Bacaan Injil


KAMIS


KAMIS
09 April 2020
HUT Kongregasi Serikat Suster Sahabat Setia Yesus (FCJ)
Kamis Putih (P)
Bacaan I: Kel. 12 : 1-8. 11-14
Mazmur: 116:12-13. 15-16bc. 17-18; R: 1Kor 10:16
Bacaan II: 1Kor. 11: 23-26
Bacaan Injil: Yoh. 13: 1-15

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Mereka sedang makan bersama, dan iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya: “Barang siapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.” Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan  katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Renungan

Yesus membasuh kaki para murid. Setelah itu, Ia mengajukan pertanyaan: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?” (Yoh. 13:12) Pembasuhan itu sebenarnya mau membersihkan hati dan motivasi para murid yang biasanya tersembunyi dan dangkal. Selain itu, Kaki melambangkan kesediaan untuk bertindak (pergi), sehingga dengannya mereka akan siap untuk bersaksi. Perjamuan terakhir yang di catat Paulus pun menegaskan tanggungjawab untuk melakukan perintah Yesus, “Perbuatlah ini sebagai peringatan akan Aku” (1Kor. 11:24-25). Kamis Putih yang kita rayakan bersama adalah perjamuan yang mengantar kita pada kesiapan untuk bertindak, dan bukan sekedar memberi kesan bahwa kita sudah mengetahui. Penampilan bukanlah hal yang utama dalam panggilan menjadi murid Kristus, melainkan yang paling utama adalah melayani oranglain dalam tindakan konkret setiap hari. Kita perlu membiarkan Tuhan untuk membersihkan hati dan motivasi kita dari kesombongan dan perasaan serba tahu di hadapan sesame yang kita layani.

Yesus, semoga kami belajar rendah hati dan mengasihi sesama. Amin.



JUMAT


JUMAT
10 April 2020
Jumat Agung (U)
Bacaan I: Yes. 52:13-53:12
Mazmur: 31:2.6.12-13.15-16.17.25; R: Luk. 23:46
Bacaan II: Ibr. 4:14-16; 5:7-9
Bacaan Injil: Yoh. 18: 1-19:42

Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka: “Akulah Dia.” Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: “Akulah Dia”, mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Maka Ia bertanya pula: “Siapakah yang kamu cari?” Kata mereka: “Yesus dari Nazaret”. Jawab Yesus: “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: “Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorang pun yang Kubiarkan binasa.” Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. Kata Yesus kepada Petrus: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku? Maka pasukan prajurit serta perwiranya dan penjaga-penjaga yang di suruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia. Lalu mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Besar; dan Kayadaslah yang telah menasihatkan orang-orang Yahudi: “Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa.” Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Besar dan ia masuk bersama-sama dengan Yesus ke halaman istana Imam Besar, tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi,  yang mengenal Imam Besar, kemabli ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk. Maka kata hamba perempuan penjaga pintu kepada Petrus: “Bukankah engkau juga murid orang itu?” Jawab Petrus: “Bukan!” Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawa dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Juga Petrus berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka. Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya.

Renungan

Yesus menyelesaikan misi-Nya hingga selesai. “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya (Ibr. 5:8). Salib adalah tanda yang dapat mengubah berbagai kekerasan di dunia ini. Dengan memandang dan menghormati Dia yang tersalib, kita justru akan disadarkan dan dipulihkan, sebab “oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53: 5).           

Yesus, Tuhan kami, mampukan kami memikul salib hidup kami. Amin.

 

SABTU

SABTU
11 April 2020
SABTU SUCI (P)
Bacaan I: Kej. 1:1-2:2 (Kej. 1:1, 26-31a)
Mazmur: 104:1-2a. 5-6. 10. 12. 13-14. 24. 35c; R:30
Bacaan II: Rm. 6: 3-11
Bacaan Injil: Mat. 28: 1-10

Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. Akan tetapi, malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanalah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.” Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”

Renungan

Ada orang-orang yang suka mendengarkan lagu-lagu lawas. Bagi mereka, tenggelam di masa lalu itu indah, tetapi kelekatan pada hal-hal yang lalu bisa menjadi ikatan yang menghambat perkembangan. Dalam hal ini, yang muncul justru ketakutan, bukan kebahagiaan. Malaikat Allah hadir di kubur Yesus dan berkata kepada para perempuan,”janganlah kamu takut!” (Mat. 28-5). Pesan yang melegakan ini terdengar persis saat ketakutan menyelimuti mereka karena peristiwa penyaliban Yesus. Sosok Yesus yang bangkit mengucapkan pesan yang sama disertai pengutusan, “Jangan takut! Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku…” (Mat. 28:10).
Hanya satu hal yang dapat mengubah ketakutan kita menjadi suatu harapan, yakni iman akan kebangkitan, pada sesuatu yang sama sekali baru, seperti halnya Kisah Penciptaan (bdk. Kej. 1:1-2:2). Semua yang baru dapat memunculkan kekhawatiran, namun kebaruan yang kita alami dalam peristiwa kebangkitan Yesus tidaklah menakutkan. Peristiwa ini menawarkan kemungkinan dan kesempatan yang berbeda supaya kita berani masuk untuk mengalaminya. Saat ini, kita diundang menghayati semangat kebangkitan dalam tugas dan fungsi kita masing-masing. Kita bisa mulai dari keluarga kita masing-masing, lingkungan kerja, masyarakat, dst. Kita tidak perlu khawatir, sebab Yesus yang disalibkan itu sudah mendahului kita masuk ke dalam kemuliaan kebangkitan-Nya.

Ya Yesus, Engkau telah bangkit mengalahkan maut. Semoga kami pun ikut bangkit dari kegagalan-kegagalan dan dosa-dosa. Amin.



MINGGU


MINGGU
12 April 2020
HARI RAYA PASKAH (P)
Bacaan I: Kis. 10:34a.37-43
Mazmur: 118:1-2.16ab-17.22-23; R:24
Bacaan II: Kol. 3:1-4 atau 1Kor. 5:6b-8
Bacaan Injil: Yoh. 20: 1-9

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai dikubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.

Renungan

Kita bisa saja gugup ketika kita berada di ruangan yang banyak orang yang tidak kita kenal dan semua hening menunggu apa yang hendak kita ucapkan. Keringat dingin membanjiri punggung dan mulut kita tiba-tiba kelu, padahal, mungkin yang perlu dilakukan hanyalah memperkenalkan diri dan kemudian berbaur. Para murid disergap keheningan ketika pertama kali menjumpai kubur kosong (bdk. Yoh. 20:3-9). Mereka masuk babak baru dalam iman akan Yesus manakala harapan mereka hampir pudar sejak Yesus wafat dan dimakamkan. Petrus mengisahkan pengalamannya bersama para murid yang lain bahwa mereka “telah makan dan minum bersama Yesus, setelah Ia bangkit dari antara orang mati” (Kis. 10:41).
Saksi yang bisa dipercaya ialah orang yang berani masuk dalam kehidupan baru Yesus dan yang bersikap sadar diri dengan tidak mengubah atau pun melebih-lebihkan pengalaman itu. Kita pun mesti berani untuk masuk ke dalam kehidupan Yesus yang bangkit dan menjadi saksi-saksi kebangkitan yang dapat dipercaya. Sebagaimana perasaan gugup hanya bisa di atasi dengan berelasi, pengalaman kebangkitan hanya akan membawa keberanian bila kita menjalin relasi kekeluargaan dengan oranglain melalui kesaksian hidup. Kita selalu bisa membagikan kisah-kisah perjumpaan dengan Tuhan dalam kebersamaan iman.

Tuhan Yesus Kristus, kehadiran dan penyertaan-Mu setelah kebangkitan tidak dapat dihalang oleh apapun. Semoga perjumpaan kami dengan-Mu dalam berbagai pengalaman membawa keberanian untuk bersaksi tentang Engkau. Amin.




SENIN


SENIN
13 April 2020
OKTAF PASKAH (P)
St.Martinus I, Paus;
Sta.Margaretha dr Metola

Bacaan I: Kis. 2:14.22-32
Mazmur: 16:1-2a.5.7-8, 9-10.11; R:1
Bacaan Injil: Mat. 28: 8-15

Perempuan-perempuan segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata:” Salam bagimu” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku. “Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata:” Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.

Renungan

Istilah “berpolitik” kadang-kadang dikaitkan dengan orang yang ingin memperngaruhi pandangan publik sesuai kepentingannya sendiri. Kebutuhan masyarakat akan informasi juga sering dibelokan oleh oknum-oknum tertentu yang punya maksud jahat. Meskipun demikian, seiring berjalannya waktu, oran bisa menilai kebenaran sebuah berita. Ketika menampakan diri kepada para murid, Yesus yang bangkit perpesan supaya mereka pergi ke Galilea (bdk. Mat.28:10). Galilea, berbeda dari Yerusalem, adalah titik Yesus berkaya dan titik awal panggilan para murid. Kembali kesana (Galilea) berarti kembali pada apa yang sejak semula merupakan misi Yesus, yakni membangun Kerajaan Allah. Perbuatan para imam kepala dan tua-tua di Yerusalem yang berusaha menyebarkan cerita bohong tentsng para murid Yesus akan terbukti sia-sia. Kelak Petrus mengatakan dengan berani,” Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kis.2: 32). Peristiwa kebangkitan Yesus tidak dapat dikaburkan, lebih-lebih karena Dia yang bangkit menampakan diri dan hadir kepada banyak orang.
Kita hidup di zaman yang dioambang-ambingkan berbagai informasi. Dalam situasi itu, kesaksian iman kita harus tetap riil dan tidak perlu dilebih-lebihkan. Kita selalu bisa mulai dengan pengalaman iman kita masing-masing berjumpa dan diselamatkan Kristus.

Allah Roh Kudus, Engkau selalu mendampingi dan mengantar kami kepada kebenaran. Jagalah perkataan dan perbuatan kami agar hanya mendatangkan sukacita bagi  sesama. Amin.



SELASA


SELASA
14 April 2020
OKTAF PASKAH (P)
St.Tiburtius, Valerianus dan Maximus
Bacaan I: Kis. 2:36 - 41
Mazmur: 33: 4-5. 18-19. 20. 22; R:5b
Bacaan Injil: Yoh: 20: 11- 18

Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalamkubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya:” Ibu mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh kebelakang dan melihat Yesus berdiri disitu, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya:” Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia. Supaya akau dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!” artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid:” Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Renungan

Beberapa peristiwa yang kita alami dalam hidup telah banyak mengubah hidup kita. Peristiwa-peristiwa itu ada yang membuat kita tersenyum, tertawa, bangga; dan ada pula yang membuat kita harus meneteskan air mata, sedih, putus asa, dll. Kita membutuhkan waktu yang lama untuk menerima peristiwa-peristiwa negatif, dan pelan-pelan kita mengambil hikmat darinya, sehingga kemudian meberikan prubahan yang berarti bagi hidup kita. Maria Magdalena tenggelam dalam kesedihan yang mendalam setelah kematian Yesus. Ia datang ke kubur hendak meratapi kehilangan itu, namun ternyata malah berjumpa dengan sosokYesus yang telah bangkit. Yesus meminta supaya Maria tidak berhenti pada kesedihan, tetapi menjadi saksi untuk mengabarkan sukacita kebangkitan (bdk. Yoh. 20:17-18). Kelak khotbah Petrus dan rasul-rasul lainpun akan menyadarkan banyak orang yang merasaterharu dengannya, supaya bertobat dan memberi diri dibaptis dalam nama Yesus Kristus (bdk. Kis. 2:38)

Ya Yesus, Engkau menghendaki agar kami melanjutkan tugas para rasul di dunia. Bantulah kami dalam tugas kami menjadi saksi kebangkitan-Mu di zaman ini. Amin.


RABU


RABU
15 April 2020
B.Pedro Gonzalez; B. Darmian de Veuster
Bacaan I: Kis.3:1-10
Mazmur: 105: 1-2.3-4.6-7.8-9; R: 3b
Bacaan Injil: Luk. 24: 13-35

Pada hari itu juga dua orang murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. sehingga tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: " Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawabnya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Katanya kepada mereka: Apakah itu?" Jawab mereka:"Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa peremmpuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan,bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat. "Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kita nabi-nabi. (bacaan selengkapnya lihat Alkitab)

