Bacaan Injil


JUMAT


JUMAT
13 Juli 2018
Pekan Biasa XIV (H)
St. Hendrich II; St. Eugenius; Sta. Teresia Yesus dr Andes

Bacaan I: Hos. 14:2-10
Mazmur: Mzm. 51:3-4.8-9.12-13.14.17; R:17b
Bacaan Injil:  Mat. 10:16-23

"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.”

Renungan
Rekan beriman yang terkasih. Dalam hidup bersama, kita dituntut untuk mengembangkan karakter-karakter unggulan, seperti ‘tanggung jawab’, ‘kesetiaan’, dan ‘kejujuran’. Tuntutan itu mengandung ajakan untuk mengembangkan hidup bersama yang baik dan harmonis. Selain itu, kita dituntut pula memiliki karakter kristiani yang ‘tahan banting’ dan dapat diandalkan, sehingga kita tidak mudah terjerumus dalam arus masyarakat. Karakter kristiani inilah yang diutarakan Yesus dalam kisah Injil hari ini. Yesus mengibaratkan perutusan para murid sebagai ‘domba yang datang ke tengah-tengah serigala’. Perutusan kemuridan mengandung tantangan dan cobaan yang berat. Murid Kristus kerap diperhadapkan pada penganiayaan dan penolakan.
Berhadapan dengan situasi demikian, seorang murid Kristus tidak boleh menyerah. Ia harus menjadi ‘cerdik seperti ular’. Artinya, ia perlu melihat peluang demi kelangsungan pewartaan Kerajaan Allah. Selain itu, ia perlu menjadi ‘tulus seperti merpati’. Artinya, ia mampu bertahan dari setiap rayuan dunia yang dapat melumpuhkan karya pewartaan Kerajaan Allah. Dengan ini, Yesus hendak mengajak kita untuk membentuk pribadi yang matang sebagai murid Kristus. Identitas kekristenan sepatutnya berdaya guna dalam hidup bermasyarakat. Yesus menuntut setiap dari kita untuk menjadi pewarta Kerajaan Allah yang sejati.

 Doa
Ya Allah, mampukanlah diriku agar tidak terbuai oleh bujukan dunia yang membuat aku kehilangan motivasi untuk menjadi pengikut Kristus. Amin.

 

SABTU


SABTU
14 Juli 2018
Pekan Biasa XIV (H)
St. Fransiskus Solanus; St. Kamilus dr Lellis

Bacaan I: Yes. 6:1-8
Mazmur: Mzm. 93:1ab.1c-2.5; R:1a
Bacaan Injil:  Mat. 10:24-33

“Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga."

Renungan
Rekan beriman terkasih, kita semua merupakan murid di hadapan Yesus Sang Guru. Di hadapan-Nya, kita adalah murid yang mencari kebijaksanaan dan mendengarkan kebenaran-Nya dari pagi pertama hingga pagi berikut. Hanya Yesus Sang Guru itulah yang dapat menyatakan kelulusan kita. Apapun yang kita lakukan dalam kehidupan ini seharusnya merupakan perintah dari Sang Guru. Sebab, seorang murid yang sejati akan menjunjung tinggi perintah dan pengajaran-Nya. Namun lebih dari itu, seorang murid sejati selalu bangga meneruskan pengajaran-pengajaran yang didapatnya dari Sang Guru.
Di zaman ini, kita patut berbangga karena terdaftar dalam perguruan Yesus. Namun, kemuridan di dalam Yesus lebih dari sekadar bertahan dalam kebangaan. Saat kita menyebut-Nya sebagai Guru, maka hidup kita pun semestinya menggambarkan bahwa kita terhubung dengan Guru yang tepat. Dia tidak sekadar Guru, Dia adalah Tuhan. Karena itulah berguru pada Yesus tidak hanya membuat kita menjadi bijaksana dalam hidup. Lebih dari itu, hidup kita terjamin di bumi pun di surga. Itulah sebabnya, Yesus menghendaki pengikut-Nya agar tidak merasa khawatir dan takut. Di hadapan Yesus, kita lebih berharga dari banyak burung pipit. Menjadi manusia kristiani memberi kita martabat yang luar biasa luhur.

Doa
Ya Allah, semoga aku memiliki semangat untuk menjalankan perintah Yesus, dan tidak lelah untuk mencari kehendak-Mu dalam hari-hari hidupku. Amin.


MINGGU


MINGGU
15 Juli 2018
Pekan Biasa XV
St. Bonaventura, UskPujG; St. Yakobus dr Nisiba

Bacaan I: Am. 7:12-15
Mazmur: Mzm. 85:9ab-10.11-12.13-14; R:8
Bacaan II: Ef. 1:3-14
Bacaan Injil:  Mrk. 6:7-13

 Pada suatu hari Yesus memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalan suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

Renungan
Rekan beriman terkasih, saya percaya bahwa Anda memiliki cinta mendalam akan Yesus. Kita pun percaya, Ia memiliki kasih untuk kita. Cinta dan perhatian-Nya sungguh memperkaya kita. Yesus menghadirkan misteri Allah dengan sangat jelas. Ia adalah jaminan bagi keselamatan kita. Di dalam-Nya kita memperoleh penebusan, meterai Roh Kudus, dan kepenuhan janji Allah. Di dalam Yesus, kita mendapatkan hikmat, pengertian, dan keselamatan.
Kita tentu sudah akrab dengan pernyataan berikut ini: “orang yang banyak memiliki dituntut juga untuk banyak memberi.” Hal ini juga berlaku dalam konteks hubungan kita dengan Yesus. Begitu besar rahmat yang kita peroleh dari Yesus, maka demikian pulalah semestinya kita membagikan rahmat itu pada sesama. Inilah tugas perutusan itu: jika kita mengimani bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan, kebenaran, kehidupan; jika kita mengimani bahwa Yesus adalah Penebus dan Penyelamat kita, yang membuat kita mendapatkan janji keselamatan dari Allah, bukankah kita harus membagi iman ini dengan cara mempromosikan Yesus pada sesama?
Tentu saja mempromosikan Yesus bukan dengan meneriakkan nama Yesus di alun-alun kota. Kita berpromosi dengan cara membuat hidup sedemikian menyerupai Dia, sehingga sekalipun orang tak mengenal ‘nama’ Yesus, toh orang mengikuti jalan hidup-Nya, bertindak seturut kebenaran-kebenaran-Nya, dan membangun dunia yang berbudaya kehidupan, bukan kematian.

Doa
Ya Allah, semoga hidupku sedemikian menyerupai Kristus Putra-Mu, sehingga kehadiranku di manapun aku berada merupakan tanda perutusan dari-Mu. Amin.