***** Sabtu, 25 Januari 2020 Pkl.09.00 Misa IMLEK *** Sabtu, 25 Januari 2020 Pkl.17.30 Minggu Biasa ke-3 *** Minggu, 25 Januari 2020 Pkl.07.00 - Pkl.09.00 Minggu Biasa ke-3 *** Sunday, Jan, 25th 2020 English Mass " 3rd Sunday in Ordinary Time " at 11.30 *****

GEREJA KRISTUS RAJA MENJADI "OASE" PERTEDUHAN JIWA













Gereja Kristus Raja

Adalah salah satu Gereja Katolik. Terletak di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta khususnya tergabung dalam wilayah dekenat Jakarta Pusat. Gereja Kristus Raja didirikan sejak tahun 1972 yang sejak awal dikelola oleh Misionaris Kongreasi Hati Maria Tak Bernoda (CICM). Baru pada tahun 2004 paroki Kristus Raja diserahkan kepada imam-imam diosesan. Sejak awal sampai saat ini sudah terdapat 8 pastor yang pernah berkarya (4 pastor- CICM dan 4 pastor projo). Maka genaplah 40 tahun Paroki Kristus Raja pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Minggu 25 November 2012..


Paroki Kristus Raja adalah bagian dari anggota Tubuh Kristus yang masih terus berjuang menuju kesempurnaan hidup seperti Allah Bapa adalah sempurna. Maka dengan semangat Caritas et Servitio (Kasih dan Pelayanan), marilah kita bertekad untuk semakin setia kepada Kristus Raja sebagai pelindung paroki; menjadi teladan dan semakin berbakti kepada masyarakat khususnya yang miskin dan papa seperti Kristus yang selalu setia kepada seluruh umatnya sampai akhir zaman. Sesuai dengan tema perayaan syukur Hari Ulang Tahun Gereja Kristus Raja : “Kesetiaan Kristus Imam Agung, Teladan Umat Beriman”.


VISI
Menjadi pesekutuan umat yang dinamis dan seimbang dalam iman, harapan dan kasih.

MISI
- Meningkatkan kehidupan di lingkungan-lingkungan dan kelompok-kelompok kategorial dalam membangun komunitas basis.
- Meningkatkan pengetahuan dan penghayatan iman, melalui penyegaran iman yang berkesinambungan.
- Meningkatkan semangat keterbukaan akan pembaharuan dalam mewujudnyatakan habitus baru. (Habitus berasal dari- bahasa Latin yang berarti kebiasaan)
- Meningkatkan keseimbangan antara doa, kasih dan karya dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.

GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA "OASE" Di TENGAH KEGERSANGAN KOTA



GEREJA “DAUN” KRISTUS RAJA - OASE PERTEDUHAN JIWA

Perkenankanlah kami umat-Mu mempersembahkan sebuah Gereja, yang sederhana, teduh, agung, indah dan gagah bagi Putra-Mu Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja. Sebuah rumah perteduhan bagi jiwa-jiwa yang letih lesu dan berbeban berat untuk mendapatkan kesegaran, bagaikan Oase yang memberikan kesejukan di tengah kegersangan kota.

I Wayan Winten, seniman beragama Hindu.
Karya : Pohon Salib Kristus, Patung Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria.
Pohon Salib Kristus merupakan salah satu karya paling unik yang terdapat di Gereja Kristus Raja, Pejompongan. Dibuat dari sebuah batang pohon jati tua yang sudah berusia ratusan tahun dengan ketinggian 8 meter dan di dalamnya diukir Patung Kristus dengan ekspresi hampir wafat, tidak lazim seperti salib pada umumnya. I Wayan Winten, sang seniman, beberapa kali mengalami “taksu” secara spiritual atas karyanya. Taksu sebuah filosofi Bali, secara sederhana berarti enerji yang menghantarkan kita pada sebuah kesaktian. Bukan enerji yang datang begitu saja, melainkan datang lewat ketekunan dan pengabdian sungguh-sungguh. Mengutip komentar Bapak Shindu Hadiprana : “Sesuatu yang berawal dari Tuhan, bila diberdayakan tanpa pamrih, pasti akan menjadi berkat terbesar dan karya terbesar.”


