**** Misa Sabtu, 18 November Pkl.17.30 *** Minggu , 19 November Pkl. 07.00 & Pkl.09.00 *** English Mass Sunday, Nov. 19th at 11.30 AM ****

GEREJA KRISTUS RAJA MENJADI "OASE" PERTEDUHAN JIWA













Gereja Kristus Raja

Adalah salah satu Gereja Katolik. Terletak di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta khususnya tergabung dalam wilayah dekenat Jakarta Pusat. Gereja Kristus Raja didirikan sejak tahun 1972 yang sejak awal dikelola oleh Misionaris Kongreasi Hati Maria Tak Bernoda (CICM). Baru pada tahun 2004 paroki Kristus Raja diserahkan kepada imam-imam diosesan. Sejak awal sampai saat ini sudah terdapat 8 pastor yang pernah berkarya (4 pastor- CICM dan 4 pastor projo). Maka genaplah 40 tahun Paroki Kristus Raja pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Minggu 25 November 2012.


Paroki Kristus Raja adalah bagian dari anggota Tubuh Kristus yang masih terus berjuang menuju kesempurnaan hidup seperti Allah Bapa adalah sempurna. Maka dengan semangat Caritas et Servitio (Kasih dan Pelayanan), marilah kita bertekad untuk semakin setia kepada Kristus Raja sebagai pelindung paroki; menjadi teladan dan semakin berbakti kepada masyarakat khususnya yang miskin dan papa seperti Kristus yang selalu setia kepada seluruh umatnya sampai akhir zaman. Sesuai dengan tema perayaan syukur Hari Ulang Tahun Gereja Kristus Raja : “Kesetiaan Kristus Imam Agung, Teladan Umat Beriman”.


VISI
Menjadi pesekutuan umat yang dinamis dan seimbang dalam iman, harapan dan kasih.

MISI
- Meningkatkan kehidupan di lingkungan-lingkungan dan kelompok-kelompok kategorial dalam membangun komunitas basis.
- Meningkatkan pengetahuan dan penghayatan iman, melalui penyegaran iman yang berkesinambungan.
- Meningkatkan semangat keterbukaan akan pembaharuan dalam mewujudnyatakan habitus baru. (Habitus berasal dari- bahasa Latin yang berarti kebiasaan)
- Meningkatkan keseimbangan antara doa, kasih dan karya dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.

GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA "OASE" Di TENGAH KEGERSANGAN KOTA



GEREJA “DAUN” KRISTUS RAJA - OASE PERTEDUHAN JIWA

Perkenankanlah kami umat-Mu mempersembahkan sebuah Gereja, yang sederhana, teduh, agung, indah dan gagah bagi Putra-Mu Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja. Sebuah rumah perteduhan bagi jiwa-jiwa yang letih lesu dan berbeban berat untuk mendapatkan kesegaran, bagaikan Oase yang memberikan kesejukan di tengah kegersangan kota.

I Wayan Winten, seniman beragama Hindu.

Karya : Pohon Salib Kristus, Patung Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria.
Pohon Salib Kristus merupakan salah satu karya paling unik yang terdapat di Gereja Kristus Raja, Pejompongan. Dibuat dari sebuah batang pohon jati tua yang sudah berusia ratusan tahun dengan ketinggian 8 meter dan di dalamnya diukir Patung Kristus dengan ekspresi hampir wafat, tidak lazim seperti salib pada umumnya. I Wayan Winten, sang seniman, beberapa kali mengalami “taksu” secara spiritual atas karyanya. Taksu sebuah filosofi Bali, secara sederhana berarti enerji yang menghantarkan kita pada sebuah kesaktian. Bukan enerji yang datang begitu saja, melainkan datang lewat ketekunan dan pengabdian sungguh-sungguh. Mengutip komentar Bapak Shindu Hadiprana : “Sesuatu yang berawal dari Tuhan, bila diberdayakan tanpa pamrih, pasti akan menjadi berkat terbesar dan karya terbesar.”


