Bacaan Injil


JUMAT


22 September 2017
Pekan Biasa XXIV
St. Thomas dr Vilkanova; St Mauritius, dkk. St Ignatius dr Santhi, ImBiarw
Bacaan I: 1Tim. 6:2c-12
Mazmur: Mzm. 49:6-7,8-9,17-18-20
Bacaan Injil :Luk. 8:1-3



Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuang yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

Renungan
Suatu kali seorang bapa datang menemui pastor parokinya dan menceritakan apa yang terjadi dengan hidup rumah tangganya. Ia bercerita bahwa saat itu ia sedang menunggu keputusan pengadilan untuk cerai yang dilakukan oleh istrinya. Pokok persoalannya, sejak menikah sekitar 5 tahun yang lalu. Bapak ini pergi kerja pagi dan pulang sore sekitar jam 17:00, mandi, dan kemudian pergi lagi untuk kerja hingga pulang pagi. Begitulah yang sering terjadi dan tidak pernah lagi untuk masuk gereja. Ia bekerja demikian demi mengumpulkan uang untuk keluarga. Kini barulah ia sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Tetapi, hal itu sudah terlambat. Hidup keluarganya jadi berantakan. Inilah yang dinasihatkan oleh Paulus. “Akar segala kejahatan ialah cinta akan uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim. 6:10)
Kita boleh belajar dari para wanita yang melayani Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka menggunakan kekayaan mereka untuk membantu usaha pewartaan Injil Kerajaan Allah. Bagaimana dengan kekayaan yang kita miliki, adakah kita gunakan untuk membantu dalam usaha pewartaan Injil Kerajaan Allah? Ataukah malah kita menimbun untuk kepentingan diri? Paulus menasihatkan: “Jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan. Bertandinglah dalam iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” (1Tim. 6 :12).

Doa
Tuhan Yesus, berilah aku semangat untuk berbagi sebagaimana para perempuan dalam Injil hari ini. Bantulah aku untuk mengarahkan perhatian pada harta yang mengantarku merebut kehidupan kekal. Amin.

SABTU


23 September 2017
Pekan Biasa XXIV
Peringatan Wajib St. Pius dari Pietrelcina (Padre Pio)
Bacaan I: 1Tim. 6:2c-12
Mazmur: Mzm. 113:1-2,3-4,5a,6-7
Bacaan Injil: Luk. 6:43-49

Banyak orang berbondong-bondong dari kota-kota sekitar kepada Yesus. Maka Yesus berkata dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benuhnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benuh itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habus. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menajdi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah Firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya, kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.
Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

Renungan
Ada seorang pemuda yang sangat baik. Sikap dan tutur katanya lembut dan menyenangkan. Ia aktif dalam kehidupan menggereja dan pelayanan sosial, seperti mengajar secara sukarela anak-anak di suatu kelompok belajar. Setelah beberapa waktu terdengar kabar yang mengejutkan. Pemuda yang diharapkan menjadi teladan dan kebanggaan keluarga kini mendekam di balik jeruji besi oleh karena kasus narkoba.
Kisah di atas menjadi salah satu contoh dari yang dikatakan Yesus. “Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpan dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk. 8:15). Pemuda ini adalah ibarat tanah yang baik, ia menghasilkan buah, namun tidak tekun. Dalam diri setiap orang ada kebaikan, hanya saja kita tidak bertekun untuk melakukan itu dalam kehidupan kita. Kita percaya bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kebaikan, persoalannya adalah TIDAK BERTEKUN untuk melakukan kebaikan itu dalam hidupnya. Marilah kita bertekun melakukan kebaikan sepanjang hidup kita.

Doa
Tuhan Yesus, mampukanlah aku untuk tekun dan bertahan dalam melakukan kebaikan kepada siapa pun. Amin.



MINGGU


24 September 2017
Pekan Biasa XXV
St. Gerardus dr Hungaria; St. Pasifikus; St. Vinsensius Maria Strambi

Bacaan I:Yes. 55:6-9
Mazmur: Mzm. 145:2-3,8-9,17-18
Bacaan II:Rm. 14:7-9
Bacaan Injil : Mat. 20:1-16a

Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Surga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang sudah bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah, aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku ebbas mempergunakan milikku menurut kehendak hati? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati ? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

Renungan
Suatu kali Sidney Henry bersama sahabatnya mampir ke sebuah toko penjual koran. Di sana ia mendapat perlakuan kasar dari penjual koran. Entah apa yang terjadi sebelumnya, tiba-tiba saja si penjual koran tampak bersungut-sungut dan bahkan membuang koran itu ke muka Henry. Henry tetap tenang dan bahkan tidak membalas, tetapi ia tetap tersenyum dan berkata: “Terima kasih, semoga akhir pekan Anda menyenangkan.” Dalam perjalanan pulang, sahabat Henry bertanya, “Mengapa kamu tidak berlaku kasar juga kepadanya?” “Saya tidak mau cara saya bertindak ditentukan oleh orang lain. Saya may menjadi pribadi yang aktif dan bukan reaktif, “Jawab Henry.
Inilah contoh yang dimaksud oleh Paulus, “Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Flp.1:22a). Berbuah dalam sikap yang baik, dalam tutur kata dan tindakan, sambil mensyukuri segala berkat dalam hidup ini. Sebab, segala sesuatu merupakan anugerah semata dan kita tak dapat menuntut Allah. “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku bermurah hati?” (Mat.20:15). Rencana dan pikiran kita tidaklah sama dengan yang dipikirkan dan direncanakan Allah.


Doa
Tuhan, ajarilah aku untuk senantiasa bersyukur dalam segala hal dan berusaha menemukan kehendak-Mu di balik setiap peristiwa dalam hidupku. Amin.