Sebuah pohon besar yang kokoh tidak mungkin berdiri tanpa akar-akar yang kokoh, batang yang menyangga, ranting-ranting dan dedaunan yang mendukung kehidupannya. Begitu pula dalam Paroki Kristus Raja yang baru. Ada banyak sekali akar-akar, ranting dan dedaunan yang menyangga tegaknya gereja ini sehingga terlihat megah dan teduh, yaitu berupa umat-umat yang mau berkorban serta peduli dengan kehadiran gereja baru. Mereka yang meluangkan segenap tenaga dan pikiran dan berhasil mengalahkan egonya untuk terjun langsung dalam kegiatan sosial pembangunan gereja Kristus Raja yang baru. Yang menyerahkan diri mereka untuk diterpa badai pro dan kontra akan berdirinya sebuah bangunan megah ditengah kemajemukan masyarakat Jakarta, khususnya warga Pejompongan.


Doa
Gereja yang kita miliki sekarang adalah jawaban atas doa yang tak kunjung henti dari kita semua. Dalam doa, manusia menyadari keterbatasannya bahwa tidak semua hal dapat dikerjakan sendiri oleh tangan manusia. Dan sungguh nyatalah iman kita bahwa hal yang tidak dapat dikerjakan manusia, dikerjakan oleh Allah.“Do your best and He shall takes the rest!!”

.

Banyak hal yang agak tidak mungkin, menjadi mungkin karena kehadiranNya. Awalnya muncul sejumlah keraguan, tapi berakhir dengan keyakinan. Rasa takut terkalahkan oleh rasa aman dalam perlindungan kasihNya. Inilah buah doa yang kini kita tuai dan kita syukuri. Bahkan, buah doa itu tampil dengan cara cara yang luar biasa, mengena untuk kita dan mereka semua yang berdoa dan ambil bagian dalam pembangunan rumahNya ini.


Cerita berikut dapat menjadi contohnya :

“Beberapa bulan yang silam, seorang tukang bangunan pernah secara pribadi datang kepada saya. Saking segannya
berjumpa dengan seorang romo, ia tidak berani datang ke pastoran dan justru menunggui saya sehabis misa harian di atas jembatan dekat gereja hanya untuk mengucapkan terima kasih dan ucapan syukur yang mendalam. Atas apa? Atas doa yang dikabulkan. Ternyata saat acara tumpengan bersama dengan para tukang bangunan pasca pengecoran basement, ia mengingat betul doa saya yang salah satunya ditujukan untuk kerukunan hidup rumah tangga pada tukang. Dan menurut kisahnya, saat itu ia hampir empat (4) bulan lamanya tidak lagi berbicara dengan istrinya: rumah tangganya di ambang perpecahan. Namun beberapa jam setelah doa bersama dan tumpengan, tak diduga, istrinya di kampung halaman kembali menghubungi dia, dan kini rumah tangga mereka kembali harmonis. Tak henti hentinya ia memegang tangan saya, menundukkan kepala berulang kali dan mengucapkan terima kasih atas doa yang dikabulkan tersebut. Saya trenyuh dan terharu. Dan saya yakin bahwa inilah buah dari doa. Inilah karya Tuhan yang luar biasa bagi mereka yang ikut membangun rumahNya”.


PASTOR KEPALA PAROKI PEJOMPONGAN

Pastor Kepala

Pastor Jacobus Tarigan (Pastor Jack)

Lahir di Deli Tua (Sumatera Utara) 01 Juni 1955. Sebagai seorang Imam Pastor Jack menempuh pendidikan dan mendapat predikat Sarjana Filsafat dan Teologi dari Universitas ( Sebelumnya IKIP ) Sanata Dharma, Yogjakarta Jurusan Filsafat dan Teologi pada tahun 1983.

BELAJAR MENGAJAR
Setelah hampir dua tahun menjalankan tugas pelayanan sebagai Pastor Rekan di Paroki Santa Anna, Duren Sawit, Jakarta Timur, Pastor Jack berkesempatan melanjutkan studi di Universitas Gregoriana, Roma, mengambil jurusan Teologi Spiritualitas.

