***** Sabtu , 22 September 2018 Pkl.17.30 *** Minggu, 23 September 2018 Pkl.07.00 - Pkl.09.00 Misa Hari Minggu *** Sunday, 23th September 2018 at 11.30 AM English Mass ****

GEREJA KRISTUS RAJA MENJADI "OASE" PERTEDUHAN JIWA













Gereja Kristus Raja

Adalah salah satu Gereja Katolik. Terletak di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta khususnya tergabung dalam wilayah dekenat Jakarta Pusat. Gereja Kristus Raja didirikan sejak tahun 1972 yang sejak awal dikelola oleh Misionaris Kongreasi Hati Maria Tak Bernoda (CICM). Baru pada tahun 2004 paroki Kristus Raja diserahkan kepada imam-imam diosesan. Sejak awal sampai saat ini sudah terdapat 8 pastor yang pernah berkarya (4 pastor- CICM dan 4 pastor projo). Maka genaplah 40 tahun Paroki Kristus Raja pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Minggu 25 November 2012.


Paroki Kristus Raja adalah bagian dari anggota Tubuh Kristus yang masih terus berjuang menuju kesempurnaan hidup seperti Allah Bapa adalah sempurna. Maka dengan semangat Caritas et Servitio (Kasih dan Pelayanan), marilah kita bertekad untuk semakin setia kepada Kristus Raja sebagai pelindung paroki; menjadi teladan dan semakin berbakti kepada masyarakat khususnya yang miskin dan papa seperti Kristus yang selalu setia kepada seluruh umatnya sampai akhir zaman. Sesuai dengan tema perayaan syukur Hari Ulang Tahun Gereja Kristus Raja : “Kesetiaan Kristus Imam Agung, Teladan Umat Beriman”.


VISI
Menjadi pesekutuan umat yang dinamis dan seimbang dalam iman, harapan dan kasih.

MISI
- Meningkatkan kehidupan di lingkungan-lingkungan dan kelompok-kelompok kategorial dalam membangun komunitas basis.
- Meningkatkan pengetahuan dan penghayatan iman, melalui penyegaran iman yang berkesinambungan.
- Meningkatkan semangat keterbukaan akan pembaharuan dalam mewujudnyatakan habitus baru. (Habitus berasal dari- bahasa Latin yang berarti kebiasaan)
- Meningkatkan keseimbangan antara doa, kasih dan karya dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.

GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA "OASE" Di TENGAH KEGERSANGAN KOTA



GEREJA “DAUN” KRISTUS RAJA - OASE PERTEDUHAN JIWA

Perkenankanlah kami umat-Mu mempersembahkan sebuah Gereja, yang sederhana, teduh, agung, indah dan gagah bagi Putra-Mu Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja. Sebuah rumah perteduhan bagi jiwa-jiwa yang letih lesu dan berbeban berat untuk mendapatkan kesegaran, bagaikan Oase yang memberikan kesejukan di tengah kegersangan kota.

I Wayan Winten, seniman beragama Hindu.

Karya : Pohon Salib Kristus, Patung Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria.
Pohon Salib Kristus merupakan salah satu karya paling unik yang terdapat di Gereja Kristus Raja, Pejompongan. Dibuat dari sebuah batang pohon jati tua yang sudah berusia ratusan tahun dengan ketinggian 8 meter dan di dalamnya diukir Patung Kristus dengan ekspresi hampir wafat, tidak lazim seperti salib pada umumnya. I Wayan Winten, sang seniman, beberapa kali mengalami “taksu” secara spiritual atas karyanya. Taksu sebuah filosofi Bali, secara sederhana berarti enerji yang menghantarkan kita pada sebuah kesaktian. Bukan enerji yang datang begitu saja, melainkan datang lewat ketekunan dan pengabdian sungguh-sungguh. Mengutip komentar Bapak Shindu Hadiprana : “Sesuatu yang berawal dari Tuhan, bila diberdayakan tanpa pamrih, pasti akan menjadi berkat terbesar dan karya terbesar.”