Sebuah pohon besar yang kokoh tidak mungkin berdiri tanpa akar-akar yang kokoh, batang yang menyangga, ranting-ranting dan dedaunan yang mendukung kehidupannya. Begitu pula dalam Paroki Kristus Raja yang baru. Ada banyak sekali akar-akar, ranting dan dedaunan yang menyangga tegaknya gereja ini sehingga terlihat megah dan teduh, yaitu berupa umat-umat yang mau berkorban serta peduli dengan kehadiran gereja baru. Mereka yang meluangkan segenap tenaga dan pikiran dan berhasil mengalahkan egonya untuk terjun langsung dalam kegiatan sosial pembangunan gereja Kristus Raja yang baru. Yang menyerahkan diri mereka untuk diterpa badai pro dan kontra akan berdirinya sebuah bangunan megah ditengah kemajemukan masyarakat Jakarta, khususnya warga Pejompongan.


Doa
Gereja yang kita miliki sekarang adalah jawaban atas doa yang tak kunjung henti dari kita semua. Dalam doa, manusia menyadari keterbatasannya bahwa tidak semua hal dapat dikerjakan sendiri oleh tangan manusia. Dan sungguh nyatalah iman kita bahwa hal yang tidak dapat dikerjakan manusia, dikerjakan oleh Allah.“Do your best and He shall takes the rest!!”

.

Banyak hal yang agak tidak mungkin, menjadi mungkin karena kehadiranNya. Awalnya muncul sejumlah keraguan, tapi berakhir dengan keyakinan. Rasa takut terkalahkan oleh rasa aman dalam perlindungan kasihNya. Inilah buah doa yang kini kita tuai dan kita syukuri. Bahkan, buah doa itu tampil dengan cara cara yang luar biasa, mengena untuk kita dan mereka semua yang berdoa dan ambil bagian dalam pembangunan rumahNya ini.


Cerita berikut dapat menjadi contohnya :

“Beberapa bulan yang silam, seorang tukang bangunan pernah secara pribadi datang kepada saya. Saking segannya
berjumpa dengan seorang romo, ia tidak berani datang ke pastoran dan justru menunggui saya sehabis misa harian di atas jembatan dekat gereja hanya untuk mengucapkan terima kasih dan ucapan syukur yang mendalam. Atas apa? Atas doa yang dikabulkan. Ternyata saat acara tumpengan bersama dengan para tukang bangunan pasca pengecoran basement, ia mengingat betul doa saya yang salah satunya ditujukan untuk kerukunan hidup rumah tangga pada tukang. Dan menurut kisahnya, saat itu ia hampir empat (4) bulan lamanya tidak lagi berbicara dengan istrinya: rumah tangganya di ambang perpecahan. Namun beberapa jam setelah doa bersama dan tumpengan, tak diduga, istrinya di kampung halaman kembali menghubungi dia, dan kini rumah tangga mereka kembali harmonis. Tak henti hentinya ia memegang tangan saya, menundukkan kepala berulang kali dan mengucapkan terima kasih atas doa yang dikabulkan tersebut. Saya trenyuh dan terharu. Dan saya yakin bahwa inilah buah dari doa. Inilah karya Tuhan yang luar biasa bagi mereka yang ikut membangun rumahNya”.


PEMIMPIN GEREJA KRISTUS RAJA

Pastor Kepala

Pastor Jacobus Tarigan (Pastor Jack)

Lahir di Deli Tua (Sumatera Utara) 01 Juni 1955. Sebagai seorang Imam Pastor Jack menempuh pendidikan dan mendapat predikat Sarjana Filsafat dan Teologi dari Universitas ( Sebelumnya IKIP ) Sanata Dharma, Yogjakarta Jurusan Filsafat dan Teologi pada tahun 1983.

BELAJAR MENGAJAR
Setelah hampir dua tahun menjalankan tugas pelayanan sebagai Pastor Rekan di Paroki Santa Anna, Duren Sawit, Jakarta Timur, Pastor Jack berkesempatan melanjutkan studi di Universitas Gregoriana, Roma, mengambil jurusan Teologi Spiritualitas.

Pastor Jack belajar dengan baik dan menikmati hari-harinya sehingga pastor Jack berhasil lulus dengan predikat " Summa cum laude" dengan pujian tertinggi dan mendapatkan gelar Licentiat (S2) dari Universitas tersebut pada tahun 1988.
Pastor Jack menulis tesis Guida e Consiglio Pastorale Delle Coppie Irregolari Nel Luce Adhoratio Apostolica; Familiaris Consortio ( De Familiae Christianae Muneribus in Mundo hujus temporis) ; Acta Apostolicae Sedis (AAS) (1982) 81-191. (Pendekatan pastoral terhadap keluarga-keluarga retak dalam terang dokumen Familiaris Consortio)
Kembali ke tanah air, Pastor Jack langsung mendapatkan tugas sebagai Sekretaris Komisi Kerasulan Awam Konferensi Indonesia (KWI) dan sebagai Moderator Komisi Kerasulan Awam Konferensi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) tahun 1988-1998. Pastor Jack adalah orang yang suka berbagi ilmu. Sejak menjadi mahasiswa Filsafat dan Teologi pada Seminari Tinggi St.Paulus, Yogjakarta, Pastor Jack sudah mengajar pada Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Pastor Jack pernah mengajar Agama Katolik di SMA Santa Maria, Yogjakarta (1981-1982), juga memberi kuliah Agama Katolik pada Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (1982), serta di Universitas Katolik Atma Jaya, Yogjakarta (1981-1983).

Sejak 1980 sampai saat ini , Pastor Jack menjadi dosen Matakuliah Pendidikan Kepribadian (MPK) pada Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya, Jakarta. Selain itu sejak 2005 sampai sekarang menjadi dosen Luar Biasa Mata Kuliah Liturgia pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta
Tahun 1989-1990 mengampu Matakuliah: Analisis dan Pengubahan Tingkah Laku (APTL) pada FKIP Unika Atma Jaya, Jakarta. Pada tahun 1990-1997 mengajar Logika di LPK Tarakanika, Jakarta dan tahun 2000-2001 menjadi dosen Logika pada Asekma Don Bosco, Jakarta. Itulah Pengalaman Pastor Jack dalam belajar mengajar.

KARYA PASTORAL
Sebagai sorang gembala umat, Pastor Jack juga menjadi :
Pastor Rekan di Paroki Santo Ignasius Loyola, Jl.Malang, Jakarta Pusat (1989-1992)
Pastor Kepala Paroki Santo Ignasius Loyola, Jl.Malang, Jakarta Pusat (1992-1996)
Pastor Rekan di Paroki Santa Perawan Maria Ratu, Blok Q Jakarta Selatan (1996-1997)
Pastor Kepala Paroki Santo Bonaventura, Pulomas, Jakarta Timur (1 Juli 1997-Mei 2000)
Pastor Kepala Paroki Santo Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara ( Mei 2000-September 2001)
Pastor Kepala Paroki Santo Aloysius Gonzaga, Cijangtung, Jakarta Timur (September 2001-Agustus 2005)
Pastor Paroki (pertama) Santo Matias Rosul, Kosambi Baru, Jakarta Barat ( Agustus 2005-Januari 2009)
Pastor Kepala Paroki Santo Gabriel, Pulogebang, Jakarta Timur (Februari 2009-Januari 2015)
Pastor Rekan Paroki Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara (1 Januari 2015-15 April 2016)
Pastor Kepala Paroki Kristus Raja, Pejompongan, Jakarta Pusat (15 April 2016- sampai sekarang)

PENGALAMAN PASTOR JACK
Pernah menjadi:
Deken pada Dekenat Jakarta Pusat (1993-1996)
Deken pada Dekenat Jakarta Timur (1997-1999)
Deken pada Dekenat Jakarta Barat (Febr. 2007-Jan 2009)
Terdaftar sebagai Anggota Dewan Iman KAJ (1997-2008)
Koordinator Ongoing Formation Imam-imam KAJ (1998-2001)
Sekretaris Unio KAJ (1991-1998)
Ketua Unio KAJ (1998-2002)

Dalam tingkat Nasional:
Bendahara Unio Indonesia (1999-2001)
Anggota Komisi Karya Misioner KWI (2007-2013
Anggota Pengurus Inti Komisi Liturgi KWI (Jan.2007-2013)
Pengurus Inti Majalah Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (2007-sekarang)
Ketua II Yayasan Hidup Katolik, Keuskupan Agung Jakarta (2007-2012)

KARYA TULIS
Pastor Jack juga suka menulis dan menerjemahkan beberapa buku yaitu:
* 1991 Penyembuhan melalui Perayaan Ekaristi. Jakarta: Obor
(dari buku: Robert Grandis SJ.1988 Healing Through the Mass)
* 1995 Spiritualitas Awam Zaman Sekarang Jakarta: Obor
(dari buku: Jess S. Brena SJ 1988 Lay Spirituality Today Taipe, Taiwan Volunteer Lay Apostles Promotion and Training Center)
* 1995 Doa Bersama Mohon Penyembuhan, Jakarta Obor.
* 2006 Dari Keluarga untuk Gereja. Jakarta; Grasindo
* 2008 Religiositas, Agama dan Gereja Katolik.
* 2008 Jakarta: Grasindo Cetakan kedua;
* 2011 Ritus Kehidupan, Jakarta Cahaya Pineleng;
* 2011 Memahami Liturgi, Jakarta Cahaya Pineleng
* 2011 Allah Mencintai Manusia, Jakarta Obor;
* 2012 Mempertimbangkan Salah Kaprah dalam Liturgi, Jakarta Cahaya Pineleng

Beberapa artikel Pastor Jack pernah mengisi majalah Komisi Liturgi KWI: Liturgi Sumber dan Puncak Kehidupan. Majalah Mingguan hidup. Majalah Respons, Jurnal Etika Sosial Unika Atma Jaya, Jakarta.

Selain hidup menggereja, melalui bidang yang Pastor Jack tekuni yaitu mengajar maka Pastor Jack berhasil mendapatkan predikat Penatar Tingkat Nasional/Manggala Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila P4 berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 220/M Thaun 1998.

Tugas perutusan diterima pertama kali oleh Rasul Petrus dari Tuhan Yesus yang kemudian terus berkembang ke seluruh penjuru dunia selama berabad-abad. Pastor Jack termasuk seorang yang menerima tongkat estafet itu dari Rasul Petrus. Namun Pastor Jack merasa belum banyak memberi kepada Gereja, bangsa dan negara. Namun setidaknya Pastor Jack terus ingin berkarya dan bekerja selama hayat dikandung badan. Doa Anda sekalian adalah penyemangat hidup Pastor Jack!

Sumber : Warta RC edisi 51 Tahun IX/17 April 2016 (Majalah Mingguan - Gereja Regina Caeli)


" UNDANGAN PAMERAN LITURGI NOV.26 // DES. 02-03 "



Meninggalkan Kasih Semula

Meninggalkan Kasih Semula

MASYARAKAT dewasa ini ditandai dengan situasi paradoks. Di satu pihak, kemajuan teknologi, modernisasi, -dan globalisasi meningkatkan kesejahteraan bagi banyak orang. Komunikasi modern memudahkan orang untuk saling berkomukasi dan mudah bepergian ke mana saja. Gaya hidup konsumtif materialistis, dan hedonis mendorong orang untuk meraih sukses material secara
berlebihan, bahkan dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan itu. Tak heran terjadi korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kriminalitas, suap, manipulasi pajak, perdagangan anak, dan pelecehan seksual, intoleransi, memainkan isu SARA demi politik praktis-kekuasaan, Semua perbuatan itu dianggap lumrah tanpa merasa bersalah, bahkan tidak merasa berdosa.

Sementara di lain pihak, cukup banyak orang masih hidup dalam garis kemiskinan,
kesulitan lapangan pekerjaan, kerusakan lingkungan, keluarga-keluarga mengalami luka perceraian, banyak anak putus sekolah, muncul pelbagai penyakit dan banyak orang mengalami kesulitan biaya
pengobatan. Dalam situasi ini, banyak orang yang berkecukupan turut merusak tatanan sosial secara struktural. Moral pribadi dan sosial cenderung melemah dan luntur. Rupanya, ada sesuatu yang hilang dari kemanusiaan yang utuh.
Apakah itu? Kasih!

Dewasa ini banyak orang tidak sadar, tidak menghayati kasih dalam makna yang sesungguhnya (Paus Benediktus XVI, 2006,Deus Caritas Est). Bahwa pada awal mula hidup kita berasal dari kasih Allah. Hidup manusia berada dalam kandungan kasih kerahiman Allah (Kardinal Walter Kasper, 2014, Mercy, The Essence of the Gospel and the Key to Christian Life.) Rita tidak mengucap syukur, tapi sebaliknya justru menjadi angkuh dan bangga dengan kehebatan sendiri. Akibatnya,
hidup kita menjadi kosong.tanpa makna, kehilangan Roh. Rita tidak bahagia diiengah kemajuan karena egoisme dan sekularisme membungkus hidup kita. Dalam situasi seperti ini, kita diingatkan Kitab Wahyu, "Meskipun demikian, Aku mencela engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula, Sebab itu ingatlah betapa dalanmya engkau telah jatuh.

Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki pelitamu dari tempatnya, jika engkau tidak bertobat" (Why. 2:4-6).' Iman Kristiani menegaskan bahwa Allah selalu setia dan menunjukkan kerahiman- Nya yang tak bertepi. Kitab Wahyu, bahkan seluruh Kitab Sucimeneguhkan
harapan bahwa akhirnya kejahatan akan dikalahkan dan akan tegaklah keadilan dan damai sejahtera (Walter Kasper). Seperti "seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku akan menghibur kamu" (Yes. 66:13).Dapatkah "seorang perempuan melupakan bayinya sehingga dia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku
tidak akan melupakan engkau" (Yes.49:15).

Rita boleh berdiskusi panjang dan dapat berbeda pendapat mengenai kamar pengakuan yang dewasa ini semakin sepi. Agaknya, lebih berguna kita memperbaiki dan menata Sakramen Tobat agar perayaan pengakuan dosa berdaya pikat,
mengundang umat karena menyentuh hati mereka. Yang utama tentu saja umat 'datang secara pribadi kepada seorang imam di bilik pengakuan, mendapat absolusi dari imam "atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus", melaksanakan silih atau laku tapa.

Akan tetapi yang juga harus dibenahi adalah persiapannya. Doa-doa dan nyanyian Ibadat Tobat ditata lebih baik lagi. Sebaiknya, Ibadat Tobat dipimpin imam yang menyampaikan homili dengan tekanan pada kerahiman Allah, tentang kasih karunia Allah, yang dapat membangkitkan sikap syukur dalam hati umat. Tidak perlu terlalu membeberkan dosa-dosa umat. Dalam bagian pemeriksaan batin hendaknya umat dibantu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat konkret tentang kelalaian umat. Penting diingat bahwa pokok Sakramen Tobat ialah pengakuan iman terhadap belas kasihan Allah. Allah Maharahim menawarkan rahmat-Nya kepada pendosa dan pendosa mohon belas kasih Allah yang tidak bertepi. Dengan demikian, pendosa kembali kepada kasih semula, Keberhasilan Ibadat Tobat adalah memberi kedamaian, ketenangan
suara hati, penghiburan rohani untuk berjuang dalam kehidupan Kristiani (KKGK,No. 310).•.

Kutipan dari majalah Hidup 22 Oktober 2017

Liturgi: Sadar dan Berbuah

Sadar dan Berbuah

DEWASA ini di paroki-paroki, umat semakin berpartisipasi aktif dalam perayaan liturgi, khususnya Misa hari Minggu.Umat Lingkungan dan komunitas kategorial secara bergilir melaksanakan tugas pelayaan seperti ikut dalam paduan suara, lektor, pemazmur, dan penyambut jernaat, Tentu saja dalam perayaan liturgi, semua harus turut terlibat aktif berdoa dan ikut bernyanyi. Sementara kita hadir dalam perayaan liturgi dan mendapat tugas pelayanan yang harus kita berikan kepada jemaat, itu tentu saja baik. Akan tetapi "melakukan sesuatu untuk jemaat" bukan yang utama, melainkan kehadiran dalam perayaan liturgi. Kehadiran pribadi dalam sebuah perayaan liturgi merupakan pelayanan yang paling utama (Henry Noumen). Bunda Gereja "sangat menginginkan, supaya semua orang beriman dibimbing ke arah keikutsertaan yang sepenuhnya, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi" (sc, 14).

Namun dernikian,partisipasi aktif menjadi liturgi dirayakan dengan penuh kesadaran. Kehidupan modern ditandai dengan otomatisme. Lihat saja banyak hal dilaksanakan secara otomatis: di rumah, di kantor, lalu lintas, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, dan lain-lain, yang semua hanya dengan tekan tombol saja, terjadilah apa yang kita inginkan. Boleh jadi sikap otomatis ini mempengaruhi ketika kita merayakan liturgi. Secara otomatis begitu saja kita melaksanakan kewajiban hari Minggu, ikut-ikutan mendaraskan rumus-rumus doa yang bahkan sudah dihafal, menyanyikan lagu-lagu yang sudah biasa asal saja enak melodinya-peduli amat dengan makna syairnya. Semua umat berlutut,berdiri dan membungkuk, maka kita pun ikut-ikutan juga.

Kedangkalan merupakan ciri khas masyarakat modern-sekular, mempengaruhi cara kita berliturgi. Semuanya serba cepat dan tergesa-gesa. Daridirinya sendiri, "masyarakat yang ditentukan oleh business,ilmu pengetahuan dan teknologi, se~ uang suaah tidak berkaitan dengan doa dan agama, Orang yang hidup di dalamnya memang banyak yang sudah tidak berdoa. Hidup mereka lebih banyak ditentukan oleh HP dan televisi, bukan oleh upacara-upacara keagamaan"(Tom Jacobs SJ.2004. Teologi Doa.Yogyakarta:Kanisius, hal17). Ketika merayakan liturgi, kita berdoa pertama sekali untuk mernuji Allah, bersyukur dan menyembah Allah Pencipta. Doa bukan pencarian dari kehidupan sehari-haridengan segala tantangannya.

Dalam doa kita sungguh sadar bahwa kita adalah makhluk ciptaanTuhan. Dengan doa kita menghayati hidup bersama Tuhan dan memperjuangkan kehidupan bersama- Nya. Tidak cukup kita mohon bantuan Tuhan tetapi yang utama adalah mempercayakan diri kepada Tuhan. Dalam doa kita mengungkapkan iman dari lubuk hati yang terdalani. Hidup kita merupakan pemberian, anugerah dari Allah. Kita berdoa Allah Bapa, dengan perantaraan Putra- Nya Yesus Kristus dan oleh Roh Kudus. Dengan demikian kita berdoa dengan sadar karena" kita semua mengenal dengan baik bahaya mendaraskan rumusan-rumusan doa rutin sementara pikiran kita seluruhnya berada di suatu tempat yang lain sama sekali"
(Paus Benediktus XVI.2008. Jesus dari Nazaret.Jakarta: Gramedia, hal 139-140).

Liturgi yang dirayakan dengan penuh kesadaran akan menjadikan umat sehati-sejiwa dalam kasih. Umat mendapat berkat dan diutus untuk mengamalkan kasih bagi sesama dalam masyarakat. Dengan menerima komuni kudus, kita sejatinya bersatu dengan Tuhan untuk membawa damai bagi dunia. Menyambut Tubuh Kristus berarti menerima Kristus, yang adalah biji gandum yang jatuh dan dikorbankan agar menghasilkan buah. Kematian diubah dengan kasih,kekerasan dikalahkan dengan cinta. Kasih lebih kuat dari pada kematian.

Agar Ekaristi berbuah, ketika Liturgi Sabda, mata kita tertuju pada mimbar Sabdasambil mendengarkan Bacaan Pertarna, Bacaan Kedua, dan Evangeliarium yang diikuti dengan homili. Jangan lagi baca teks. Dalam liturgi, umat mendengarkan Sabda Tuhan,' bukan membaca Sabda Tuhan. Ketika Liturgi Ekaristi, pusat perhatian kita tertuju ke altar, dalam keheningan kita mendengar dan dalam hati ber-doa bersama imam Doa Syukur Agung, "umat menggabungkan diri dengan Kristus dalam memuji karya Allah yang agung dan dalam mempersernbahkan kurbam'{Pl.Ilvlk, 78).

Kutipan dari majalah Hidup 8 Oktober 2017

Et Incarnatus Est

Et Incarnatus Est
" Dewasa ini, terkesan Credo dilagukan atau terlebih didaraskan cepat-cepat,
tergesa-gesa; begitusaja tanpa makna "


SETIAP perayaan Misa hari Minggu dan Hari Raya, imam bersama umat melagukan atau mendaraskan Syahadat (Credo). Terlebih dulu .imam membuka Credo, dan selanjutnya dilagukan oleh umat dan kor secara bergantian. Credo mengingatkan
umat akan pengakuan pokok-pokok misteri iman sebelum merayakan Liturgi Ekaristi. Rumusan Credo singkat, tepat, dan tidak menduaarti. Walaupun
kedudukan Credo tidak lebih tinggi dari Kitab Suci, namun isinya yang padat meneguhkan iman umat, khususnya mampu melawan ajaran-ajaran sesat.
Bagi umat sederhana, Credo berfungsi sebagai patokan atau kriteria iman Gereja. Pada zaman dulu, Credo diajarkan kepada katekumen dan calon baptis serta diucapkan ketika pembaptisan. Sebelum Konsili Vatikan II, guru-guru agama
di desa-desa terpenciljustru melaksanakan katekese berdasarkan Credo.

Kalau umat sudah hafal, cukuplah! Dewasa ini, terkesan Credo dilagukan atau terlebih didaraskan cepat-cepat, tergesa-
gesa; begitu saja tanpa makna. Padahal sebelum Konsili Vatikan II, banyak umat merasa terkesan dan tersentuh ketika Credo dinyanyikan dalam bahasa Latin. Walaupun tidak memahaminya, namun umat sungguh menghayati dan dinyanyikan dengan hati.

Mengapa demikian?
Hari ini kita terbius dengan hanya bahasa kata yang tertera pada teks. Padahal makna bahasa melampaui teks tertulis. Khususnya bahasa religius justru menunjukkan, menyingkapkan sesuatu yang tidak dapat dikatakan.
Bahasa religius memunculkan, memperlihatkan, dan memperdengarkan Allah yang tidak kelihatan. ''Bahasa religius mempunyai akar-akarnya dalam situasi- situasi ajaib itu dimana kelihatan lebih daripada yang terlihat saja" HarIYHamersma, 2014.Persoalan Ketuhanan dalam Wacana Filsafat. Yogyakarta:Kanisius). Ketika Credo dilagukan, misteri iman sungguh dihayati, yang maknanya melampaui kata-kata tekstual. Orang Romawi mengatakan, musik atau nyanyian
adalah semacam ucapan Tuhan atau gambaran suara Tuhan. Nyanyian yang baik merupakan cara pemurnian rasa, jiwa, dan rohani manusia. Musik dan nyanyian tidak memberi penjelasan tetapi menampilkan gambaran kehidupan iman. "Musik dari suatu bangsa mencerminkan jiwa dan pribadinya bangsa tersebut," (Bernhard Baumgartner).
Demikian juga Credo yang dilagukan dengan baik, benar dan indah, mencerminkan penghayatan iman umat. Terlebih ketika solis melagukan "Et incarnatus est Spiritu Sancto ex Maria virgine, et homo factus est", 'Dan menjadi daging oleh

