Bacaan Injil


JUMAT


JUMAT
21 Desember 2018
HARI BIASA KUDUS ADVEN III (U)
Novena Natal hari ke-6 – St. Petrus Kanisius, ImPujg

Bacaan I: Kid. 2: 8-14 atau Zef. 3: 14-18a
Mazmur: 33: 2-3.11-12.20-21; R: Yoh 1a.3a
Bacaan Injil:  Luk. 1: 39-45

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."

Renungan
                Injil hari ini menampilkan kisah kunjungan Maria ke daerah pegunungan, ke tempat Elizabeth saudarinya berdiam. Kunjungan ini memiliki arti penting, sebab kedua perempuan ini sedang mengandung secara ajaib. Elizabeth mengandung pada masa tuanya, sedangkan Maria mengandung sebelum bersuami. Namun, keduanya dipilih Tuhan untuk sebuah karya keselamatan. Ada dua hal yang dapat kita pelajari dari kisah Injil hari ini.
                Pertama, soal mengunjungi. Peristiwa kunjungan Maria kepada Elizabeth menegaskan pentingnya perjumpaan untuk meneguhkan rahmat yang diterima setiap pribadi dari Allah. Kegembiraan dan kesedihan perlu dibagikan. Sebab, sukacita yang dibagikan akan digandakan, sedang kesedihan yang disharingkan bakal diringankan. Kedua, memuliakan Tuhan. Apa yang dilakukan oleh Maria dan Elizabeth ketika bertemu memberikan standar tertentu untuk menentukan kualitas sebuah perjumpaan. Jika perjumpaan kita lebih sering diisi oleh gossip dan menjelekkan sesama, perjumpaan Maria dan Elizabeth digunakan hanya untuk memuliakan karya Allah dan meneguhkan persaudaraan.

Doa
Ya Tuhan, buatlah aku menjadi seperti Maria yang dalam keterbatasannya mau berbagi sukacita dan kegembiraan kepada yang lain. Amin.


SABTU


SABTU
22 Desember 2018
HARI BIASA KUDUS ADVEN III (U)
St. Teodorus; St. Yosef Moscati
Novena Natal hari ke-7

Bacaan I: 1Sam. 1:24-28
Mazmur: 1Sam. 2: 1.4-5.6-7.8 abcd; R: 1a
Bacaan Injil:  Luk. 1: 46-56

Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Renungan
                Orang yang mendapat keberuntungan seringkali lupa bersyukur dan berterima kasih. Orang kadang hanyut dalam keasyikan menikmati keberuntungan dalam hidup. Orang merasa keberuntungannya didapat dari jerih lelah dan kerja kerasnya sendiri. Orang tidak memandang ada campur tangan dari Allah. Hal demikian tidak terjadi pada diri Hana, ibu dari Samuel. Ia bersyukur pada Tuhan.
                Orang yang mendapat pujian dan sanjungan kadang juga menjadi lupa daratan. Orang mendapat pujian dan sanjungan bukannya berterima kasih dan merendahkan diri tetapi justru menjadi sombong dan bangga secara berlebihan. Bangga dan sombong itu beda tipis. Bunda Maria mendapat sanjungan dan pujian dari Elizabeth bukan lantas menyombongkan diri, tetapi memuji keagungan Tuhan.
                Marilah dalam hidup ini kita belajar dari Hana dan Bunda Maria dengan menjadi orang yang pandai bersyukur dan berterima kasih, baik kepada sesama maupun kepada Tuhan. Syukur dan terima kasih itu tentu menolong kita membebaskan diri dari kesombongan dan membuat pihak pemberi akan berkenan kepada kita.

Doa
Ya Tuhan, ajarilah aku menjadi orang-orang yang pandai bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu. Berkenanlah selalu melimpahkan kasih-Mu kepadaku. Amin

 

MINGGU


MINGGU
23 Desember 2018
HARI BIASA KUDUS ADVEN IV (U)
Novena Natal hari ke-8
St. Yohanes dr Kety; St. Servulus

Bacaan I: Mi. 5: 1-4a
Mazmur: 80:2ac.3b.15-16.18-19; R:4
Bacaan II: Ibr. 10: 5-10
Bacaan Injil:  Luk. 1: 39-45

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
Renungan
                Kunjungan Maria kepada Elizabeth dapat juga dilihat sebagai kunjungan Tuhan kepada umat-Nya. Sekalipun masih dalam kandungan, tetapi sudah ikut mengunjungi Elizabeth. Kunjungan itu adalah kunjungan yang memberikan kegirangan kepada umat-Nya. Karena itu, bayi dalam kandungan Elizabeth juga telah menunjukkan kegirangan untuk menyambut kunjungan Tuhan bersama ibu-Nya. Dengan caranya, ia menyambut kedatangan Tuhan.
                Tidak semua kunjungan, kedatangan dan perjumpaan menumbuhkan kegirangan. Ada banyak kunjungan dan perjumpaan yang justru menyedihkan dan menimbulkan kemalangan. Semisal kita dikunjungi penagih hutang atau orang yang berkehendak jahat. Kunjungan dan perjumpaan seperti ini selalu tidak kita kehendaki karena merenggut kegembiraan.
                Marilah dalam hidup ini kita sedapat mungkin menjadi pengunjung sesame yang mendatangkan kegirangan. Jika oleh karena perjumpaan dengan kita, orang dapat bersyukur dan memuji Tuhan, tentu itu juga akan menimbulkan kegirangan bagi kita. Tentu untuk itu dapat kita tempuh dengan banyak cara. Datang selalu dengan maksud baik dan penuh kasih pasti mendatangkan kegirangan.

Doa
Ya Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai dan kegirangan dalam setiap perjumpaan dengan sesamaku. Amin