Pastor Jack belajar dengan baik dan menikmati hari-harinya sehingga pastor Jack berhasil lulus dengan predikat " Summa cum laude" dengan pujian tertinggi dan mendapatkan gelar Licentiat (S2) dari Universitas tersebut pada tahun 1988.
Pastor Jack menulis tesis Guida e Consiglio Pastorale Delle Coppie Irregolari Nel Luce Adhoratio Apostolica; Familiaris Consortio ( De Familiae Christianae Muneribus in Mundo hujus temporis) ; Acta Apostolicae Sedis (AAS) (1982) 81-191. (Pendekatan pastoral terhadap keluarga-keluarga retak dalam terang dokumen Familiaris Consortio)
Kembali ke tanah air, Pastor Jack langsung mendapatkan tugas sebagai Sekretaris Komisi Kerasulan Awam Konferensi Indonesia (KWI) dan sebagai Moderator Komisi Kerasulan Awam Konferensi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) tahun 1988-1998. Pastor Jack adalah orang yang suka berbagi ilmu. Sejak menjadi mahasiswa Filsafat dan Teologi pada Seminari Tinggi St.Paulus, Yogjakarta, Pastor Jack sudah mengajar pada Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Pastor Jack pernah mengajar Agama Katolik di SMA Santa Maria, Yogjakarta (1981-1982), juga memberi kuliah Agama Katolik pada Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (1982), serta di Universitas Katolik Atma Jaya, Yogjakarta (1981-1983).

Sejak 1980 sampai saat ini , Pastor Jack menjadi dosen Matakuliah Pendidikan Kepribadian (MPK) pada Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya, Jakarta. Selain itu sejak 2005 sampai sekarang menjadi dosen Luar Biasa Mata Kuliah Liturgia pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta
Tahun 1989-1990 mengampu Matakuliah: Analisis dan Pengubahan Tingkah Laku (APTL) pada FKIP Unika Atma Jaya, Jakarta. Pada tahun 1990-1997 mengajar Logika di LPK Tarakanika, Jakarta dan tahun 2000-2001 menjadi dosen Logika pada Asekma Don Bosco, Jakarta. Itulah Pengalaman Pastor Jack dalam belajar mengajar.

KARYA PASTORAL
Sebagai sorang gembala umat, Pastor Jack juga menjadi :
Pastor Rekan di Paroki Santo Ignasius Loyola, Jl.Malang, Jakarta Pusat (1989-1992)
Pastor Kepala Paroki Santo Ignasius Loyola, Jl.Malang, Jakarta Pusat (1992-1996)
Pastor Rekan di Paroki Santa Perawan Maria Ratu, Blok Q Jakarta Selatan (1996-1997)
Pastor Kepala Paroki Santo Bonaventura, Pulomas, Jakarta Timur (1 Juli 1997-Mei 2000)
Pastor Kepala Paroki Santo Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara ( Mei 2000-September 2001)
Pastor Kepala Paroki Santo Aloysius Gonzaga, Cijangtung, Jakarta Timur (September 2001-Agustus 2005)
Pastor Paroki (pertama) Santo Matias Rosul, Kosambi Baru, Jakarta Barat ( Agustus 2005-Januari 2009)
Pastor Kepala Paroki Santo Gabriel, Pulogebang, Jakarta Timur (Februari 2009-Januari 2015)
Pastor Rekan Paroki Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara (1 Januari 2015-15 April 2016)
Pastor Kepala Paroki Kristus Raja, Pejompongan, Jakarta Pusat (15 April 2016- sampai sekarang)

PENGALAMAN PASTOR JACK
Pernah menjadi:
Deken pada Dekenat Jakarta Pusat (1993-1996)
Deken pada Dekenat Jakarta Timur (1997-1999)
Deken pada Dekenat Jakarta Barat (Febr. 2007-Jan 2009)
Terdaftar sebagai Anggota Dewan Iman KAJ (1997-2008)
Koordinator Ongoing Formation Imam-imam KAJ (1998-2001)
Sekretaris Unio KAJ (1991-1998)
Ketua Unio KAJ (1998-2002)

Dalam tingkat Nasional:
Bendahara Unio Indonesia (1999-2001)
Anggota Komisi Karya Misioner KWI (2007-2013
Anggota Pengurus Inti Komisi Liturgi KWI (Jan.2007-2013)
Pengurus Inti Majalah Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (2007-sekarang)
Ketua II Yayasan Hidup Katolik, Keuskupan Agung Jakarta (2007-2012)