Roh Kudus dari Perawan Maria, menjadi manusia'. Sebelum Konsili Vatikan II, ketika solis melagukan, "Et Incarnatus est ...", semua umat berlutut, menundukkan kepala, terasa hening yang menggetarkan, sambil mendengarkan solis melagukan bagian ini dengan gaya Gregorian silabis dan ritartando (perlahan- Iahan). Organis mengiringinya dengan melodi saja dan pianissimo, bahkan tanpa iringan. Pada saat ini jiwa kita penuh getaran, hati terharu, mesra, dan luluh dalam keindahan, bahkan dalam Yang Mahaindah. Memang keindahan lagu Gregorian dialami dengan perasaan iman. Sifat lagu Gregorian adalah menuju Tuhan (Theocentris). Lagu Gregorian muncul dari praktik ibadah dan dapat dinikmati bila kita sungguh- sungguh mengalami, meresapi, dan menghayati liturgi. "Justru keindahan itu sendirilah yang menyadarkan kita akan Keindahan Yang Tak Terhingga, meskipun Keindahan itu tidak dimengerti betul-betul dan hanya dibayangkan dengan samar-samar. Keindahan sebagai keindahan membawa manusia ke alam religi atau hubungan dengan Tuhan"(Driyarkara: Kumpulan Karangan).

Nah, itulah warisan berharga Gereja sebelum Konsili Vatikan II, yang cenderung dilupakan generasi hari ini. Credo Gregorian harus dihidupkan kembali agar orang muda menemukan akar-akar iman yang berkembang dalam sejarah. Credo Gregorian mengungkapkan iman melampaui bahasa kata, Nyanyikanlah Credo III, abad ketujuh belas, Puji Syukur No. 374. Liturgi, sepertijuga Gereja, harus terus-menerus diperbarui (Liturgia semper reformanda est) dari waktu
ke waktu dengan tetap setia pada akar tradisi yang dihidupi Gereja Perdana .•



Kutipan dari Majalah Hidup 16 September 2017



ENGLISH MASS EVERY SUNDAY AT 11.30 AM



    Nov.5th at 11.30 am Nov.12th at 11.30 am Nov.19th at 11.30 am Nov.26th at 13.00 am
           
PRIEST : P Robert Rimmin, SJ P H. Sridanto P Robert Rimmin, SJ P. Andi Gunardi
           
CHOIR : Mirabille Benedicanta Voice of Praise Vivere l'amore
           
MULTI-MEDIA : Sdr.Reymondo Sdr.Jeffrey / Sdr.Gary Sdri.Erika / Sdri.Linda Sdri. Hervina
           
           

Gereja Kristus Raja
Jl. Danau Toba no. 56, Pejompongan, Jakarta Pusat,
at 11.30 AM. Will see you there and God bless!





IBADAH GPIB ANUGERAH - DI GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA















LOWONGAN KERJA



LOWONGAN KERJA

GEREJA St. IGNATIUS LOYOLA, Jl. Malang 22, Jakarta
Telp. 3151324 / 3150924


Membutuhkan segera:
Staff Sekretariat.
a. Pria / Wanita, pendidikan min. SMK / Sederajat (umur max.35 tahun)
b. Menguasai microsoft office dàn kemampuan data entry.
c. Jujur, Teliti, dan Bertanggung Jjawab.

Silakan kirimkan CV, Copy KTP / identitas lain, sertifikat, ijazah, ke alamat email:
sekretariat.ignatius@yahoo.com



* * Segala hal selain pemasangan lowongan kerja ini di luar tanggung jawab redaksi / webmaster / web-Admin.