SEJARAH GEREJA KRISTUS RAJA PEJOMPONGAN














1960


Didorong oleh kerinduan untuk bersatu dengan sesama umat beriman, sedikit demi sedikit, umat yang berada di daerah Pejompongan Baru (Proyek Chusus Pejompongan) suatu daerah perumahan khusus bagi pegawai negeri dari berbagai departemen, berhimpun dan beribadat bersama. Sempat belum mempunyai gembala namun mereka mengadakan kegiatan-kegiatan pastoral.

Hingga akhirnya memiliki gembala dari paroki Theresia dan wilayah Pejompongan dan Bendungan Hilir menjadi stasi dari paroki Theresia yang saat itu Pastor de Laat, SJ sebagai pastor parokinya. Bpk. L. Pudjoatmoko yang bekerja di Depargtemen Agama yang bersama keluarganya tinggal di Jl. Danau Poso No.89 tergerak untuk mengumpulkan warga Katolik dan mengajak beribadat bersama dengan mengundang pastor paroki St. Theresia-Menteng untuk memimpin perayaan ekaristi.

Hal ini berlangsung setiap hari Minggu pukul 18.00 selama satu tahun, di rumah keluarga Bpk. Drs. C. Soetrisno di Jl. Danau Maninjau No.23 yang dihadiri oleh rata-rata 40 warga Katolik. 1961 Terbentuk IKKP (Ikatan Keluarga Katolik Pejompongan) dengan ketua Bpk. L. Poedjoatmoko dan sekretaris Bpk. R.I. Suharso yang dilanjutkan oleh Bpk. Al. Soenarto S.W. IKKP didukung oelh tokoh-tokoh seperti Bpk dan Ibu A. Oetoyo, Bpk dan Ibu Drs. C. Soetrisno, Bpk dan Ibu Ir. FX. Marsudi, Bpk dan Ibu Drs. A. Siswadji, Bpk dan Ibu Hadiprastowo, SH; Bpk dan Ibu Ben Mang Reng Say; Bpk dan Ibu A. Samadi Wignyosumitro serta muda-mudi seperti Sdr. J. Gisah dan Sdr. Sartono. Dengan bertambahnya umat, tempat ibadah pun tidak mampu lagi menampung.

Maka atas bantuan Bpk. Theo Weoseke yang saat itu Kepala RSAL Dr. Mintohardjo, umat diijinkan menggunakan aula RSAL untuk perayaan ekaristi di hari Minggu sore, juga untuk perayaan Natal dan perayaan Paskah. Keadaan ini berlangsung sekitar lima tahun. 1964 IKKP mendapat sebidang tanah dari Departemen Pekerjaan Umum seluas 1600 m2 untuk didirikan gereja berdasarkan surat Kepala Direktorat Bangunan Bpk. Ir. Sujono Sosrodarsono tertanggal 6 Maret 1964 No. D.B.11.C/1/3 sebagai tanggapan atas surat IKKP tertanggal 13 Februari 1964 No.015/II/64. Aksi pembangunan gereja pun dimulai. Panitia mulai dibentuk dengan arsitek Ir. Bian Poen bersama Bpk. Ir. F.X. Marsudi.

IKKP menggerakkan seluruh umat dalam mencari dana dengan melibatkan Wanita Katolik, Pemuda Katolik dan Paroki St. Theresia melalu berbagai kegiatan seperti bazaar, mencari donator, dsb. Pos kegiatan dipusatkan di rumah para tokoh seperti tersebut di atas. Berbagai kesulitan yang muncul seperti batas waktu mendirikan bangunan yang harus dipenuhi, munculnya pemberontakan G30S-PKI dan devaluasi uang dapat dilalui, berkat rahmat Tuhan, Pastor de Laat, SJ dan berkat perjuangan seluruh warga, pemborong J. Liem Beng Kiat dapat melanjutkan dan menyelesaikan pembangunan gereja yang berukuran 18 x 12 m itu sehingga pada perayaan Paskah tahun 1967, gedung gereja dapat dipergunakan umat.