KARYA TULIS
Pastor Jack juga suka menulis dan menerjemahkan beberapa buku yaitu:
* 1991 Penyembuhan melalui Perayaan Ekaristi. Jakarta: Obor
(dari buku: Robert Grandis SJ.1988 Healing Through the Mass)
* 1995 Spiritualitas Awam Zaman Sekarang Jakarta: Obor
(dari buku: Jess S. Brena SJ 1988 Lay Spirituality Today Taipe, Taiwan Volunteer Lay Apostles Promotion and Training Center)
* 1995 Doa Bersama Mohon Penyembuhan, Jakarta Obor.
* 2006 Dari Keluarga untuk Gereja. Jakarta; Grasindo
* 2008 Religiositas, Agama dan Gereja Katolik.
* 2008 Jakarta: Grasindo Cetakan kedua;
* 2011 Ritus Kehidupan, Jakarta Cahaya Pineleng;
* 2011 Memahami Liturgi, Jakarta Cahaya Pineleng
* 2011 Allah Mencintai Manusia, Jakarta Obor;
* 2012 Mempertimbangkan Salah Kaprah dalam Liturgi, Jakarta Cahaya Pineleng

Beberapa artikel Pastor Jack pernah mengisi majalah Komisi Liturgi KWI: Liturgi Sumber dan Puncak Kehidupan. Majalah Mingguan hidup. Majalah Respons, Jurnal Etika Sosial Unika Atma Jaya, Jakarta.

Selain hidup menggereja, melalui bidang yang Pastor Jack tekuni yaitu mengajar maka Pastor Jack berhasil mendapatkan predikat Penatar Tingkat Nasional/Manggala Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila P4 berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 220/M Thaun 1998.

Tugas perutusan diterima pertama kali oleh Rasul Petrus dari Tuhan Yesus yang kemudian terus berkembang ke seluruh penjuru dunia selama berabad-abad. Pastor Jack termasuk seorang yang menerima tongkat estafet itu dari Rasul Petrus. Namun Pastor Jack merasa belum banyak memberi kepada Gereja, bangsa dan negara. Namun setidaknya Pastor Jack terus ingin berkarya dan bekerja selama hayat dikandung badan. Doa Anda sekalian adalah penyemangat hidup Pastor Jack!

Sumber : Warta RC edisi 51 Tahun IX/17 April 2016 (Majalah Mingguan - Gereja Regina Caeli)

PASTOR REKAN PEJOMPONGAN

Pastor Rekan

Rafael Yohanes Kristianto (Romo Rafael)

Lahir di Jakarta, 1983. Tahun 2002 Masuk Seminari Menengah Wacana Bhakti, KPA (Kelas Persiapan Atas) di lanjutkan Tahun Orientasi Rohani (TOR) Keuskupan Agung Jakarta di Puruhita, Klender.

2004 - 2008 Studi S1 Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta
2008 - 2009 Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Rumah Retret Civita, Ciputat
2010 - 2013 Studi S2 Teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti – Universitas Sanata  Dharma, Yogyakarta.
2011 Cuti kuliah karena melaksanakan Tugas Pastoral di Paroki Citra Raya Tanggerang
22 Agustus 2013 Tahbisan Imam/Pastor di Paroki Bekasi, Gereja St Arnoldus.
September 2018 Studi S2 Management System Information di Binus University

Riwayat Pengalaman Berpastoral
2013—2014 Bertugas di Paroki Cililitan, Jakarta Timur
2014—2017 Bertugas di Paroki Pulo Gebang, Jakarta Timur
2018—2019 Bertugas di Paroki Villa Melati Mas, Serpong, Tangerang Selatan
2019— Bertugas di Paroki Pejompongan


KESENIAN RELIGUS

KESENIAN RELIGIUS
Jacobus Tarigan

MENYAMBUT Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, Paroki Pejompongan, Kristus Raja Jakarta, boleh semakin menghayati kesenian religius ketika merayakan liturgi. Mengapa ? Dalam gedung gereja terpajang patung-patung baru yang artistik yang sarat nilai-nilai religius tinggi. Patung-patung itu tentu saja bukan tiruan, dan benar-benar khas dengan latar belakang budaya Indonesia. Pada hakekatnya, kesenian religius dimaksudkan untuk “dengan cara tertentu mengungkapkan keindahan Allah yang tak terperikan dalam karya manusia. Lagi pula semakin dikhususkan bagi Allah dan untuk memajukan puji syukur serta kemuliaan-Nya, karena tiada tujuannya yang lain kecuali untuk dengan buah hasilnya membantu manusia sedapat mungkin mengangkat hatinya kepada Allah” (SC, 122).

Dalam area gereja terdapat “Kain Poleng”, yaitu kain kotak-kotak hitam putih yang melambangkan sifat buruk dan baik manusia. Juga ada kain berwarna kuning melambangkan sinar matahari yang bersinar terang yang tidak pernah berhenti melancarkan sinar terang kepada manusia. Dalam Gereja Katolik diimani bahwa, Yesuslah Terang yang sesungguh-Nya (Yoh. 1:9). Yesus memberi perintah kepada pengikut-Nya, “kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang” (Mat. 514-15). Selain itu ada dekorasi berwarna hijau di dalam gereja yang melambangkan alam semesta Indonesia. Dalam kaitan ini, orang katolik biasa menyampaikan Pujian kepada Pencipta Semesta Alam, “... kami bersyukur kepada-Mu. Sebab dengan perantaraan Yesus Kristus, Sabda dan Putra-Mu terkasih, Engkau menciptakan bagi kami segala yang baik dan indah di dunia ini: gunung-gemunung dan sawah ladang hijau, langit biru dengan awan-gemawan, lautan luas, alam nan indah, dan tanah yang subur. Kebijaksanaan dan kemegahan-Mu terbentang di alam ciptaan; segala yang elok dan mulia, yang tertib dan perkasa memperoleh asal dan hidupnya dari-Mu. Kami Engkau ciptakan menurut citra-Mu sendiri dan Engkau beri kami hidup dalam Yesus Kristus, Putra-Mu...” (Konferensi Waligereja Indonesia. 2005. Buku Imam. Prefasi Umum  No. 53, Yogyakarta: Kanisius hal 101). Di tempat-tempat sakral, di panti imam ditabur bunga melati melambangkan kesucian Yesus. Gereja adalah Kudus karena kehadiran Yesus sebagai Kepala-Nya, dan kesucian setiap anggota Gereja hanyalah mungkin kalau  berasal dari Kristus sendiri Kristus sendiri berjanji, “bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situlah Aku berada di antara mereka” (Mat.18:20). Secara khusus dalam perayaan ekaristi Kristus hadir dalam Sabda-Nya, sebab Ia sendiri yang bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja (Sancrosanctum Concilium, 7). Dalam hal ini, lukisan burung dihadirkan dalam bentuk ornamen sebagai lambang kehadiran Kristus Tuhan dalam Roh-Nya. Bahkan diungkapkan juga, Kristus adalah pengayom sejati, dengan hiasan janur berbentuk kipas yang artinya pengayoman bagi semua umat manusia dari Kristus sendiri sebagai gembala baik.

Melihat patung dengan warna-warni itu teringatlah kita akan Thomas Aquinas (1225-1274) yang mengatakan bahwa “keindahan” adalah Id quod visum placet, sesuatu yang menyenangkan hanya dengan dilihat. Sesuatu yang dinyatakan indah bila dilihat membutuhkan  integritas (bukan hasil mutilasi). Leo Tolstoy (1828-1910),sastrawan Russia berpendapat, “that wich pleases the sigh”, keindahan adalah sesuatu yang mendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat. Menurut Alexander Gottlieb Baurngarten (1714-1762), filsuf Jerman “Beauty is on of parst in their  manual relations and in their relations to the whole”. Artinya keindahan dipandang sebagai keseluruhan yang merupakan susunan  yang teratur dari bagian-bagian, yang bagian-bagian atau unsur-unsur itu itu utuh terpadu, tak terpisah, erat hubungannya satu dengan yang lain, dalam keseluruhan. Bahkan Santo Agustinus (354-430) melihat bahwa hukum keindahan berasal dari Allah, Pribadi Abadi yang mengatasi semesta fisik yang berubah-ubah. Bagi Santo Agustinus, pengalaman estetika terletak pada pengalaman religius.

