Bacaan Injil


JUMAT


Jumat, 26 Mei 2017
PEKAN PASKAH VI (P)
Pw St. Philipus Neri (P); Sta. Mariana dr Quito
Bacaan I            : Kis 18: 9 – 18
Mazmur            : 47: 2 – 3. 4 – 5. 6 – 7; R: 8a
Bacaan Injil       : Yoh 16: 20 – 23a

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berduka cita, tetapi duka citamu akan berubah menjadi suka cita. Seorang  perempuan berduka cita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirka ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi duka cita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. Dan pada hari itu, kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.”

Renungan
Pada kampanye pemilihan calon presiden RI tahun 2014, pasangan calon yang banyak dizalimi orang adalah pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Pak Jokowi dicap macam-macam oleh lawan politik. Mulai dari isu keagamaan sampai pada isu meragukan kemampuan beliau untuk menjadi seorang presiden. Kampanye hitam (black campaign) tersebut bahkan didukung oleh sebuah koran yang terbit hanya pada saat kampanye saja. Isu-isu negatif terhadap beliau berpuncak ketika lawan politik mencap Pak Jokowi dari keluarga mantan PKI. Semua isu itu ditanggung dengan sabar oleh beliau. Alhasil, beliau terpilih menjadi Presiden RI. Riuh rendah kampanye hitam seakan kabur diterbangkan oleh angin, entah ke mana. Bangsa Indonesia senang karena Pak Jokowi akhirnya terpilih, walau harus menanggung banyak makian.
Yesus mengingatkan para murid-Nya bahwa nasib hampir serupa akan mereka alami karena nama-Nya, “… Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berduka cita, tetapi duka citamu akan berubah menjadi suka cita” (Yoh 16: 20). Yesus menghimbau mereka bahwa perlakuan tidak adil yang dialami-Nya selama hidup, bakal dialami juga oleh para murid-Nya. Tetapi, seperti Dia kemudian bangkit mulia jaya dari kematian, maut telah dikalahkan-Nya, demikian pun kegembiraan yang dialami para murid. Mereka akan bersuka cita, “…dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu” (Yoh 16: 22). Hidup iman juga selalu dibingkai oleh pengalaman duka dan suka seperti ini.

Tuhan Yesus, sanggupkanlah untuk menerima berbagai cobaan dalam hidup imanku. Aku percaya bahwa hanya rahmat-Mu yang bisa membawa aku kepada kesetiaan untuk menerima segala keadaan dalam hidupku. Amin.



SABTU


Sabtu, 27 Mei 2017
PEKAN PASKAH VI (P)
St. Agustinus dr Centerbury; St. Yulius
Bacaan I            : Kis 18: 23 – 28
Mazmur            : 47: 2 – 3. 8 – 9. 10; R: 8a
Bacaan Injil       : Yoh 16: 23b – 28  

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang, kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah, maka kamu akan menerima, supaya penuhlah suka citamu. Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu, kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa sebab Bapa sendiri mengasihi kamu kaena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”

Renungan
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sebuah pepatah yang tetap mempunyai makna mendalam untuk kehidupan hingga saat ini. Sebuah pekerjaan berat akan terasa ringan kalau dikerjakan secara bersama. Sebaliknya, akan terasa berat kalau dilakukan seorang diri. Makna bernas di balik pepatah ini adalah betapa indahnya hidup bersama, bahu membahu, saling membantu. Hakikat hidup seharusnya sepert itu. Tidak ada orang hidup seperti sebuah pulau (no man is an island) yang kokoh berdiri sendiri, tetap bermanfaat di dalam dirinya sendiri. Hidup manusia tidak demikian, hanya akan berarti di dalam kebersamaan dengan orang lain.
Hal serupa dialami oleh Apolos dan teman-teman dalam tugas mewartakan Yesus yang mereka Imani di tengah bangsa-bangsa. Ketika dia berada di Efesus, beberapa jemaat di sana membawanya ke rumah, melengkapi pengetahuannya tentang Yesus yang terus diwartakan. “…mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya jalan Allah” (Yoh 18: 26). Apolos meneruskan perjalanan ke kota Akhaya untuk menjumpai saudara-saudara di sana. Maka, saudara-saudara di Efesus mengirimkan surat kepada murid di situ supaya menjemput dan menerima Apolos di sana. Mereka kuat karena mereka bersatu dan selalu bersama dalam menjalankan tugas pewartaan. Bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh, mungkin prinsip yang perlu selalu mengisi kesadaran Gereja zaman ini agar karya pewartaan bisa menjangkau banyak hati dan banyak bangsa.

Tuhan Yesus, rajutlah di dalam diriku, kesadaran akan betapa pentingnya menjalin kebersamaan dalam hidup imanku. Kalahkanlah beragam sikap yang membuat kebersamaan itu redup dalam hidupku. Amin.




MINGGU


Minggu, 28 Mei 2017
PEKAN PASKAH vII (P)
St. Eugenius dr Mazenod OMI; St. Godrikus; St. Herman Yoseph
Bacaan I            : Kis 1: 12 – 14
Mazmur            : 27: 1. 4. 7 – 8a; R: 13
Bacaan II           : 1Ptr 4: 13 – 16   
Bacaan Injil       : Yoh 17: 1 – 11a

Dalam perjamuan malam terakhir, Yesus menengadah ke langit dan berdoa, ”Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya, kuasa atas segala yang hidup, demikian pula, Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya, Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti Firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala Firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari pada-Mu dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia dan Aku datang kepada-Mu.”

Renungan
Yesus selalu berdoa setiap kali menghadapi situasi penting dalam hidup-Nya. Ia menyadari bahwa diri-Nya tidak lain hanya sebagai utusan Bapa. Ia selalu berkomunikasi dengan Bapa-Nya bila menghadapi sebuah kenyataan yang membutuhkan keputusan. Hal ini tampak ketika Ia tahu bahwa tak lama lagi Ia harus menderita. Ia berdoa kepada Bapa-Nya agar semua yang telah dikerjakan-Nya bersama para murid akan tetap berlanjut. Ia tahu, bukan tugas mudah untuk melanjutkan semua itu. Seperti diri-Nya harus menderita karena melaksanakan tugas perutusan Bapa, demikian pula nasib yang dialami para murid yang menjadi generasi penerus semua yang telah dikerjakan-Nya. Karena itu, Ia berdoa agar semua yang percaya kepada-Nya tetap dijaga dan dilindungi.
Tugas perutusan Kristus kini diemban oleh Gereja. Ia berharap Gereja terus mengajarkan tentang Allah yang benar, yang akan tetap memberikan hidup yang kekal kepada dunia. Kita adalah bagian dari Gereja universal yang turut mengemban tugas yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Bertepatan dengan hari komunikasi sedunia hari ini, kita diingatkan untuk menjadikan sarana komunikasi era digital ini sebagai sarana pewartaan yang memberikan informasi yang benar, penuh suka cita, dan menyelamatkan banyak orang. Tidak mudah melaksanakan tugas pewartaan ini. Akan tetapi, jangan gentar karena seperti yang dijanjikan oleh Yesus, Allah akan selalu menyertai dan melindungi kita.

Tuhan Yesus, berkatilah karya pewartaan Gereja-Mu beserta sarana komunikasi yang ada. Semoga aku dapat menggunakan sarana komunikasi yang semakin canggih ini untuk mendekatkan Engkau kepada semakin banyak orang dan semakin banyak umat-Mu diberkati. Amin.