Shopping cart

No Widget Added

Please add some widget in Offcanvs Sidebar

Berita Katolik Indonesia

Film Yohanna, Razka Robby Ertanto, Laura Basuki, Biarawati Katolik

Film Yohanna: Kisah Biarawati Katolik dan Iman yang Menjadi Tindakan

Ketika Iman Tidak Berhenti pada Doa, tetapi Bergerak Menjadi Tindakan

Dalam dunia perfilman Indonesia, kisah tentang iman Katolik, biarawati, dan pelayanan kemanusiaan masih jarang diangkat sebagai pusat cerita. Karena itu, kehadiran film Yohanna karya sutradara Razka Robby Ertanto menjadi sesuatu yang menarik untuk diperhatikan, terutama bagi umat Katolik Indonesia.

Film ini tidak hanya menghadirkan tokoh seorang biarawati Katolik sebagai karakter utama, tetapi juga membawa penonton masuk ke dalam realitas sosial di Sumba: kemiskinan, ketimpangan, pekerja anak, bantuan kemanusiaan, dan pergulatan iman di tengah situasi yang tidak mudah.

Di balik ceritanya yang berbentuk fiksi, Yohanna dibangun dari riset dan pengamatan sosial sang sutradara terhadap kehidupan masyarakat di Sumba. Dari sana, lahirlah sebuah film yang tidak sekadar ingin menghibur, tetapi juga mengajak penonton bertanya: apa arti iman bila tidak diwujudkan dalam tindakan nyata?

Seorang Biarawati di Tengah Realitas Sosial

Tokoh utama film ini adalah Suster Yohanna, seorang biarawati muda Katolik yang terlibat dalam misi kemanusiaan di Sumba. Ia meminjam sebuah truk untuk mengantar bantuan, tetapi truk tersebut kemudian hilang. Dari peristiwa itu, Suster Yohanna masuk ke dalam perjalanan yang jauh lebih berat daripada sekadar mencari kendaraan yang dicuri.

Ia berjumpa dengan dunia yang keras. Ia melihat kemiskinan. Ia berhadapan dengan anak-anak yang harus bekerja. Ia menghadapi situasi sosial yang rumit, termasuk ketidakadilan dan sisi gelap yang sering tersembunyi dari pandangan banyak orang.

Di sinilah film Yohanna menjadi kuat. Ia tidak menggambarkan iman sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan. Sebaliknya, iman justru ditempatkan di tengah realitas manusia yang nyata: luka, penderitaan, ketidakadilan, dan kebutuhan untuk bertindak.

Iman Bukan Hanya Teks

Salah satu pesan penting dari film ini adalah bahwa iman tidak cukup hanya berhenti pada kata-kata. Iman tidak cukup hanya menjadi teks, doa, atau simbol. Iman harus menyentuh kehidupan manusia.

Razka Robby Ertanto, sutradara film ini, menekankan bahwa keimanan perlu tampak dalam tindakan. Bukan hanya berdoa, tetapi juga melakukan sesuatu untuk kehidupan dan untuk orang banyak.

Pesan ini sangat dekat dengan ajaran Kristiani. Dalam iman Katolik, doa dan tindakan tidak boleh dipisahkan. Orang beriman dipanggil untuk berdoa, tetapi juga dipanggil untuk mengasihi. Dipanggil untuk hadir di gereja, tetapi juga dipanggil untuk hadir di tengah penderitaan sesama.

Suster Yohanna menjadi gambaran bahwa panggilan iman dapat membawa seseorang masuk ke tempat-tempat yang tidak nyaman. Iman kadang menuntun kita untuk melihat luka yang selama ini tidak ingin kita lihat. Iman juga menantang kita untuk bertanya: apa yang bisa saya lakukan?

Sumba: Indah, tetapi Menyimpan Pergumulan

Sumba sering dikenal karena keindahan alamnya, budaya yang kuat, dan lanskap yang memukau. Namun di balik keindahan itu, ada realitas sosial yang juga perlu diperhatikan.

Film Yohanna mencoba menampilkan Sumba bukan hanya sebagai latar eksotis, tetapi sebagai ruang hidup manusia dengan segala pergumulannya. Ada anak-anak yang bekerja. Ada masyarakat yang berjuang. Ada kemiskinan dan ketimpangan. Ada pula pergulatan antara tradisi, iman, dan realitas sosial.

Dengan cara ini, film Yohanna mengajak penonton untuk tidak berhenti pada keindahan permukaan. Kita diajak melihat manusia. Kita diajak melihat mereka yang kecil, lemah, dan sering tidak terdengar suaranya.

Bagi umat Katolik, ini menjadi refleksi penting. Gereja dipanggil untuk hadir bukan hanya di tempat yang nyaman, tetapi juga di tengah mereka yang membutuhkan perhatian.

