Bacaan Injil




SENIN


SENIN
01 Juni 2020
Pekan Biasa IX
PW SP MARIA BUNDA GEREJA

Bacaan I: Kej. 3:9-15.20/Kis. 1:12-14
Mazmur: 87: 1-2.3.5.6-7
Bacaan Injil: Yoh. 19:25-34

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!”. Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia----supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci---: “Aku haus!” Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib---sebab Sabat itu adalah hari yang besar---maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

Renungan

Ibu siapakah yang tak akan pedih hatinya melihat anak semata wayang mati tak berdaya dengan cara yang kejam dan sadis. Bunda Maria menyaksikan dengan mata kepala sendiri perjalanan sengsara Yesus hingga meregang nyawa di atas salib. Bunda Maria juga sanggup membopong tubuh tak bernyawa Sang Putra kala diturunkan dari atas palang penghinaan itu. Siapa sangka Maria begitu kuat menghadapi semuanya itu. Mengapa? Karena Maria tahu rahasia penyelamatan Allah melalui Putranya itu. Betapa tidak Yesus dan Maria tak terpisahkan.
Memandang Yesus yang tergantung di atas Salib, Maria membayangkan juga bagiamana nasip para pengikut Kristus, yang akan dianiaya dan dikejar-kejar bahkan sampai dihukum mati demi mempertahankan iman akan Kristus Putra-Nya. Dari atas salib Yesus menilih hati Sang Ibunda itu, lalu menyerahkan Bunda-Nya menjadi Bunda semua murid-Nya, sebab Yesus tahu betul bahwasanya hanya Bunda Maria yang sanggup dan pantas memeluk erat para pengikut-Nya di dalam pangkuan keibuannya. Kita menyaksikan adegan penuh haru ini dalam bacaan hari ini: “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”. Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!”
Pantaslah pad hari ini Gereja memperingati Maria sebagai Bunda Gereja. Kesatuan antara Kristus, Bunda Maria, dan Gereja tak terpisahkan sehingga Maria bukan saja menjadi Bunda Allah yang melahirkan “Allah yang menjadi manusia”, tetapi juga menjadi Bunda Gereja, Bunda umat beriman. Hati Bunda Maria selalu terbuka menerima keluh kesah kita untuk disampaikan kepada Kristus Putranya dan senantiasa menyertai kita dengan doa-doanya.

Doa
Ya Bunda Maria, bunda yang penuh kasih, doakanlah kami agar tetap setia menjadi pengikut Putramu Yesus Kristus, Tuhan kami.
Amin.


SELASA


SELASA
26 Mei 2020
Pekan VII Paskah
Bacaan I: Kis. 20:17-27
Mazmur: 68:10-11.20-21; R:33a
Bacaan Injil: Yoh. 17:1-11a

Yesus menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anal-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikan pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. Aku telah menyatakan nama-Mu sebelum dunia ada. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

Renungan

Dalam doa-Nya, Yesus selalu menyebut hubungan antara para murid, diri-Nya, dan Bapa. Betapa cinta yang mendalam dari Yesus tampak dalam permohonannya agar sebagaimana Bapa mencintai Putra demikian Bapa mencintai para murid. Yesus berkata, “Segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka” (ay. 10). Di sini Yesus menjadi titik perjumpaan antara manusia dan Allah. Misteri keilahian dan dinamika kemanusiaan seluruhnya merujuk pada pribadi-Nya.
Doa Yesus menjadi sebuah bukti pengangkatan kita sebagai anak Allah. Sebab kepada kita Yesus menyatakan misteri tentang Allah. Sekarang, bagaimana kita menghidupi martabat luhur ini; apakah kita masa bodoh dengan ikatan relasi kita dengan Allah, sehingga kita seakan-akan hidup tanpa hubungan dengan Dia? Ataukah kita menjadikan ikatan antara kita dan Allah itu sebagai dasar utama dan kekuatan untuk segala hal ikhwal hidup kita?

Doa
Ya Allah Engkau telah mengutus Putra-Mu ke tengah dunia. Semoga kami mengikuti teladan-Nya. Amin.




