Bacaan Injil


JUMAT


JUMAT
23 AGUSTUS 2019
PEKAN BIASA XX (H)
Sta. Rosa da Lima, Prw.; St. Filipus Benizi;
B. Berardus dr Offida, Biarw.

Bacaan I: Rut. 1: 1.3-6.14b-16.22
Mazmur: Mzm. 146:5-10; R: 2a
Bacaan Injil:  Mat. 22: 34-40

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Renungan
                Erich Fromm, filsuf dan psikolog terkemuka membedakan antara cinta yang tak dewasa dan cinta yang dewasa. Cinta yang tak dewasa: “Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu.” Cinta yang dewasa: “Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu”. Karena cinta, Rut menguatkan hatinya untuk meninggalkan bangsanya lalu mengikuti mertuanya ke tanah Yehuda, serta mencintai bangsa dan Allah Israel. Kesetiaan cinta Rut membawanya ambil bagian dalam garis keturunan Sang Mesias. Ketulusan cinta Rut menempatkan namanya sebagai salah satu wanita terpuji (bdk. Rut. 4: 13-17).
                Yesus mengajarkan perihal hukum yang utama, mengasihi Tuhan dan sesama (bdk. Mat. 22: 37-39). Hukum emas ini merupakan penegasan dan ajaran yang mengatasi keseluruhan hukum serta ajaran lain. Hukum kasih ini hendak menunjukkan bahwa Allah sendiri adalah Kasih. Dari-Nya kita menimba dan menghidupi semangat kasih untuk mencapai kesempurnaan dalam mengasihi. Sifat dan sikap manusiawi cenderung mengutamakan diri dan berpusat untuk diri sendiri saja. Semangat cinta diri pada akhirnya membawa orang pada pengabaian Allah. Kita lebih mementingkan hasil dan pekerjaan, kesuksesan, ambisi pribadi, dan sebagainya. Akhirnya doa, tindakan baik, kegiatan-kegiatan rohani, hanya sekedar pelengkap dalam keseharian. Ketika relasi dengan Allah memudar, relasi dengan sesama pun mengalami kekeringan. Sikap egois, mencari keuntungan dan keselamatan diri sendiri, kebencian dan balas dendam, menunjukkan pudarnya kasih dan matinya cinta.

Doa

Ya Tuhan Yesus, berilah aku semangat kasih agar aku dapat mengasihi Engkau dan sesamaku dalam setiap kata dan perbuatan. Semoga akhirnya kami semua mampu untuk mengasihi satu sama lain. Amin.


SABTU


SABTU
24 AGUSTUS 2019
PEKAN BIASA XXI
Pesta St. Bartolomeus, Rasul (M)
Sta. Emilia de Vialar

Bacaan I: Why.21: 9b-14
Mazmur: Mzm. 145: 10-13b.17-18; R: lih. 12
Bacaan Injil:  Yoh. 1: 45-51

Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."

Renungan
                Pertemuan. Sebuah kata sederhana, namun sarat makna. Sederhana karena terlalu sering diucapkan atau dapat setiap waktu terjadi. Kalau sederhana mengapa harus sarat makna? Pertemuan bukanlah kejadian dimana dua orang berada berada bersama di suatu tempat pada saat yang bersamaan. Pertemuan selalu berarti hadir bersama dengan seseorang. Karena itulah pertemuan selalu sarat makna.
Kehadiran Yesus ditengah bangsa-Nya mengundang kekaguman, keterpesonaan dan membawa keyakinan akan keselamatan. Kekaguman dan keterpesonaan membawa para murid untuk datang mendengar, melihat, dan mengalami kehadiran Yesus (bdk. Yoh. 1: 47). Kekaguman akan cerita tentang Yesus membawa pada proses kemuridan oleh karena sebuah pertemuan. “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.” (Yoh. 1: 49). Penggilan kemuridan berawal dari perjumpaan dengan Yesus yang memanggil para murid untuk hadir bersama mewartakan Kerajaan Allah.
St. Bartolomeus Rasul yang dipestakan oleh Gereja kudus pada hari ini mengajarkan kepada kita untuk ambil bagian dalam kemuridan Kristus. Panggilan kemuridan adalah inisiatif Tuhan sendiri. Tetapi Tuhan meminta jawaban dan kesediaan untuk ambil bagian dalam perutusan-Nya. Tindakan untuk datang kepada-Nya, mendengar, berjumpa dan hadir bersama Yesus adalah perjalanan seorang murid. Hadir bersama Yesus berarti pula hidup dan ambil bagian dalam tugas perutusan-Nya.

Doa
Tuhan Yesus Kristus, jadikanlah aku murid-Mu untuk membawa kasih dan cinta-Mu bagi semua orang melalui kata, tindakan dan perbuatanku. Amin.



MINGGU


MINGGU
25 AGUSTUS 2019
O PEKAN I
PEKAN BIASA XXI (H)
St. Ludowikus; St. Yosef dr Calasanz;
B. Maria dr Yesus Tersalib

Bacaan I: Yes. 66: 18-21
Mazmur: 117:1.2; R: Mrk. 16: 15
Bacaan II: Ibr. 12: 5-7, 11-13
Bacaan Injil:  Luk. 13: 22-30

Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir."

Renungan
                Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.” Peribahasa dari Soekarno, Presiden pertama Indonesia ini menegaskan pentingnya sebuah perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai cita-cita dan kebahagiaan. Kesuksesan dan kebahagiaan tidak datang dengan sendirinya. Dibutuhkan keuletan, kesungguhan, dan perjuangan walau harus berkorban waktu, tenaga, dan air mata.
                Yesus menegaskan bahwa setiap orang diundang untuk ambil bagian dalam keselamatan. Undangan keselamatan membutuhkan jawaban. Jawaban atas undangan Allah inilah iman. Iman mesti menyata dalam hidup, usaha dan tindakan sesuai dengan kehendak dan sabda Allah. Keselamatan diberikan oleh Allah secara gratis kepada manusia sebagai anugerah yang teramat besar. Namun manusia harus terus-menerus mencari dan memperjuangkan keselamatan itu dalam sikap dan tindakan hidup keseharian (bdk. Lukas 13:24). Inilah medan hidup kita. Itulah lahan perjuangan hidup beriman. Hidup dan keseharian menjadi warta dan kesaksian dalam perwujudan iman. Beriman bukan sekadar pengakuan verbal saja. Beriman menuntut perwujudan dalam hidup dan perbuatan. Keselamatan diperoleh bukan karena identitas belaka melainkan oleh kesanggupan dan kesetiaan untuk menghidupi, mempertanggungjawabkan dan menyatakan iman secara benar dalam hidup dan perbuatan. Apakah identitas keberimanan kita sudah menyata dalam keseharian hidup dan tindakan?

Doa
Tuhan Yesus Kristus, aku bersyukur karena Engkau telah memberikan keselamatan dalam hidupku. Bantulah aku agar berani memberi kesaksian tentang kasih-Mu bagi banyak orang dimanapun aku berada. Amin.