Mei 1964

Mei 1964 Wanita Katolik Repulik Indonesia cabang Pejompongan berdiri diketuai Ibu M.H. Marsudi. 1966 IKKP membentuk Yayasan Bina Sejahtera dengan akta notaris. Diketuai oleh Bpk. P.C. Hadiprastowo, SH; yayasan ini memberi perhatian bagi anak-anak pra-sekolah. 1967 Berdiri Taman Kanak-kanak “Bina Sejahtera” yang dikelola ibu-ibu dari Wanita Katolik cabang Pejompongan. Tempat belajar mula-mula di rumah keluarga Bpk. Ir. F.X. Marsudi. Setelah gedung gereja berfungsi maka tempat belajar pindah di gereja.

Atas usaha Yayasan Bina Sejahtera, Pemda DKI menghadiahkan sebuah gedung untuk TK “Bina Sejahtera” di atas tanah yang rencananya untuk “bangunan ruang pertemuan umat” (yang sekarang ini). Karena keterbatasan tempat, yayasan tidak dapat meneruskan persekolahan sampai ke tingkat yang selanjutnya. 1968 Menjadi wilayah baru dari Paroki Kristus Salvator yang dikelola oleh pastor-pastor CICM.

Hingga tahun tersebut, kegiatan umat yang berjalan adalah :

a. Kegiatan Peribadatan Perayaan ekaristi, doa bersama, perayaan Natal dan Paskah dengan tempat yang berpindah-pindah. Awal ketika belum terbentuk lingkungan, semua kegiatan bersifat parochial. Peralatan ibadat dipusatkan di rumah kegiatan di rumah keluarga Jl. Danau Diatas no.82. Sesudah gedung gereja berdiri, maka kegiatan perayaan ekaristi dipusatkan di gereja.

b. Kegiatan di bidang pewartaan Pelajaran agama untuk anak-anak, mendatangkan suster-suster Ursulin dari biara Theresia dan umat Pejompongan. Sebelum ada gedung gereja, pelajaran dilaksanakan di rumah Bpk. L. Pudjoatmoko dan di rumah Bpk. Al. Soenarto SW.

c. Kegiatan pelayanan sosial Antara tahun 1964-1965, IKKP memperhatikan keluarga-keluarga yang mengalami kesulitan dalam situasi Negara saat itu. Dengan mengadakan kerja sama dengan Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta, IKKP setiap bulan berkeliling untuk menyalurkan bantuan sembako bagi mereka yang membutuhkan.

d. Kegiatan di bidang pendidikan Pendidikan bagi anak-anak pra-sekolah dan Taman Kanak-kanak “Bina Sejahtera”.

Sampai pertengahan tahun ini, jumlah umat berjumlah sekitar 700 orang dan dalam kurun waktu 8 tahun hingga 1960-1968, umat Pejompongan termasuk dalam wilayah Paroki St.Theresia dengan Romo De Laat, SJ sebagai pastor parokinya. Di tahun ini, atas persetujuan antara Keuskupan Agung Jakarta dengan Tarekat Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria(CICM), umat di wilayah Pejompongan, Bendungan Hilir, Petamburan, Slipi, Gelora, Palmerah, Tomang, Kota Bambu, Kemandoran, Kemanggisan, Rawa Belong dan Kebon Jeruk; dilepaskan dari pelayanan pastor paroki St.Theresia.


Awal Oktober 1968


Menjadi paroki tersendiri yang dilayani oleh pastor-pastor tarekat CICM dengan dua pusat peribadatan yaitu Pejompongan dan Slipi yang kemudian oleh Mgr.A.Djajasepoetra, SJ. diresmikan menjadi Paroki Kristus Salvator. Sebagai pastor pertamanya : Clemens Schreus, CICM dilanjutkan oleh pastor Jan Gerrits, CICM. Mereka berdua tinggal di Jl.Bendungan Asahan No.30.

