang paling penting bukan hanya keselamatan tubuh, melainkan keselamatan jiwa.

Pesan Yesus sangat jelas: manusia bisa melukai tubuh, tetapi tidak dapat menghancurkan jiwa yang tetap setia kepada Allah.

Romo Vian mengingatkan umat bahwa pesan ini bukan hanya untuk para murid pada zaman Yesus. Pesan ini juga untuk kita hari ini. Setiap orang Katolik dipanggil untuk tidak takut menghidupi imannya, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, sekolah, masyarakat, maupun kehidupan menggereja.

Teladan Para Rasul dan Para Martir

Dalam homilinya, Romo Vian juga mengarahkan perhatian umat kepada teladan para rasul dan para martir Gereja.

Sejak awal sejarah Gereja, banyak murid Kristus yang menghadapi penderitaan karena iman mereka. Ada yang dipenjara. Ada yang disiksa. Ada yang dibunuh. Namun mereka tetap setia karena percaya bahwa Kristus tidak pernah meninggalkan mereka.

Santo Petrus, Santo Paulus, Santo Andreas, Santo Stefanus, dan para martir lainnya menjadi contoh nyata bahwa iman yang sejati tidak hanya tampak ketika keadaan aman, tetapi justru terbukti ketika manusia menghadapi ujian.

Mereka tidak takut kehilangan hidup di dunia, karena mereka percaya hidup bersama Kristus jauh lebih berharga daripada segala sesuatu.

Setiap Zaman Punya Tantangan Imannya Sendiri

Salah satu pesan yang kuat dari homili Romo Vian adalah bahwa setiap zaman memiliki tantangan iman masing-masing.

Pada masa para rasul, tantangan iman bisa berupa penganiayaan fisik, ancaman, penjara, bahkan kematian. Namun pada zaman sekarang, tantangan itu sering hadir dalam bentuk yang berbeda.

Hari ini, mungkin tidak banyak orang yang dipaksa secara langsung untuk menyangkal Kristus. Namun banyak orang mulai malu menunjukkan imannya. Ada yang malu membuat tanda salib di tempat umum. Ada yang takut dianggap terlalu rohani. Ada yang enggan aktif di gereja karena takut dikomentari. Ada yang memilih diam ketika iman dan nilai-nilai Kristiani dipinggirkan.

Tantangan iman zaman sekarang sering kali bukan pedang atau penjara, tetapi rasa malu, gengsi, tekanan lingkungan, dan keinginan untuk diterima oleh dunia.

Di sinilah sabda Yesus tetap relevan: jangan takut

Jangan Malu Menjadi Katolik

Romo Vian mengajak umat untuk berani mengakui Kristus dalam hidup sehari-hari. Mengakui Kristus tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar atau dramatis. Kadang, mengakui Kristus justru dimulai dari hal-hal sederhana. Iman bukan hanya sesuatu yang disimpan dalam hati. Iman perlu tampak dalam sikap, pilihan, perkataan, dan cara hidup.

Yesus sendiri berkata bahwa setiap orang yang mengakui Dia di depan manusia, akan diakui-Nya juga di hadapan Bapa di surga. Maka, menjadi murid Kristus berarti berani bersaksi, meskipun sederhana.

Iman adalah Bekal Jiwa

Dalam homilinya, Romo Vian juga mengingatkan pentingnya menyiapkan bekal iman.

Hidup manusia di dunia ini tidak selamanya. Banyak hal dapat dicari dan dikejar: pekerjaan, harta, jabatan, kenyamanan, nama baik, dan keberhasilan. Semua itu dapat berguna, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan hidup.

Homili Romo Vian, SVD pada Minggu Biasa XII menjadi pengingat yang kuat bagi seluruh umat Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Abianbase.

Kita diajak untuk tidak takut mengakui Kristus. Tidak takut menjadi Katolik. Tidak takut melayani. Tidak takut hidup benar. Tidak takut mempersiapkan bekal iman bagi jiwa kita.

Semoga Sabda Tuhan pada hari ini meneguhkan hati seluruh umat. Semoga kita semakin berani menjadi murid Kristus dalam keluarga, lingkungan, pekerjaan, masyarakat, dan Gereja.

Karena pada akhirnya, iman adalah harta yang paling berharga.

Jangan takut mengakui Kristus. Sebab hidup bersama Tuhan adalah tujuan sejati perjalanan iman kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait