Bacaan Injil


JUMAT


JUMAT
20 April 2018
Pekan Paskah III (P)
St. Teodorus Trichinas; Sta. Oda

Bacaan I: Kis.9: 1-20
Mazmur: Mzm. 117: 1.2; R: Mrk: 16:15
Bacaan Injil:  Yoh. 6: 52-59

Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar- benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal didalam Aku dan Aku didalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.

Renungan
Yesus kembali berbicara tentang Roti Hidup dan hidup kekal. Roti hidup tidak lain adalah Tubuh-Nya sendiri. Dengan menyantap Roti Hidup kita akan menjadi kenyang. Menjadi kenyang berarti kita sampai pada keyakinan akan Yesus sebagai sang Roti Hidup yang memberikan kehidupan kekal. Sebagai manusia beriman, kita memiliki tubuh jasmani dan jiwa serta roh. Tubuh biologis dikuatkan oleh makanan dan minuman jasmani. Jiwa dan roh kita juga membutuhkan makan supaya beroleh kekuatan dan bertahan hidup. Makanan jiwa dan roh kita adalah Roti Hidup, yakni Kristus yang kita santap melalui komuni suci dalam Ekaristi.
Ekaristi merupakan pengenangan dan penghadiran Kristus yang menderita di salib, wafat, dan bangkit menyelamatkan dunia. Dalam Ekaristi kita memercayai bahwa darah dan tubuh Kristus telah tercurah untuk menyelamatkan manusia dari hukuman kekal. Melalui perayaan Ekaristi pula, kita diingatkan akan kematian dan pengorbanan Kristus. Maka, dengan merayakan Ekaristi, berarti kita mengungkapkan iman kita kepada-Nya. Setiap kali menyantap santapan Ekaristi kita bersatu dengan Kristus dan melalui kesatuan itu kita memperoleh kekuatan yang menjamin hidup hingga kekal. Anugrah keselamatan yang kita terima melalui Ekaristi tidak boleh berhenti hanya pada diri kita. Sukacita keselamatan itu patut diwartakan dan ditawarkan kepada sesama.

Doa
Tuhan Yesus, Terima kasih atas tubuh-Mu sebagai santapan jiwaku. Semoga aku selalu rindu untuk menyantap tubuh-Mu yang menjadi jaminan hidup kekal. Amin.



SABTU


SABTU
21 April 2018
Pekan Paskah III (P)
St. Anselmus; St. Simon bar Sabbae; St. Konradus dr Parzham

Bacaan I: Kis.9: 31-42
Mazmur: Mzm. 116: 12-13. 14-15. 16-17; R: 12
Bacaan Injil:  Yoh. 6: 60-69


Sesudah mendengar semua yang dikatakan Yesus tentang Roti Hidup, banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat dimana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah kukatakan kepada-Mu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengarunikannya kepadanya.” Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah yang Kudus dari Allah.”

Renungan
Menjadi pengikut Yesus dan menjadi murid-Nya bukanlah perkara yang mudah. Mungkin banyak diantara kita yang mengikuti Yesus hanya karena menyaksikan atau mendengar mukjizat-mukjizat yang telah Ia lakukan. Bahkan, masih ada diantara kita yang meminta suatu tanda agar percaya. Beriman dengan cara seperti ini tidak memiliki dasar yang kokoh, sehingga mudah goyah dan diruntuhkan. Mengikuti Yesus dan mewujudkan sabda-Nya dalam kehidupan sehari-hari menuntut sikap penyangkalan diri dari pihak manusia. Hal ini tidak mudah dilaksanakan oleh manusia.
Seringkali manusia melihat sabda Yesus sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, seperti halnya gagasan “Allah yang menjadi santapan.” Manusia memandang bahwa ajaran-ajaran Yesus itu sulit, sehingga mereka meninggalkan Yesus. Namun, rasul Petrus bisa meneguhkan iman kita. Jawaban Petrus “Kepada siapakah kami akan pergi…” mau mengingatkan kita bahwa satu-satunya jaminan kehidupan adalah Yesus. Ajaran Yesus tentang Roti Hidup, menunjukkan kepada kita ke mana kita harus pergi untuk menemukan jaminan hidup di dunia dan di akhirat. Datanglah kepada Yesus sang Roti Hidup. Sambutlah Dia dan tinggallah bersama-Nya.

Doa
Tuhan Yesus, sabda-Mu sungguh mengagumkan dan menguatkan. Teguhkanlah aku dalam melaksanakan sabda-Mu sehingga aku tetap kokoh dalam mengikuti-Mu dengan tetap berpegang pada sabda-Mu. Amin


MINGGU


MINGGU
22 April 2018
Pekan Paskah IV (P)
HARI MINGGU PANGGILAN
St. Soter dan Kayus; B. Maria Gabriella; St. Teodoros; St. Yosef Moscati

Bacaan I: Kis.4: 8-12
Mazmur: Mzm. 118: 1.8-9.21-23.26.28cd.29; R: 22
Bacaan Il: 1Yoh. 3: 1-2
Bacaan Injil:  Yoh. 10: 11-18

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya daripada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”

Renungan
Akulah gembala yang baik.”, kata Yesus. Ia memperkenalkan diri sebagai Gembala. Seorang gembala akan menjaga kawanan domba dari pelbagai ancaman, baik perampok atau binatang buas. Ia rela mempertaruhkan nyawa demi menjaga kawanan. Bagi kita, Yesus merupakan seorang Gembala Sejati yang memelihara, melindungi dan berkorban bagi domba-domba-Nya. Ia menuntun kita ke tempat yang benar dan penuh kedamaian. Sebagai domba-domba-Nya kita perlu mendengarkan suara-Nya dan taat kepada-Nya. Yang dibutuhkan dari kita sebagai domba adalah percaya kepada-Nya. Percaya berarti kita menyerahkan diri kepada-Nya sebagai Sang Gembala yang baik.
Pernyataan Yesus sebagai satu-satu-Nya gembala yang baik, juga mengingatkan bahwa disekitar kita ada suara lain yang bisa menyesatkan domba. Suara yang mencoba meniru suara Sang Gembala dengan menjanjikan kenyamanan serta kenikmatan, tetapi tidak menjanjikan keselamatan. Suara itu menyesatkan. Karena itu, kita harus menjadi domba yang bisa membedakan suara Sang Gembala Sejati dengan gembala gadungan. Salah satu cara untuk mengenal suara Sang Gembala ialah dengan menjalin relasi personal dengan-Nya. Meskipun jalan kita berliku dan berbelit-belit, kita tidak akan tersesat kalau kita mendengarkan suara-Nya.

Doa
Tuhan Yesus Sang Gembala kami, tuntunlah aku sebagai kawanan-Mu. Janganlah biarkan aku tersesat, tetapi mampukanlah aku untuk selalu mendengar dan mengenali suara-Mu.  Amin.