Sebuah pohon besar yang kokoh tidak mungkin berdiri tanpa akar-akar yang kokoh, batang yang menyangga, ranting-ranting dan dedaunan yang mendukung kehidupannya. Begitu pula dalam Paroki Kristus Raja yang baru. Ada banyak sekali akar-akar, ranting dan dedaunan yang menyangga tegaknya gereja ini sehingga terlihat megah dan teduh, yaitu berupa umat-umat yang mau berkorban serta peduli dengan kehadiran gereja baru. Mereka yang meluangkan segenap tenaga dan pikiran dan berhasil mengalahkan egonya untuk terjun langsung dalam kegiatan sosial pembangunan gereja Kristus Raja yang baru. Yang menyerahkan diri mereka untuk diterpa badai pro dan kontra akan berdirinya sebuah bangunan megah ditengah kemajemukan masyarakat Jakarta, khususnya warga Pejompongan.


Doa
Gereja yang kita miliki sekarang adalah jawaban atas doa yang tak kunjung henti dari kita semua. Dalam doa, manusia menyadari keterbatasannya bahwa tidak semua hal dapat dikerjakan sendiri oleh tangan manusia. Dan sungguh nyatalah iman kita bahwa hal yang tidak dapat dikerjakan manusia, dikerjakan oleh Allah.“Do your best and He shall takes the rest!!”

.

Banyak hal yang agak tidak mungkin, menjadi mungkin karena kehadiranNya. Awalnya muncul sejumlah keraguan, tapi berakhir dengan keyakinan. Rasa takut terkalahkan oleh rasa aman dalam perlindungan kasihNya. Inilah buah doa yang kini kita tuai dan kita syukuri. Bahkan, buah doa itu tampil dengan cara cara yang luar biasa, mengena untuk kita dan mereka semua yang berdoa dan ambil bagian dalam pembangunan rumahNya ini.


Cerita berikut dapat menjadi contohnya :

“Beberapa bulan yang silam, seorang tukang bangunan pernah secara pribadi datang kepada saya. Saking segannya
berjumpa dengan seorang romo, ia tidak berani datang ke pastoran dan justru menunggui saya sehabis misa harian di atas jembatan dekat gereja hanya untuk mengucapkan terima kasih dan ucapan syukur yang mendalam. Atas apa? Atas doa yang dikabulkan. Ternyata saat acara tumpengan bersama dengan para tukang bangunan pasca pengecoran basement, ia mengingat betul doa saya yang salah satunya ditujukan untuk kerukunan hidup rumah tangga pada tukang. Dan menurut kisahnya, saat itu ia hampir empat (4) bulan lamanya tidak lagi berbicara dengan istrinya: rumah tangganya di ambang perpecahan. Namun beberapa jam setelah doa bersama dan tumpengan, tak diduga, istrinya di kampung halaman kembali menghubungi dia, dan kini rumah tangga mereka kembali harmonis. Tak henti hentinya ia memegang tangan saya, menundukkan kepala berulang kali dan mengucapkan terima kasih atas doa yang dikabulkan tersebut. Saya trenyuh dan terharu. Dan saya yakin bahwa inilah buah dari doa. Inilah karya Tuhan yang luar biasa bagi mereka yang ikut membangun rumahNya”.


PEMIMPIN GEREJA KRISTUS RAJA

Pastor Kepala

Pastor Jacobus Tarigan (Pastor Jack)

Lahir di Deli Tua (Sumatera Utara) 01 Juni 1955. Sebagai seorang Imam Pastor Jack menempuh pendidikan dan mendapat predikat Sarjana Filsafat dan Teologi dari Universitas ( Sebelumnya IKIP ) Sanata Dharma, Yogjakarta Jurusan Filsafat dan Teologi pada tahun 1983.

BELAJAR MENGAJAR
Setelah hampir dua tahun menjalankan tugas pelayanan sebagai Pastor Rekan di Paroki Santa Anna, Duren Sawit, Jakarta Timur, Pastor Jack berkesempatan melanjutkan studi di Universitas Gregoriana, Roma, mengambil jurusan Teologi Spiritualitas.

Pastor Jack belajar dengan baik dan menikmati hari-harinya sehingga pastor Jack berhasil lulus dengan predikat " Summa cum laude" dengan pujian tertinggi dan mendapatkan gelar Licentiat (S2) dari Universitas tersebut pada tahun 1988.
Pastor Jack menulis tesis Guida e Consiglio Pastorale Delle Coppie Irregolari Nel Luce Adhoratio Apostolica; Familiaris Consortio ( De Familiae Christianae Muneribus in Mundo hujus temporis) ; Acta Apostolicae Sedis (AAS) (1982) 81-191. (Pendekatan pastoral terhadap keluarga-keluarga retak dalam terang dokumen Familiaris Consortio)
Kembali ke tanah air, Pastor Jack langsung mendapatkan tugas sebagai Sekretaris Komisi Kerasulan Awam Konferensi Indonesia (KWI) dan sebagai Moderator Komisi Kerasulan Awam Konferensi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) tahun 1988-1998. Pastor Jack adalah orang yang suka berbagi ilmu. Sejak menjadi mahasiswa Filsafat dan Teologi pada Seminari Tinggi St.Paulus, Yogjakarta, Pastor Jack sudah mengajar pada Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Pastor Jack pernah mengajar Agama Katolik di SMA Santa Maria, Yogjakarta (1981-1982), juga memberi kuliah Agama Katolik pada Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (1982), serta di Universitas Katolik Atma Jaya, Yogjakarta (1981-1983).

Sejak 1980 sampai saat ini , Pastor Jack menjadi dosen Matakuliah Pendidikan Kepribadian (MPK) pada Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya, Jakarta. Selain itu sejak 2005 sampai sekarang menjadi dosen Luar Biasa Mata Kuliah Liturgia pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta
Tahun 1989-1990 mengampu Matakuliah: Analisis dan Pengubahan Tingkah Laku (APTL) pada FKIP Unika Atma Jaya, Jakarta. Pada tahun 1990-1997 mengajar Logika di LPK Tarakanika, Jakarta dan tahun 2000-2001 menjadi dosen Logika pada Asekma Don Bosco, Jakarta. Itulah Pengalaman Pastor Jack dalam belajar mengajar.

KARYA PASTORAL
Sebagai sorang gembala umat, Pastor Jack juga menjadi :
Pastor Rekan di Paroki Santo Ignasius Loyola, Jl.Malang, Jakarta Pusat (1989-1992)
Pastor Kepala Paroki Santo Ignasius Loyola, Jl.Malang, Jakarta Pusat (1992-1996)
Pastor Rekan di Paroki Santa Perawan Maria Ratu, Blok Q Jakarta Selatan (1996-1997)
Pastor Kepala Paroki Santo Bonaventura, Pulomas, Jakarta Timur (1 Juli 1997-Mei 2000)
Pastor Kepala Paroki Santo Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara ( Mei 2000-September 2001)
Pastor Kepala Paroki Santo Aloysius Gonzaga, Cijangtung, Jakarta Timur (September 2001-Agustus 2005)
Pastor Paroki (pertama) Santo Matias Rosul, Kosambi Baru, Jakarta Barat ( Agustus 2005-Januari 2009)
Pastor Kepala Paroki Santo Gabriel, Pulogebang, Jakarta Timur (Februari 2009-Januari 2015)
Pastor Rekan Paroki Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara (1 Januari 2015-15 April 2016)
Pastor Kepala Paroki Kristus Raja, Pejompongan, Jakarta Pusat (15 April 2016- sampai sekarang)

PENGALAMAN PASTOR JACK
Pernah menjadi:
Deken pada Dekenat Jakarta Pusat (1993-1996)
Deken pada Dekenat Jakarta Timur (1997-1999)
Deken pada Dekenat Jakarta Barat (Febr. 2007-Jan 2009)
Terdaftar sebagai Anggota Dewan Iman KAJ (1997-2008)
Koordinator Ongoing Formation Imam-imam KAJ (1998-2001)
Sekretaris Unio KAJ (1991-1998)
Ketua Unio KAJ (1998-2002)

Dalam tingkat Nasional:
Bendahara Unio Indonesia (1999-2001)
Anggota Komisi Karya Misioner KWI (2007-2013
Anggota Pengurus Inti Komisi Liturgi KWI (Jan.2007-2013)
Pengurus Inti Majalah Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (2007-sekarang)
Ketua II Yayasan Hidup Katolik, Keuskupan Agung Jakarta (2007-2012)

KARYA TULIS
Pastor Jack juga suka menulis dan menerjemahkan beberapa buku yaitu:
* 1991 Penyembuhan melalui Perayaan Ekaristi. Jakarta: Obor
(dari buku: Robert Grandis SJ.1988 Healing Through the Mass)
* 1995 Spiritualitas Awam Zaman Sekarang Jakarta: Obor
(dari buku: Jess S. Brena SJ 1988 Lay Spirituality Today Taipe, Taiwan Volunteer Lay Apostles Promotion and Training Center)
* 1995 Doa Bersama Mohon Penyembuhan, Jakarta Obor.
* 2006 Dari Keluarga untuk Gereja. Jakarta; Grasindo
* 2008 Religiositas, Agama dan Gereja Katolik.
* 2008 Jakarta: Grasindo Cetakan kedua;
* 2011 Ritus Kehidupan, Jakarta Cahaya Pineleng;
* 2011 Memahami Liturgi, Jakarta Cahaya Pineleng
* 2011 Allah Mencintai Manusia, Jakarta Obor;
* 2012 Mempertimbangkan Salah Kaprah dalam Liturgi, Jakarta Cahaya Pineleng

Beberapa artikel Pastor Jack pernah mengisi majalah Komisi Liturgi KWI: Liturgi Sumber dan Puncak Kehidupan. Majalah Mingguan hidup. Majalah Respons, Jurnal Etika Sosial Unika Atma Jaya, Jakarta.

Selain hidup menggereja, melalui bidang yang Pastor Jack tekuni yaitu mengajar maka Pastor Jack berhasil mendapatkan predikat Penatar Tingkat Nasional/Manggala Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila P4 berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 220/M Thaun 1998.

Tugas perutusan diterima pertama kali oleh Rasul Petrus dari Tuhan Yesus yang kemudian terus berkembang ke seluruh penjuru dunia selama berabad-abad. Pastor Jack termasuk seorang yang menerima tongkat estafet itu dari Rasul Petrus. Namun Pastor Jack merasa belum banyak memberi kepada Gereja, bangsa dan negara. Namun setidaknya Pastor Jack terus ingin berkarya dan bekerja selama hayat dikandung badan. Doa Anda sekalian adalah penyemangat hidup Pastor Jack!

Sumber : Warta RC edisi 51 Tahun IX/17 April 2016 (Majalah Mingguan - Gereja Regina Caeli)


Pendidikan Karakter

" Boleh jadi, sekolah dan orangtua telah tercekik mentalitas hedonisme, materialistisme, egoisme, konsumerisme, dan lebih ngeri lagi mekanisme pasar"