Renungan

Dua orang murid yang sedang menuju ke Eamus bercakap-cakap tentang Yesus. Namun, mereka tidak mampu mengenal Yesus yang berjalan bersama mereka (bdk. Luk. 24: 15-16) Yesus perlahan-lahan membuka pikiran mereka tentang Kitab Suci dan kemudian memaklumkan kehadiran-Nya di dalam Ekaristi (bdk. Luk. 24: 30-31). Peristiwa itu membuka sekat bahwa kehadiran di tengah-tengah kita tidak lagi dibatasi oleh ruang waktu. Ia yang telah bangkit mengatasi ruang dan waktu. Kita pengikut Kristus, di zaman ini tidak perlu takut dan patah semangat, karena kita Yesus hadir menyertai kita hingga akhir zaman. Dari waktu ke waktu, kita perlu menanyakan kepada diri kita sendiri: Sungguhkah kita menjadi garam dan terang bagi orang-orang di sekitar? Sungguhkah kita percaya bahwa Tuhan telah bangkit dan terus menyertai perziarahan hidup kita?

Yesus, semoga kami tanpa ragu bercakap-cakap tentang Engkau dan kasih-Mu. Amin.



KAMIS


KAMIS
16 April 2020
OKTAF PASKAH (P)
Sta.Bernadetha Soubirous; St. Paternus
Bacaan I: Kis. 3:11 - 26
Mazmur: 8: 2a.5.6-7.7-9; R:2ab
Bacaan Injil: Luk. 24: 35 - 48

Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimanan mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-memecahkan roti. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka:” Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka:” Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini, rabalah Aku dan lihatlah, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka.” Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka:” Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan ktab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Renungan

Orang tekun beda dengan orang pandai. Orang tekun mungkin tidak berpikir secepat orang pandai, tetapi justru memiliki keuatan dalam ketekunannya. Karena orang tekun biasanya lebih mampu bertahan dan berjuang khususnya dalam situasi sulit. Para murid Yesus masih terkejut dan takut ketika mengalami kehadiran Yasus yang bangkit, namun hal itu lebih-lebih karena mereka belum sungguh-sungguh memahami Kitab Suci. Maka, Yesus” membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.” (Luk. 24:45). Petrus menegur banyak orang yang telah menolak Yesus, Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai gantinya (bdk, Kis. 3:14). Namun, Petrus menyadari bahwa mereka melakukan semua itu” karena ketidaktahuan” orang-orang itu (bdk. Kis. 3:17).

Tampaknya, bukan orang pandai yang lekas menerima kebenaran iman, melainkan orang bersahaya; yang bersedia dibimbing oleh Roh untuk sampai pada pengalaman iman. Percaya pada Yesus yang bangkit dan setia pada ajaran-Nya akan membuat kita mampu melakukan hal-hal besar dalam hidup. Iman membutuhkan ketekunan. Kita bisa mewujudkan ketekutan dalam iman itu dengan hadir dalam kebersamaan merayakan Ekaristi dan mendengarkan kembali sabda Tuhan sebagai makanan rohani sehari-hari.

Tuhan Yesus, anugerahkanlah kami rahmat ketekunan dan kesetiaan. Amin.


JUMAT


JUMAT
17 April 2020
Bacaan I: Kis. 4:1-12
Mazmur: 118:1-2.4.22-24.25-27A;R22
Bacaan Injil: Yoh. 21:1-14

Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai, akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka: “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

Renungan

Kalau berpuluh-puluh tahun tidak bertemu dengan seseorang, kita merasa ragu-ragu apakah yang ada di hadapan kit aitu adalah orang yang sama. Di tengah keraguan seperti itu, biasanya kita mengingat hal-hal yang dahulu hanya dilakukannya, sampai kita yakin bahwa ia adalah orang yang ada dalam ingatan kit aitu. Hal itu juga dialami para murid di tepi Danau Tiberias. Mereka baru mengenali-Nya kembali setelah  menangkap banyak ikan sesuai dengan perintah Yesus (bdk. Yoh. 21:6-7). Petrus dan Yohanes pun dengan berani menghadapi para pemimpin Yahudi yang menangkap mereka, dan memberitahukan bahwa kuasa penyembuhan orang lumpuh itu berasal dari Yesus Kristus yang sama, yang telah mereka salibkan (bdk. Kis. 4:10). Dalam keteguhan iman yang besar, kita akan mampu menghasilkan hal-hal yang besar, asalkan berani mengandalkan Yesus Kristus, dasar iman kita dan seluruh Gereja.

Tuhan Yesus, bukalah mata iman kami agar kami tetap mengenal-Mu di zaman ini. Amin.