RABU


Rabu
27 Mei 2020
Pekan VII Paskah
Bacaan I: Kis. 20:28-36
Mazmur: 68:29-30.33-35a.35b-36c; R:33a
Bacaan Injil: Yoh. 17:11b-19

“Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka yang binasa selain dari pda dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaan; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Ak uke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia, dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”

Renungan

Kita pasti sudah sering mendengar ungkapan: “Jika kita menanam padi pasti akan tumbuh rumput.” Artinya, adalah sebuah utopia jika kita merindukan sebuah kehidupan yang tanpa persoalan. Namun, tampaknya, itulah yang kita rindukan. Dalam doa-Nya, Yesus berkata, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” (ay. 15).
Doa Yesus ini baiklah juga menjadi karakter atau spirit dalam hidup beriman kita. Artinya, kita perlu menyadari bahwa beriman itu bukanlah sebuah usaha supaya kita tidak mengalami persoalan-persoalan hidup. Selagi kita masih berada di dalam dunia, kita perlu bergumul bersama dunia. Kita tidak meminta Allah untuk mengubah persoalan-persoalan hidup sesuai yang kita inginkan. Sebaliknya, kita meminta Allah agar kita tetap bisa berbuah sekalipun berada dalam persoalan-persoalan hidup. Hidup sebagai murid Yesus adalah hidup sebagai utusan. Maka, perjuangan hidup kita adalah perjuangan seperti Yesus. Sebagai utusan hendaklah kita tidak memikirkan kenyamanan diri sendiri. Akan tetapi, kita keluar dari zona nyaman kita dan menjumpai dunia yang terluka dan menghadirkan wajah Allah Yang Maharahim di sana.


Doa
Ya  Allah, gerakkanlah hati kami supaya kami berani keluar dari zona nyaman hidup dan berani menjumpai saudara/i kami yang terluka. Amin.


KAMIS


Kamis
04 Juni 2020
Pekan Biasa IX
Bacaan I: 2Tim. 2:8-15
Mazmur: 25:4bc-5ab.8-9.10.14; R:
Bacaan Injil: Mrk. 12:28b-34

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawaban yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihanilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua kurban bakaran dan kurban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Renungan

Seorang ahli oTaurat ingin mencobai Yesus. Sebuah pertanyaan jebakan diutarakannya kepada Yesus, “Perintah manakah yang paling utama?” Jawaban Yesus membuat dia sadar. Karena justru itulah hakikat ajaran Yesus, yakni mencintai Tuhan dan mencintai sesama. Mencintai Tuhan dan mencintai sesama bagaikan keeping mata uang; tidak bisa menerima yang satu dan mengabaikan yang lain.
Mengamati kehidupan berbangsa dan bermasyarakat di negara kita pada tahun-tahun terakhir ini, kita, umat kristiani, sungguh-sungguh ditantang untuk melaksanakan firman Tuhan ini. Tekun dan setia membangun relasi dengan saudara-saudari yang berbeda agama, iman, aliran, dan kepercayaan. Relasi personal dengan Tuhan akan mampukan kita menghadapi berbagai persoalan, tantangan, dan kesulitan dalam hidup bernegara dan bermasyarakat. Rahmat Tuhan selalu cukup untuk setiap orang.

DOA
Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Sang Guru yang selalu menuntun kami kepada kebaikan dan keselamatan. Bimbinglah kami dengan Roh Kebijaksanaan agar kami mampu menerima dan hidup berdampingan dengan sesama kami yang berbeda di tengah masyarakat bangsa kami.
Amin.


JUMAT


JUMAT
05 Juni 2020
Pekan Biasa IX

Bacaan I: 2Tim. 3:10-17
Mazmur: 119:157.160.161.165.166.168; R:165a
Bacaan Injil: Mrk. 12:35-37

Pada suatu kali ketika Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berkata: “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.

Renungan

Perikop yang singkat ini diawali dan diakhiri dengan kata-kata yang sangat menarik untuk kita renungkan. “Pada suatu hari Yesus mengajar di Bait Allah, ….. Orang banyak mendengarkan Yesus dengan penuh minat”. Kata kunci “Yesus mengajar dan orang mendengarkan” dengan antusias. Pertanyaan yang menantang kita ketika merenungkan perikop ini adalah: Tindakan dan metode mengajar macam apakah yang Yesus gunakan sehingga mampu membangkitkan minat orang banyak untuk mendengarkan-Nya?
Ada dua hal yang kita belajar dari perikop ini. Pertama, adalah kita membangun sikap hati yang mendengarkan? Sebagai pasangan suami istri, orangtua dan anak-anak dalam keluarga, anggota komunitas bagi para imam, biarawan dan biarawati, atau pun di tengah-tengah masyarakat bangsa kita; adakah kita menciptakan situasi yang kondusif agar kita mampu saling mendengarkan? Kedua, bagaimana mengajari anak-anak, kaum muda dan remaja dengan baik, benar dan penuh bijak. Saya yakin, ajaran itu tidak hanya sebatas dan sedangkal kata-kata, tetapi terjelma dalam tindakan konkret. Artinya, mampukah kita menjadi soko guru, teladan dan figure bagi mereka?