HARI ini dengan sedih kita menyaksikan para murid di sejumlah Sekolah Katolik. Dari pagi sampai sore para murid berada di sekolah. Mereka dud uk, mendengar, dan mencatat pelajaran. Sebagai wasit, guru menetapkan manakah jawaban
benar atau salah. Sebagai hakim, guru memberi sanksi atas tingkah laku yang menyimpang. Sebagai konselor, guru memberi nasehat-nasehat moralistis
bagaikan nabi yang tak bersalah. Para murid harus mendapat nilai tinggi agar orangtua senang dan bangga dengan anaknya. Para murid dijejali banyak pelajaran agar tampil hebat di mata orangtua; diadakan banyak kegiatan ekstra agar orangtua memberi sumbangan besar; dilaksanakan "studytour" ke luar negeri agar di mata
masyarakat dikenal sebagai sekolah favorit dan elitis.

Guru melaksanakan apa saja demi pesanan dan bayaran orangtua. Peduli amat dengan pendidikan karakter. Tanpa sadar, sekolah dikuasai gaya berpikir bisnis yang berorientasi pada selera pasar. Pemilik dana mengatur guru dan bukan sebaliknya. Mau ke mana sekolah yang mengatasnamakan "Katolik"? Sudah menjadi "... ciri agama-agama besar bahwa para pendiri agama-agama itu membukakan pintu roh bagi semua orang dan bahwa kemudian ulamaulamanya berhasil membiarkan pintu itu terbuka
dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya memungut biaya masuk," (Everett Reimer dan M. Soedomo. 1987. Sekitar Eksistensi Sekolah). Kritik terhadap sekolah telah disampaikan banyak pemikir, antara lain Ivan Illich, Everett Reimer, Paulo Freire dan di Indonesia, Romo YB.Mangunwijaya.

Namun, kritik itu menguap dan lenyap begitu saja. Tetap saja kepada murid dijejali dengan banyak mata pelajaran. Pendidikan "karenanya .menjadi sebuah kegiatan menabung, di mana 'para" murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya''. Yang, terjadi bukanlah proses komunikasi tetapi guru menyampaikan pernyataan-pernyataan dan
mengisi tabungan yang diterima, dihafal dan diulangi lagi dengan patuh oleh para murid. Inilah konsep pendidikan gaya bank;' (Paulo Freire. 1984.Pendidikan Kaum Tertindas). Apa yang terjadi? Para murid pandai di bidang ilmu pengetahuan tetapi miskin karakter.

Begitu melihat orang jatuh tertabrak motor di jalan raya, para murid itu itu seperti orang Levi, ia melihat dan pergi, tergesa-gesa ke sekolah karena hari ini ada ulangan pelajaran agama tentang "Orang Samaria yang murah hati," (Luk 1O:25-37)
Rupanya dewasa ini kita tak bisa berharap terlalu banyak pada sekolah dan orangtua untuk membina pendidikan karakter: disiplin, kejujuran, keadilan, murah hati, semangat kesederhanaan, solidaritas, gotong royong, kerendahan hati, belas kasih, dan terlebih pembinaan suara hati. Boleh jadi, sekolah dan orangtua telah tercekik mentalitas hedonisme, materialistisme, egoisme, konsumerisme, dan lebih ngeri lagi mekanisme pasar.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai alternatif? Kita menghidupkan kembali peranan pendidikan "asrama" model Realino. Realino adalah nama bekas asrama mahasiswa di Yogyakarta yang dikelola imam Serikat Yesus (1952-
1990). Asrama semacam itu boleh disebut juga"Campus Ministry". Kita membangun asrama bukan hanya sebagai semacam rumah kosoPara siswa dan mahasiswa yang hidup dalam asrama, bimbingan imam bruder dan suster, telah memberi hasil nyata. Banyak awam katolik menjadi garam dan pelita di temp at kerja dan profesinya, dari RT,RW, kelurahan, kabupaten, provinsi sampai tingkat nasional. Dalam asrama ada disiplin waktu belajar, berolah raga, berkesenian, waktu untuk Misa dan berdoa, renungan, dan saat-saat hening. Justru pada saatsaat hening itulah perlahan-lahan bersemi suara hati. Dalam asrama semacam itu, para siswa dan mahasiswa menghayati Bhinneka Tunggal Ika, kerjasama, diskusi, dan dialog. Maka dari itu, asrama atau "Campus Ministry" itu bukan rumah kos murah, tapi wadah pendidikan karakter Kristiani yang
dibimbing orang-orang yang memang kompoten.