Kemudian berturut-turut dilayani pastor Hugo Seis, CICM dan pastor A.Goodefroy,CICM. Pada September 1971, pastor Piet van der Krabben,CICM hadir menggantikan pastor A.Goodefroy,CICM. 24 Mei 1972 Paroki Kristus Raja resmi berdiri dengan ketetapan Bapak Uskup Mgr.Leo Soekoto, SJ No. 269/B.5-2/72 bernama Badan Pengurus Gereja dan Dana Papa Gereja Kristus Raja Pejompongan dengan pastor pertamanya Pastor van der Krabben, CICM, penulis Agustinus Harlan Panggabean, bendahara Agustinus Surjasaputra dan anggota Bp.Ir.F.X. Marsudi dan Bp.Jacob Utama.


24 Mei 1972 - September 1985


Jumlah umat kurang dari 800 orang, terkecil kedua di KAJ. Pertambahan umat melallui baptisan baru, pindahan paroki lain dan mahasiswa yang menyewa kos.

Pembentukan lingkungan menjadi 12 yaitu :
lingkungan Mgr.Soegyopranoto, lingkungan St.Maria, lingkungan St.Yusuf, lingkungan St.Yohanes, lingkungan St.Thomas, lingkungan St.Angela Merici, lingkungan St.Paulus, lingkungan St.Theresia, lingkungan St.Antonius, lingkungan St.Andreas, Lingkungan St.Fransiskkus Xaverius dan lingkungan St.Veronika. Pada 3 November 1975 dilakukan serah terima kepengurusan dan pengalihan tanah PCP ke PGDP.

Dari Bp.A.Oetoyo kepada pstor Piet van der Krabben,CICM. Sejak itu IKKP resmi dibubarkan. Mulailah dibangun lebih bagus rumah tinggal pastor, koster dan gedung gereja. Dalam pelayanan pastoral juga terus dikembangkan lewat kegiatan pewartaan, liturgi (pembentukan koor St.Caecilia.






29 Oktober 1975


Dibentuk koor anak “Toba Singer” dan kelompok putra altar St.Tarsisius), pelayanan sosial (pembentukan “Dana Kematian” bekerja sama dengan Perkunpulan St.Yusuf, pembentukan Seksi Sosial Lingkungan tahun 1976), bidang pendidikan (SD dan SMP Strada di Petamburan).

Pada September 1985 pastor Piet van der Krabben,CICM mengakhiri tugasnya di Paroki Kristus Raja Pejompongan. 1 Oktober 1985 – 1 Juli 1989 Penggembalaan dilanjutkan oleh pastor Michel H.Mingneau,CICM.

Peningkatan pelayanan yaitu pengembangan kegiatan Legio Maria (Legio Mariae presidium Bintang Timur disahkan 1 September 1986), warta paroki lewat penerbitan GEMA, Koperasi simpan pinjam bersama Bp.J.Sumardiono dan Bp.Suyarto, membeli rumah untuk pastoran di Jl.Danau Buyan No.25, kunjungan pastoral hingga 1 Juli 1989.







1 Juli 1989-22 November 1992


Pastor Michel H.Mingneau,CICM digantikan pastor Tjeerd Berkencosch yang memantapkan langkah gembala sebelumnya dengan penuh perhatian pada : memantapkan usaha pastoral yang ada, pengadaan computer baru untuk GEMA, dan menyelesaikan penyediaan sarana pertemuan umat, yaitu mengintegrasikan TK Bina Sejahtera dengan Perkumpulan Strada pada tahun 1991. 22 November 1992 – 1997 Pada 22 November 1992, datang gembala baru yaitu pastor Raymond Stock,CICM.

Beliau memberi perhatian pada organisasi paroki :
1. Mengadakan rapat dewan paroki harian dan pleno sebulan sekali
2. Mendampingi Seksi-seksi pada setiap rapat rutinnya dan memotivasi semangat berkegiatannya. Untuk koperasi terkumpul modal Rp 28 juta
3. Memekarkan seksi pewartaan menjadi seksi katekese, seksi bina iman dan seksi kerasulan kitab suci. Pada Juli 1993 dibentuk seksi kerasulan keluarga untuk menangani kursus persiapan perkawinan
4. Menertibkan pendataan umat

5. Mengatur kembali lingkungan sesuai Pedoman Kerja Dewan Paroki KAJ
6. Memperbaharui ruang pertemuan dari bekas TK Bina Sejahtera.
7. Mempercantik gedung gereja dengan membangun gua Maria bekerja sama dengan Bp.Ir.Sudaryoko
8. Memperhatikan Lansia dan orang sakit .
9. Mengembangkan iman umat dengan pendalaman iman di lingkungan-lingkungan. Sampai tahun ini jumlah umat sekitar 1.436 orang. Baptisan baru rata-rata tiap tahun 66 orang, dari luar paroki rata-rata 44 orang.

























































































































































Romo Victorius Rudy Hartono Lahir di Jakarta,
Tahbisan Imam 16 Agustus 1999 di Paroki
St. Aloysius Gonzaga Cijantung Jakarta.


