Patung-patung dipahat dari kayu bulat-utuh, tanpa tempelan. Rumah tempat kelahiran Yesus terbuat dari potongan-potongan kayu, ditopang tiang kayu bagaikan batu sendi. Batu “yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mazmur 118:22).   Dan Paulus mengatakan: “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan - yaitu kamu sendiri - , namun Ia telah menjadi batu penjuru” (Kis. 4:11). Sungguh bagi Tuhan, tidak ada perkara yang mustahil yang tidak bisa diatasi. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Patung bayi Yesus terbaring dalam palungan dengan didampingi Yoseph dan Maria, ketiga patung itu digambarkan dengan wajah nusantara, berkulit sawo matang.  Dengan melihat salib dengan patung Yesus yang terbuat dari pohon jati terpilih utuh, rumah kelahiran Yesus, patung-patung artistik religius yang ditampilkan, semuanya bercorak nusantara, kita boleh mengatakan  bahwa Yesus benar-benar lahir di bumi  pertiwi dan dalam hati kita.  Perayaan liturgi “diperkaya dengan adanya seni, yang menolong kaum beriman untuk merayakan perayaan, untuk bertemu dengan Tuhan dan berdoa. Kesenian dalam gereja, yang dikumpulkan dari semua suku dan bangsa, hendaknya diberi kebebasan untuk mengungkapkan keindahannya, sejauh kesenian itu meningkatkan keindahan bangunan dan tata perayaan liturgi dengan memberinya penghargaan dan penghormatan sebagaimana mestinya. Kesenian itu hendaknya juga sungguh berarti dalam kehidupan dan tradisi bangsa yang bersangkutan” (De Liturgia Romana et Inculturatione. No. 43).

Begitu masuk ke dalam Kapel, kita sungguh terpesona dengan patung Pieta yang telah mengalami transformasi dari apa yang kita lihat di Basilica San Pietro Apostolo di Vatikan. Maria yang berwajah baik, benar dan  cantik yang berhati penuh kerahiman khas nusantara, yang hidup dalam dua musim  dan bukan kecantikan gadis benua salju, hidup dalam empat musim.  Patung Pieta mengingatkan kita akan gadis-gadis dan perempuan-perempuan nusantara yang dicintai dan mencintai kita secara tulus karena cintanya dari hati terdalam seorang manusia yang diciptakan Allah. Cinta semacam itu asalnya dari kasih Allah sendiri. “Segala sesuatu berasal dari Kasih Allah, diciptakan oleh Kasih, diarahkan menuju Kasih” (Deus Caritas Est, 2). Pahatan patung pieta mengungkapkan religiositas  Ibu Pertiwi Indonesia yang dengan air mata membesarkan dan mendidik   anak-anak mereka. Kerahiman Allah menyelimuti kita sejak dalam rahim ibu. Santo Paulus, rasul agung itu mengungkapkan panggilannya sebagai rasul pewarta Injil Yesus Kristus “... dalam agama Yahudi pun aku jauh lebih maju dari banyak teman sebaya dengan aku di antara bangsaku. Sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. Tetapi sewaktu Allah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh anugerah-Nya” (Gal. 1:14-15).


1 Januari 2020


MASA ADVEN



Masa Adven
Jaobus Tarigan



Pada masa Adven, Gereja Katolik dalam perayaan Liturgi, mengajak kita untuk menghidupkan kembali masa pengharapan ketika dunia menantikan Juruselamat. Namun demikian, apa yang terjadi dewasa ini. Masa Adven menjadi masa komersialisasi. Bagi para pedagang, inilah masa penjualan yang paling laris. Hiasan-hiasan, pohon Natal, pakaian-pakaian dengan tawaran diskon memenuhi pusat-pusat perbelanjaan. Lagu-lagu Natal, entah liturgis, entah rohani, dilantunkan dimana-mana, di jalanan, bahkan di tempat hiburan yang paling murah dan merangsang. Natal tenggelam dalam masa belanja Natal atau “Christmas Shopping Season”.

Sesungguhnya Gereja mengajak kita untuk memaknai Adven sebagai masa penantian. Seperti para nabi, umat Israel merindukan seorang Mesias, penebus dan pembebas. Dalam masa kerinduan dan penantian itu kita diajak untuk berpuasa dan penyangkalan diri. (fasting and self-denial). Masa Adven hendaknya dijalani bagaikan sebuah masa Prapaskah mini. Tentu saja berbeda dengan Prapaskah sebelum Paskah. Dalam Masa Prapaskah-Mini ini, hendaknya kita mengadakan refleksi atas situasi masyarakat kita hari ini: pelecehan terhadap martabat manusia, fanatisme, fundamentalisme, terorisme, kekerasan terhadap golongan minoritas, pelanggaran hak-hak asasi manusia. Demikian pula direnungkan masalah-masalah alam: banjir, angin topan, gempa bumi, letusan gunung api, tanah longsor, dll. Banyak manusia menderita di sekeliling kita, bahkan kita sendiripun sedang dilanda kemalangan. Maka tidak pantaslah masa Adven adalah masa belanja, bahkan lebih tidak pantas lagi merayakan Natal sebelum Hari Natal. Janganlah kita bergembira dan merasa puas serta aman di tengah budaya kemiskinan materill dan spiritual. “Celakalah kamu yang hidup enak di Sion dan kamu yang merasa aman di Samaria – kamu hai tokoh-tokoh masyarakat bangsa Israel yang istimewa ini, kamu yang biasanya didatangi rakyat untuk dimintai pertolongan” (Amos 6:1)

Adven hendaknya dihayati sebagai masa berjaga-jaga, masa bersiap saga dan berharap. Kita sedikit keras dengan diri sendiri, menjauhi kebisingan radio dan televisi. Kita harus tenggelam dalam keheningan, untuk menantikan kedatangan Tuhan Yesus sebagai manusia dan kedatanganNya pada penghakiman terakhir. “Berjaga-jagalah, sebab kami tidak tahu bilamana tuan rumah pulang.” (Baca Markus 13:33-37)

Nah, masa Adven adalah masa doa dan berpuasa serta pengorbanan setiap hari. Masa Adven yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh merupakan satu-satunya kunci keberhasilan merayakan Pesta Natal. “A blessed Advent, then, is the only true key to a merry Christmas.”

Kita berdoa dan merayakan liturgi agar kita memperoleh kekuatan ilahi. Mengapa? Kita mengidap tiga macam penyakit: mudah disesatkan, lemah dalam tindakan, dan rapuh dalam daya tahan (Santo Bernardus). Kita bangga dalam kemajuan teknologi yang memudahkan hidup kita. Bahkan kita hidup dalam budaya serba instan. Dan justru karena itu kita lupa bahwa tiga penyakit ini tetap selalu semakin menggerogoti kita.

20 Desember 2019



HARI RAYA NATAL

Hari Raya Natal
Jacobus Tarigan

NATAL adalah Hari Raya peringatan kelahiran Yesus Kristus, Sang Juruselamat. Dalam Gereja Katolik hari raya ini sudah dirayakan sejak abad ke-4, pada tanggal 25 Desember. Injil Mateus dan Lukas menuliskan kisah masa kanak-kanak Yesus bukan untuk sebuah pesta yang waktu itu belum ada. Penginjil menuliskan bab-bab pengantar Injil ini untuk mengarahkan perhatian pada kehidupan dan pelayanan Yesus. Injil bukan biografi maka dua Injil tersebut tidak menyatakan hari dan tahun kelahiran Yesus. Walaupun dalam banyak adat kebiasaan Kristen pada hari Natal terdapat pohon Natal, kartu Natal, memberi hadiah, namun Injil tidak berbicara hal-hal itu. Yesus pun tidak dilahirkan di kandang hewan tetapi justru lahir dalam sebuah rumah (Mat. 2:11). Yesus dibungkus dengan lampin, hal ini menandakan martabat dan hakekat Yesus sebagai mesias atau Kristus. Sesuai zaman itu, semua raja yang baru lahir dibungkus dengan lampin atau bedung (bdk. Keb. 7:4-5). Demikian pula palungan oleh nabi Yesaya dipakai sebagai lambang karunia keselamatan Allah kepada bangsa Israel (bdk. Yes. 1:3).
Dengan dibaringkan dalam palungan, dimaknai Yesus Kristus adalah karunia keselamatan dari Allah bagi bangsa Israel. Yesus pun dibesarkan dalam keluarga tukang kayu yang merupakan pekerjaan lazim pada zaman itu di samping pertanian. Walaupun Yesus berasal dari kelas menengah dan bukan kalangan yang terbilang orang miskin secara ekonomis, namun Ia memiliki solidaritas luar biasa terhadap orang miskin. Kebiasaan membuat kandang natal diawali Santo Fransiskus Asisi (1181-1226), sesuai dengan penafsiran dan penghayatan kemiskinannya. Kebiasaan ini berlanjut sampai hari ini.