Nah sudahlah, tak perlu lagi kita diskusi panjang lebar tentang sekolah Katolik. Hari ini kita harus mendirikan asrama-asrama Katolik yang bermutu, boleh disebut "Campus Ministry" atau apapun namanya. Asrama atau "Campus Ministry" itu harus berorientasi pada mutu, berdaya tahan, dan dibanggakan .

Kutipan dari majalah Hidup 14 Januari 2018

Liturgi: Sadar dan Berbuah

Sadar dan Berbuah

DEWASA ini di paroki-paroki, umat semakin berpartisipasi aktif dalam perayaan liturgi, khususnya Misa hari Minggu.Umat Lingkungan dan komunitas kategorial secara bergilir melaksanakan tugas pelayaan seperti ikut dalam paduan suara, lektor, pemazmur, dan penyambut jernaat, Tentu saja dalam perayaan liturgi, semua harus turut terlibat aktif berdoa dan ikut bernyanyi. Sementara kita hadir dalam perayaan liturgi dan mendapat tugas pelayanan yang harus kita berikan kepada jemaat, itu tentu saja baik. Akan tetapi "melakukan sesuatu untuk jemaat" bukan yang utama, melainkan kehadiran dalam perayaan liturgi. Kehadiran pribadi dalam sebuah perayaan liturgi merupakan pelayanan yang paling utama (Henry Noumen). Bunda Gereja "sangat menginginkan, supaya semua orang beriman dibimbing ke arah keikutsertaan yang sepenuhnya, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi" (sc, 14).

Namun dernikian,partisipasi aktif menjadi liturgi dirayakan dengan penuh kesadaran. Kehidupan modern ditandai dengan otomatisme. Lihat saja banyak hal dilaksanakan secara otomatis: di rumah, di kantor, lalu lintas, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, dan lain-lain, yang semua hanya dengan tekan tombol saja, terjadilah apa yang kita inginkan. Boleh jadi sikap otomatis ini mempengaruhi ketika kita merayakan liturgi. Secara otomatis begitu saja kita melaksanakan kewajiban hari Minggu, ikut-ikutan mendaraskan rumus-rumus doa yang bahkan sudah dihafal, menyanyikan lagu-lagu yang sudah biasa asal saja enak melodinya-peduli amat dengan makna syairnya. Semua umat berlutut,berdiri dan membungkuk, maka kita pun ikut-ikutan juga.

Kedangkalan merupakan ciri khas masyarakat modern-sekular, mempengaruhi cara kita berliturgi. Semuanya serba cepat dan tergesa-gesa. Daridirinya sendiri, "masyarakat yang ditentukan oleh business,ilmu pengetahuan dan teknologi, se~ uang suaah tidak berkaitan dengan doa dan agama, Orang yang hidup di dalamnya memang banyak yang sudah tidak berdoa. Hidup mereka lebih banyak ditentukan oleh HP dan televisi, bukan oleh upacara-upacara keagamaan"(Tom Jacobs SJ.2004. Teologi Doa.Yogyakarta:Kanisius, hal17). Ketika merayakan liturgi, kita berdoa pertama sekali untuk mernuji Allah, bersyukur dan menyembah Allah Pencipta. Doa bukan pencarian dari kehidupan sehari-haridengan segala tantangannya.