Doa
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Tuhan, Guru, Saudara dan Jalan Hidup kami; buatlah kami mampu dan layak menjadi teladan hidup bagi orang-orang di sekitar kami setiap hari.
Amin.


SABTU

SABTU
06 Juni 2020
Pekan Biasa IX
Bacaan I: 2Tim. 4:1-8
Mazmur: 71:8-9.14-15ab. 16-17.22; R:15ab
Bacaan Injil: Mrk. 12:38-44

Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar,  yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang Panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.” Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Renungan

Penginjil Markus mengingatkan kita untuk kembali kepada sikap dasariah ciptaan Tuhan, yakni sikap berbagi atau memberi. Sikap berbagi tidak hanya dilakukan manusia, tetapi juga oleh ciptaan yang lain. Contohnya, bunga mawar. Akar mawar mencari dan mendapatkan makanan, kemudian diteruskan ke daun untuk mendapatkan sinar matahari yang cukup lalu disalurkan/dibagikan ke seluruh bagian mawar itu sampai menghasilkan keindahan kembang mawar dan membuat manusia kagum, terpesona, bahagia memandangnya.
Manusia, yang diciptakan sesuai citra dan rupa Sang Pencipta, lebih mulia dan luhur dari segala ciptaan yang lain (bdk. Maz. 8). Sikap berbagi melekat dan menyatu dalam diri manusia. Seorang janda yang memberi dari kekurangannya adalah contoh unggul bagi kita. Kita diajak untuk berani berbagi dan memberi, tidak hanya karena kelimpahan kita, tetapi justru dalam kekurangan dan keterbatasan kita. Karena semua yang kita miliki, Tuhan memberinya secara cuma-cuma.

Doa
Tuhan Yesus, bukalah hati kami agar kami dengan sukacita mau berbagi dengan sesama. Semoga kami tidak hanya mau menerima, tetapi juga berani memberi dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami. Amin


MINGGU


MINGGU
07 Juni 2020
HR TRITUNGGAL MAHAKUDUS
Bacaan I: Kel. 34:4b-6.8-9
Mazmur: Dan. 3:52.53.54.55.56; R:52b
Bacaan II: 2Kor. 13:11-13
Bacaan Injil: Yoh. 3:16-18

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”

Renungan

Dalam suatu kesempatan retret para imam, pastor pembimbing mengingatkan dan menegaskan kepada para kolega imam peserta retret. “Jangan pernah menjadikan mimbar gereja sebagai tempat dan kesempatan untuk marah dan atau mengungkapkan kekesalan hatimu kepada umat. Karena mimbar itulah tempat untuk mewartakan Kabar Sukacita.” Kabar Sukacita bahwa Allah kita bukan Allah yang menghukum, melainkan Allah yang membebaskan.
Yesus, Putra Tunggal Allah, diutus ke dunia bukan untuk menghukum dan menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan seluruh manusia dan seluruh ciptaan. Inilah Kabar Sukacita bagi seluruh umat manusia. Allah Bapa mencintai setiap pribadi tanpa membeda-bedakan. Allah tidak hanya mencintai umat kristiani saja, tetapi kasih-Nya untuk semua.
Kabar Sukacita inilah yang perlu diwartakan kepada segala suku dan bangsa. Percayalah kita akan sabda Tuhan yang disampaikan Penginjil Yohanes dalam perikop ini? Jika kita masih sangsi dengan kesaksian Yohanes ini, bacalah sekali lagi dan renungkanlah! Penginjil sekaligus rasul termuda di antara para rasul ini menyadari bahwa tidak semua orang percaya dan menerima ajaran ini. Karena itu, dia mengulangi kata “percaya” sampai empat kali dalam tiga ayat ini (3:16-18) untuk meyakinkan para pendengarnya.

Doa
Tuhan Yesus Kristus, tambahkanlah iman kami akan Dikau. Gerakkanlah hati kami agar mampu mewartakan Kabar Sukacita dari pada-Mu kepada sesama kami.
Amin.