Pastor Jacobus Tarigan (Pastor Jack)

Lahir di Deli Tua (Sumatera Utara) 01 Juni 1955. Sebagai seorang Imam Pastor Jack menempuh pendidikan dan mendapat predikat Sarjana Filsafat dan Teologi dari Universitas ( Sebelumnya IKIP ) Sanata Dharma, Yogjakarta Jurusan Filsafat dan Teologi pada tahun 1983.



DONOR DARAH



DONOR DARAH
http://www.pmibali.or.id/transfusi-darah/tata-cara-donor-darah/











Dipersatukan - Diteguhkan - Diutus


PENGANTAR
Sejak ditetapkannya tahun 2012 sebagai “Tahun Ekaristi” telah direncanakan berbagai aktivitas yang disemangati  oleh Ekaristi, dimana salah satunya adalah Katekese Liturgi.  Bentuk Katekese Liturgi yang diadakan di tingkat Dekenat Jakarta Pusat adalah Katekese Liturgi melalui Homily Pastor-pastor yang memimpin Perayaan Ekaristi setiap Minggu Pertama dalam Bulan. Team Liturgi Dekenat Jakarta Pusat membuat  bahan renungan yang dapat dipergunakan dalam Homily para Pastor, yang akan di mulai pada awal bulan Maret 2012.


Ekaristi Menyemangati Hidup Umat Beriman
Liturgi merupakan perayaan iman umat beriman,  oleh karena itu sangat penting jikalau seluruh umat  mengetahui dan mengenal seluk beluk liturgi.  Dengan demikian umat dapat mempraktekkan dan menghayati liturgi dengan berperan serta secara aktif.


1. Apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang Ekaristi?

Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa Yesus Kristus sungguh hadir, real dan substansial di dalam Ekaristi, yaitu Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya di dalam rupa roti dan anggur (KGK 1374). Pada saat imam selesai mengucapkan doa konsekrasi – “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah Darah-Ku”,

Kuasa Roh Kudus mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya.  Kejadian ini disebut sebagai “transubstansiasi”, yang mengakibatkan substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus (KGK 1376). Maka substansi roti dan anggur sudah lenyap, digantikan dengan kehadiran Yesus.


Yesus hadir seutuhnya di dalam roti itu, bahkan sampai di partikel yang terkecil dan di dalam setiap tetes anggur. Pemecahan roti bukan berarti pemecahan Kristus, sebab kehadiran Kristus utuh, tak berubah dan tak berkurang di dalam setiap partikel. Dengan demikian kita dapat menerima Kristus di dalam rupa roti saja atau anggur saja, atau kedua bersama-sama (KGK 1390). Dalam setiap hal ini, kita menerima Yesus yang utuh di dalam sakramen.

Karena Yesus sungguh –sungguh hadir di dalam Ekaristi, maka kita memberi hormat di depan tabernakel, kita berlutut dan menundukkan diri sebagai tanda penyembahan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Gereja memperlakukan Hosti Kudus dengan hormat, dan melakukan prosesi untuk menghormati Hosti Suci yang disebut Sakramen Maha Kudus, dan mengadakan adorasi di hadapan-Nya dengan meriah (KGK 1378).