Sinema yang Mengapresiasi Keberagaman

Hal menarik lainnya adalah bahwa Razka Robby Ertanto, seorang sutradara Muslim, mengangkat kisah seorang biarawati Katolik sebagai tokoh utama. Ketika ditanya mengenai kemungkinan tanggapan negatif karena mengangkat kehidupan biarawati Katolik di Indonesia yang mayoritas Muslim, ia justru menyampaikan bahwa respons yang diterima baik.

Ia juga menegaskan bahwa sinema Indonesia harus mengapresiasi keberagaman.

Kalimat ini sangat penting. Indonesia adalah negara yang kaya dengan keberagaman agama, budaya, bahasa, adat, dan pengalaman hidup. Maka, sinema Indonesia pun seharusnya berani menghadirkan wajah keberagaman itu.

Kisah seorang biarawati Katolik juga merupakan bagian dari wajah Indonesia. Kisah pelayanan Gereja di daerah-daerah terpencil juga merupakan bagian dari cerita bangsa. Kisah umat yang bekerja bagi kemanusiaan juga layak mendapat tempat dalam layar sinema.

Film Yohanna menjadi contoh bahwa keberagaman tidak harus dilihat sebagai jarak. Keberagaman bisa menjadi jembatan untuk saling mengenal, saling menghormati, dan saling belajar.

Biarawati sebagai Wajah Pelayanan

Dalam kehidupan Gereja Katolik, para suster atau biarawati memiliki peran yang sangat besar. Mereka sering hadir di tempat-tempat yang tidak selalu terlihat: sekolah, panti asuhan, rumah sakit, pedalaman, pusat pendampingan, karya sosial, dan pelayanan bagi mereka yang terluka.

Mereka melayani dengan kesederhanaan. Tidak selalu tampil di depan. Tidak selalu dikenal luas. Namun karya mereka sering menyentuh hidup banyak orang.

Melalui tokoh Suster Yohanna, film ini membantu penonton melihat bahwa hidup membiara bukanlah pelarian dari dunia. Sebaliknya, hidup membiara adalah cara untuk masuk lebih dalam ke dalam pelayanan. Seorang biarawati tidak hanya berdoa di kapel, tetapi juga dapat hadir di jalanan, desa, sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat di mana manusia membutuhkan kasih.

Inilah kekuatan panggilan religius: memberikan diri bagi Tuhan melalui pelayanan kepada sesama.

Pergulatan Iman yang Manusiawi

Film Yohanna juga menarik karena tidak menggambarkan tokoh biarawatinya secara terlalu sempurna atau jauh dari pergulatan manusia. Suster Yohanna digambarkan sebagai pribadi yang juga bergumul, mencari, dan menghadapi konflik batin.

Ini membuat kisahnya terasa manusiawi.

Dalam kehidupan iman, setiap orang bisa mengalami masa kuat dan masa lemah. Ada saat ketika doa terasa mudah, tetapi ada juga saat ketika iman diuji. Ada saat ketika manusia yakin, tetapi ada juga saat ketika hati bertanya.

Pergulatan seperti ini bukan tanda bahwa iman hilang. Justru dalam pergulatan, iman dapat dimurnikan. Tuhan sering bekerja bukan hanya ketika kita merasa kuat, tetapi juga ketika kita merasa rapuh.

Suster Yohanna menjadi gambaran bahwa orang yang melayani pun tetap manusia. Ia bisa lelah. Ia bisa takut. Ia bisa bingung. Namun dalam proses itu, ia tetap dipanggil untuk memilih kasih.

Iman yang Turun ke Jalan

Film Yohanna mengingatkan bahwa iman Katolik bukan hanya hidup di altar, tetapi juga turun ke jalan. Iman hadir ketika seseorang peduli kepada anak kecil yang menderita. Iman hadir ketika seseorang membela yang lemah. Iman hadir ketika seseorang tidak menutup mata terhadap ketidakadilan.

Tentu tidak semua orang dipanggil menjadi biarawati. Tidak semua orang dipanggil pergi ke daerah terpencil. Namun setiap orang Katolik dipanggil untuk bertanya: di sekitar saya, siapa yang membutuhkan kasih? Di lingkungan saya, siapa yang perlu didengarkan? Di gereja saya, pelayanan apa yang bisa saya bantu?

Iman yang hidup selalu bergerak.

Semoga kisah Suster Yohanna menginspirasi kita untuk semakin peka, semakin peduli, dan semakin berani menjadikan iman sebagai tindakan nyata.

Karena iman yang sejati tidak berhenti di hati, tetapi bergerak menjadi kasih bagi sesama.

Sumber inspirasi: SBS Indonesian, Adelaide Film Festival, dan International Film Festival Rotterdam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait