Bacaan Injil


JUMAT


JUMAT
21 September 2018
Pekan Biasa XXIV (H)
Pesta St. Matius, Rasul & Pengarang Injil (M)

Bacaan I: Ef. 4:1-7.11-13
Mazmur: Mzm. 19:2-3.4-5; R:5a
Bacaan Injil:  Mat. 9:9-13

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Renungan
Banyak orang tua terkejut, kagum, dan terpana menyaksikan khutbah seorang imam muda yang baru ditahbiskan dalam perayaan misa perdananya. Bukan sekadar khotbahnya yang menarik dengan penampilan energik, tetapi beberapa kesaksian dalam penggalan khotbahnya berkisah perihal hidup yang pernah dilaluinya; “kenakalan anak muda”, tidak terlibat dalam kegiatan iman, dan sebagainya. Sebuah pembalikan total dari identitas yang kini dilakoninya.
Setiap orang memiliki cara dan jalan dalam pelbagai panggilan hidup serta perutusannya. Ada yang langsung dan cepat, tetapi ada yang mengikuti jalan berliku dengan pelbagai pengalaman. Panggilan dan perutusan Tuhan itu diwartakan kepada siapapun dengan latar beklakang apapun untuk pelbagai tugas dan tanggung jawab dalam membangun persekutuan tubuh Kristus (bdk. Ef. 4:11-12). Panggilan kemuridan hendak menegaskan bahwa setiap orang diundang untuk ambil bagian dalam proyek keselamatan Allah di dunia ini. Panggilan untuk menjadi murid dan saksi cinta Yesus menuntut jawaban dan kesediaan tanpa syarat (bdk. Mat. 9:9).
St. Matius, Rasul dan Pengarang Injil yang dipestakan hari ini menunjukkan panggilan universalitas Allah terhadap siapa saja yang terbuka dan ambil bagian dalam perutusan-Nya (bdk. Mat. 9:12). Matius menjawab panggilan kemuridan Tuhan dengan ambil bagian dalam karya Yesus dan meneruskan kesaksian tentang Yesus dengan Injil yang dituliskannya. Dalam kisah panggilan Matius, kita menemukan kasih Allah yang terbuka bagi mereka yang dianggap pendosa oleh dunia.

Doa

Ya Yesus, panggillah banyak kaum muda kami untuk ambil bagian dalam karya misi-Mu di dunia ini. Semoga dunia semakin dipenuhi kedamaian dan cinta persaudaraan oleh kesaksian banyak orang tentang Dikau. Amin.

 

SABTU


SABTU
22 September 2018
Pekan Biasa XXIV (H)
St. Thomas dr Vilkanova; St. Mauritius, dkk.
St. Ignatius dr Santhi, ImBiarw

Bacaan I: 1Kor. 15:35-37.42-49
Mazmur: Mzm. 56:10.11-12.13-14; R:14b
Bacaan Injil:  Luk. 8:4-15

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

Renungan
Seorang petani mengetahui tempat atau tanah yang baik dan subur untuk menaburkan benih. Dan karenanya, kualitas tanah amat menentukan pertumbuhan serta hasil yang akan didapatkan. Selain itu, seorang petani juga biasanya mengetahui teknik serta pengolahan sehingga tanah yang gersang sekalipun dapat diubah menjadi lahan subur bagi tanaman-tanaman.
Yesus menegaskan agar hidup setiap orang berbuah dan bermakna bagi sesama. Setiap orang beriman dituntut untuk menjadi berkat yang membawa kebahagiaan serta keselamatan bagi manusia dan dunia ini. Allah telah berbicara dalam banyak cara dan peristiwa hidup manusia. Allah mengajarkan cinta dan mengundang manusia untuk terlibat dalam karya keselamatan-Nya. Lalu, bagaimana tanggapan manusia? Apakah hidup kita menjadi tanah yang subur bagi Sabda Allah ataikah merupakan tanah yang gersang yang tidak menghasilkan apa-apa?

Doa

Tuhan, jadikanlah hidupku berarti dan bermakna bagi orang lain sehingga hidupku membuahkan hasil berlipat ganda. Amin.


MINGGU


MINGGU
23 September 2018
Pekan Biasa XXV (H)
St. Pius dr Pietrelcina (Padre Pio), Im (P); St. Linus; Sta. Tekla

Bacaan I: Keb. 2:12.17-20
Mazmur: Mzm. 54:3-4.5.6.8; R:6b
Bacaan II: Yak. 3:16 - 4:3
Bacaan Injil:  Mrk. 9:30-37

Setelah Yesus dimuliakan di atas gunung, Ia dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.
                Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

Renungan
“Tidak ada makan siang yang gratis”. Istilah ini sering muncul dalam dunia politik di tanah air. Kata-kata pujian, kedekatan, dan keakraban politis, silaturahmi pada tokoh politik tertentu yang sejatinya berbeda haluan, seringkali menjadi perbincangan dan melahirkan ragam tafsir. Ujung-ujungnya orang menduga ada kepentingan tertentu yang menjadi tujuan. Sejatinya sikap dan pilihan politik selalu dikaitkan dengan pelayanan publik, demi kebaikan dan kesejahteraan hidup banyak orang. Maka, pelaku politik sejatinya merupakan pelayan publik.
Yesus dalam pewartaan dan panggilan murid-murid-Nya telah menegaskan posisi dan sikap kemuridan sebagai pelayan cinta kasih bagi sesama. Penegasan ini dikemukakan karena para murid masih keliru memahami konsep ke-Mesias-an Yesus. Bagi para murid, Yesus adalah Mesiasa duniawi yang akan memerintah bangsa Israel. Karena itu, intensi para murid pun masih dibayangi konsep jabatan dan kekuasaan duniawi (bdk. Mrk. 9:33-34). Pemahaman keliru para murid tentang Mesias diluruskan kembali oleh Yesus. Panggilan kemuridan merupakan panggilan dalam pelayanan, berani menjadi kecil, meninggalkan kepentingan diri sendiri, bahkan siap menderita dan berkurban demi keselamatan dan kebahagiaan orang lain. Yesus Mesias adalah Yesus yang menderita, dibunuh, tetapi bangkit untuk keselamatan manusia (bdk. Mrk. 9:31). Inilah tindak pembelajaran dari sebuah pelayanan tiada batas.

Doa

Yesus yang Mahabaik, terima kasih atas keselamatan yang aku terima dari kemurahan-Mu. Mampukanlah aku untuk berkorban dan rela melayani sesama seperti yang telah Engkau tunjukkan kepadaku. Amin.