Dalam doa kita sungguh sadar bahwa kita adalah makhluk ciptaanTuhan. Dengan doa kita menghayati hidup bersama Tuhan dan memperjuangkan kehidupan bersama- Nya. Tidak cukup kita mohon bantuan Tuhan tetapi yang utama adalah mempercayakan diri kepada Tuhan. Dalam doa kita mengungkapkan iman dari lubuk hati yang terdalani. Hidup kita merupakan pemberian, anugerah dari Allah. Kita berdoa Allah Bapa, dengan perantaraan Putra- Nya Yesus Kristus dan oleh Roh Kudus. Dengan demikian kita berdoa dengan sadar karena" kita semua mengenal dengan baik bahaya mendaraskan rumusan-rumusan doa rutin sementara pikiran kita seluruhnya berada di suatu tempat yang lain sama sekali"
(Paus Benediktus XVI.2008. Jesus dari Nazaret.Jakarta: Gramedia, hal 139-140).

Liturgi yang dirayakan dengan penuh kesadaran akan menjadikan umat sehati-sejiwa dalam kasih. Umat mendapat berkat dan diutus untuk mengamalkan kasih bagi sesama dalam masyarakat. Dengan menerima komuni kudus, kita sejatinya bersatu dengan Tuhan untuk membawa damai bagi dunia. Menyambut Tubuh Kristus berarti menerima Kristus, yang adalah biji gandum yang jatuh dan dikorbankan agar menghasilkan buah. Kematian diubah dengan kasih,kekerasan dikalahkan dengan cinta. Kasih lebih kuat dari pada kematian.

Agar Ekaristi berbuah, ketika Liturgi Sabda, mata kita tertuju pada mimbar Sabdasambil mendengarkan Bacaan Pertarna, Bacaan Kedua, dan Evangeliarium yang diikuti dengan homili. Jangan lagi baca teks. Dalam liturgi, umat mendengarkan Sabda Tuhan,' bukan membaca Sabda Tuhan. Ketika Liturgi Ekaristi, pusat perhatian kita tertuju ke altar, dalam keheningan kita mendengar dan dalam hati ber-doa bersama imam Doa Syukur Agung, "umat menggabungkan diri dengan Kristus dalam memuji karya Allah yang agung dan dalam mempersernbahkan kurbam'{Pl.Ilvlk, 78).

Kutipan dari majalah Hidup 8 Oktober 2017




LOMBA PEMAZMUR/FAMILY BIBLE/PENGAJARAN BIA-BIR/DEWASA/OMK

GKR MENJADI JUARA KE-DUA & KE-TIGA IKUT SERTA LOMBA PEMAZMUR KAT.OMK / LOMBA PENGAJARAN BIA - BIR /
LOMBA PEMAZMUR KAT.DEWASA / LOMBA FAMLIY BIBLE

  JUARA KE-2 JUARA KE-3 JUARA KE-2

  SDRI. HILDA TAMBUN SUSAN / ERIKA / SHINTYIA / ESTHER SDR.ARNOLDI


  JUARA KE-2

  FAMILY. YAN GHEWA

ENGLISH MASS EVERY SUNDAY AT 11.30 AM



    Sept ,16th at 11.30 am Sept 23th at 11.30 am Sept 30rd at 11.30 am Okt , 7th at 11.30 am
           
PRIEST : P. Robert Rimin SJ P. Nugie, SJ P. Harno, SX P. Rori, SJ
           
CHOIR : Voice of Praise Mi corazon Vides Vocem Amore Cilangkap (Stella)
           
MULTI-MEDIA : Sdri. Hilda Sdri. Denise Priska Sdri.Inne Nathalia
           
           

Gereja Kristus Raja
Jl. Danau Toba no. 56, Pejompongan, Jakarta Pusat,
at 11.30 AM. Will see you there and God bless!




IBADAH GPIB ANUGERAH - DI GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA
















LOWONGAN KERJA



LOWONGAN KERJA


 




* * Segala hal selain pemasangan lowongan kerja ini di luar tanggung jawab redaksi / webmaster / web-Admin.