400 Tahun Menuntun Umat dalam Damai, Persatuan, dan Perjalanan Iman
Di tengah dunia yang sering terpecah oleh kepentingan pribadi, perbedaan pandangan, dan rasa egois, Gereja kembali mengingatkan umat akan satu panggilan sederhana namun sangat penting: bersatu dalam kasih Tuhan.
Seruan itu bergema kuat dalam peringatan 400 tahun kedatangan Bunda Maria Perdamaian dan Perjalanan yang Baik atau Our Lady of Peace and Good Voyage di Filipina. Devosi kepada Bunda Maria dari Antipolo ini menjadi salah satu devosi Maria yang sangat dicintai umat Katolik Filipina.
Pada 18 Juni 2026, ribuan umat hadir untuk memperingati momen bersejarah tersebut. Uskup Antipolo, Mgr. Ruperto Santos, mengajak umat Filipina untuk kembali merangkul persatuan dan kebaikan, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi tantangan perpecahan dan sikap mementingkan diri sendiri.
Bunda Maria yang Menyatukan
Dalam peringatan tersebut, Bunda Maria digambarkan sebagai ibu yang menyatukan anak-anaknya. Ketika manusia mudah tercerai-berai oleh kepentingan pribadi, Bunda Maria mengingatkan umat untuk kembali kepada kasih, kerendahan hati, dan kesetiaan kepada kehendak Tuhan.
Bagi umat Filipina, Bunda Maria dari Antipolo bukan hanya sebuah patung devosi. Ia telah menjadi tanda keibuan rohani, perlindungan, dan harapan. Banyak orang datang kepadanya membawa doa, rasa syukur, pergumulan, dan harapan akan perjalanan hidup yang aman.
Sebutan Bunda Maria Perdamaian dan Perjalanan yang Baik sangat indah. Gelar ini mengingatkan bahwa hidup manusia adalah sebuah perjalanan. Dalam perjalanan itu, umat membutuhkan damai, perlindungan, dan tuntunan Tuhan.
Bunda Maria, sebagai ibu yang setia, menuntun umat untuk berjalan menuju Kristus.
400 Tahun Perjalanan Iman
Patung Bunda Maria dari Antipolo tiba di Filipina dari Meksiko pada tahun 1626. Perjalanan panjang melintasi Samudra Pasifik itu menjadi awal dari devosi besar yang terus hidup selama empat abad.
Selama ratusan tahun, umat datang berziarah ke Antipolo. Ada yang datang untuk memohon keselamatan dalam perjalanan. Ada yang datang untuk bersyukur. Ada yang datang membawa pergumulan keluarga. Ada pula yang datang untuk mencari penghiburan dalam doa.
Devosi ini bertahan melewati zaman, perubahan masyarakat, dan berbagai tantangan sejarah. Hal ini menunjukkan bahwa iman yang hidup tidak mudah padam. Ketika suatu devosi berakar dalam hati umat, ia dapat terus menjadi sumber kekuatan dari generasi ke generasi.
Prosesi Sungai yang Mengingatkan Perjalanan Sejarah
Peringatan 400 tahun ini ditandai dengan prosesi sungai di Laguna de Bay. Prosesi tersebut menelusuri kembali perjalanan historis patung Bunda Maria dari wilayah Calamba di Laguna, melewati Pulau Talim, Binangonan, Cardona, dan Pasig, sebelum tiba di tempat ziarah Bunda Maria di Antipolo.
Prosesi ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia menjadi simbol perjalanan iman.
Patung Bunda Maria pernah menempuh perjalanan panjang dari Meksiko ke Filipina. Kini umat mengenang perjalanan itu dengan berjalan bersama dalam doa, persaudaraan, dan devosi.
Setiap perahu, setiap doa, setiap umat yang hadir, menjadi tanda bahwa Gereja adalah umat yang sedang berjalan. Gereja bukan hanya bangunan, tetapi persekutuan orang beriman yang bergerak bersama menuju Tuhan.
Bunda Maria dan Jose Rizal
Peringatan ini juga menyoroti hubungan historis antara Bunda Maria dari Antipolo dan pahlawan nasional Filipina, Jose Rizal.
Ibunda Rizal, Teodora Alonso, pernah bernazar untuk membawa anaknya berziarah ke Antipolo sebagai ungkapan syukur setelah proses persalinan yang sulit. Nazar itu kemudian dipenuhi ketika Rizal masih berusia tujuh tahun. Ia berziarah ke Antipolo bersama ayahnya, Francisco Mercado.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana devosi kepada Bunda Maria bukan hanya hidup dalam gereja, tetapi juga masuk ke dalam kehidupan keluarga. Seorang ibu membawa harapan dan syukur kepada Tuhan melalui Bunda Maria. Seorang anak kemudian tumbuh dengan ingatan akan perjalanan iman itu.
Dari sini kita belajar bahwa ziarah keluarga dapat menjadi bagian penting dari pembentukan iman. Anak-anak yang diajak berdoa, bersyukur, dan berziarah akan menyimpan pengalaman itu dalam hati mereka.
Persatuan dan Kebaikan untuk Bangsa
Pesan utama Uskup Antipolo dalam peringatan ini sangat relevan: umat diajak untuk membangun kembali persatuan dan kebaikan.
Persatuan bukan berarti semua orang harus sama. Persatuan berarti mau berjalan bersama meskipun berbeda. Persatuan berarti menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Persatuan berarti mau mendengar, memahami, dan saling menguatkan.
Sementara itu, kebaikan adalah bahasa iman yang dapat dipahami semua orang. Orang yang baik tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi menghadirkannya dalam tindakan. Ia tidak hanya berdoa, tetapi juga peduli. Ia tidak hanya mencintai Tuhan, tetapi juga menghormati sesama.
Bunda Maria menjadi teladan ketaatan, kerendahan hati, dan kesetiaan. Ia tidak menempatkan dirinya di pusat, tetapi selalu menuntun umat kepada Yesus.
Tahun Yubileum Antipolo
Tahun 2026 menjadi tahun yang sangat istimewa bagi Keuskupan Antipolo. Selain memperingati 400 tahun kedatangan patung Bunda Maria dari Antipolo, tahun ini juga menandai 100 tahun penobatan kanoniknya.
Tahun yubileum menjadi kesempatan bagi umat untuk memperbarui iman. Umat diajak untuk berziarah, berdoa, bertobat, dan memperkuat devosi kepada Bunda Maria.
Namun yubileum bukan hanya soal mengenang masa lalu. Yubileum adalah undangan untuk hidup lebih baik hari ini. Jika selama 400 tahun Bunda Maria telah menuntun umat dalam perjalanan iman, maka generasi sekarang dipanggil untuk melanjutkan warisan itu dengan hidup dalam damai, persatuan, dan kasih.
Bunda Maria dari Antipolo mengajarkan bahwa iman adalah perjalanan. Perjalanan itu perlu dijalani dengan damai, persatuan, kebaikan, dan kesetiaan kepada Tuhan.
Bunda Maria, Ibu para peziarah, tuntunlah perjalanan hidup kami menuju Kristus, sumber damai sejati.
Sumber inspirasi: UCAN Indonesia, UCA News, CBCP News, dan RVA.