Kehadiran Kristus di dalam Ekaristi bermula pada waktu konsekrasi dan berlangsung selama rupa roti dan anggur masih ada (KGK 1377), maksudnya pada saat roti dan anggur itu dicerna di dalam tubuh kita dan sudah tidak lagi berbentuk roti, maka itu sudah bukan Yesus. Jadi kira-kira Yesus bertahan dalam diri kita (dalam rupa hosti) selama 15 menit. Sudah selayaknya kita menggunakan waktu itu untuk berdoa menyembah-Nya, karena untuk sesaat itu kita sungguh-sungguh menjadi tabernakel Allah yang hidup! Dengan kita menerima hosti dan menyadari Yesus yang hadir dalam rupa hosti,  Yesus mengubah diri dan iman kita. Hosti menguatkan kita,  memancarkan sinar terang dari Allah terpancar dari wajah orang itu.


Kristus sendiri yang mengundang kita untuk menyambut Dia dalam Ekaristi (KGK 1384) dan karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang agung dan kudus ini, dengan melakukan pemeriksaan batin. Karena Ekaristi itu sungguh-sungguh Allah, maka kita tidak boleh menyambut-Nya dalam keadaan berdosa berat. Untuk menyambut-Nya dengan layak kita harus berada dalam keadaan berdamai dengan Allah. Jika kita sedang dalam keadaan berdosa berat, kita harus menerima pengampunan melalui Sakramen Tobat sebelum kita dapat menyambut Komuni Kudus (KGK 1385)


2. Keutamaan Ekaristi disebabkan karena di dalamnya terkandung Kristus sendiri Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG 11) karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri (KGK 1324). Pada perjamuan terakhir, pada malam sebelum sengsara-Nya, Kristus menetapkan Ekaristi sebagai tanda kenangan yang dipercayakan oleh Kristus kepada mempelai-Nya yaitu Gereja (KGK 1324). Kenangan ini berupa kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus yang disebut sebagai Misteri Paska, yang menjadi puncak kasih Allah yang membawa kita kepada keselamatan (KGK 1067). Keutamaan Misteri Paska dalam rencana keselamatan Allah mengakibatkan keutamaan Ekaristi, yang menghadirkan Misteri Paska tersebut, di dalam kehidupan Gereja (KGK 1085)


3. Ekaristi dan artinya
Ekaristi berasal dari bahasa Yunani “ Eucharistia “ artinya “syukur”.Ekaristi adalah kurban pujian dan syukur kepada Allah Bapa, di mana Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah Bapa untuk segala kebaikan-Nya di dalam segala sesuatu: untuk
Pen ciptaan, penebusan oleh Kristus dan pengudusan.
Kurban pujian ini dinaikkan oleh Gereja kepada Bapa melalui Kristus: oleh Kristus, bersama Dia dan untuk diterima di dalam Dia (KGK 1359-1361).
Ekaristi merupakan sumber segala rahmat untuk sarana sakramen lainnya.  Ini semua terjadi karena rahmatNya.
Rahmat Allah mengubah manusia menjadi kudus dan sempurna.  Peristiwa penyelamatan manusia melalui peristiwa penderitaan Yesus ( disalibkan,  wafat dan kebangkitan ).  Yesus memberikan rahmatNya yang besar untuk seluruh manusia.


Yoh 15 : 5 : Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-Nya.   
Kehendak Tuhan pada kita agar manusia menjadi kudus dan sempurna. Menjadi kudus :  berkembang di dalam kasih karena Allah itu kasih maka serupa dengan Allah (=Kristus). Allah yang berinisiatif dulu untuk menyelamatkan kita dan menjadi kudus supaya menjadi anak Allah



Berdoalah sesering mungkin, karena doa mengubah segala-galanya

Cara-cara mencapai " Kerendahan Hati "

- Berbicara sedikit munkin tentang diri sendiri.
- Uruslah persoalan-persoalan pribadi.
- Hindari rasa ingin tahu.
- Janganlah mencampuri urusan orang lain.
- Terimalah pertentangan dengan kegembiraan.
- Jangan memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain.
- Terimalah hinaan dan caci maki.
- Terimalah perasaan tak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah.
- Mengalah terhadap kehendak orang lain.
- Terimalah celaan walaupun anda tidak layak menerimanya.
- Bersikap sopan dan peka, sekalipun seorang memancing amarah anda.
- Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai.
- Bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat, walaupun anda yang benar.
- Pilihlah selalu yang tersulit.

** Ibu Teresia **