Paus Fransiskus menulis, “Asal mula ‘gua’ Natal ditemukan terutama dalam detail-detail tertentu tentang kelahiran Yesus di Betlehem, sebagaimana disebutkan dalam Injil. Penginjil Lukas mengatakan secara sederhana bahwa Maria ‘melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, gambaran kelahiran Yesus, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan’ (Mat. 2:7). Karena Yesus dibaringkan dalam palungan, gambaran kelahiran Yesus yang dikenal di Italia sebagai presepe, dari kata Latin praesepium, yang artinya palungan” (Surat Apostolik ADMIRABILE SIGNUM, 1 Desember 2019, No.2).

Dewasa ini di beberapa Paroki dalam Gereja tempat perayaan ekaristi tidak terpajang lagi kandang natal dan pohon natal. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa gua natal adalah bagian dari proses yang berharga dalam pewartaan natal menjadi sebuah pernyataan yang sederhana dan hidup (Surat Apostolik ADMIRABILE SIGNUM, 1 Desember 2019, No.10). Kita ingat sebuah patung kanak-kanak Yesus dibaringkan dengan wajah yang berseri-seri. Sudah barang tentu yang paling utama adalah menata perayaan Ekaristi secara khidmat, mendalam (sublim), menyentuh dan partisipasi umat. Demikian pula tidak dimatikan lampu listrik dan penyalaan lilin karena Natal bukanlah malam Paskah, di mana terdapat ritus pemberkatan lilin Paskah. Jadi cukup aneh diadakan pemadaman lampu. Biarlah lampu dan lilin tetap bernyala karena Natal merupakan masa kegembiraan, sukacita karena Allah mengangkat kita dari martabat manusiawi kepada martabat ilahi. Allah menjadi manusia agar manusia menjadi ilahi. Peristiwa kelahiran Yesus merupakan saat terpenuhinya janji keselamatan Allah bagi umat manusia. Perayaan Natal tak pernah dapat dipisahkan dari perayaan Paska. Tentu saja suasana dan lagu-lagu Natal terasa lebih romantis ketimbang suasana Tri Hari Suci dan masa Paska. Namun lagu Malam Kudus, ciptaan Josep Mohr dan FX Gruber janganlah menenggelamkan kita hanya dalam perayaan romantis tetapi justru harus mampu meningkatkan spiritualitas kristiani : cinta persaudaraan, kesederhanaan dan perhatian kepada orang miskin, cinta damai dan seluruh kehidupan Yesus patut diteladani.“Kita dapat merayakan Hari Natal dengan semua tradisi seperti yang kita inginkan, tetapi kita bukanlah orang Kristen yang bertanggungjawab kalau kita mengabaikan Kitab Suci. Mateus dan Lukas tidak menulis tentang sebuah hari raya yang waktu itu belum ada. Mereka menulis pada abad pertama untuk komunitas mereka sendiri, itulah cara kita memahami kisah masa kanak-kanak mereka.” (Joseph F. Kelly. 2010. Palungan. Yogyakarta: Kanisius, hal. 153).

Terdapat tiga misa hari raya Natal dengan tiga bacaan yang berbeda. Misa Malam : Injil Yesus Kristus karangan Santo Lukas 2:1-14.Misa Fajar : Injil Yesus Kristus karangan Santo Lukas 2:15-20.Misa Pagi : Injil Yesus Kristus karangan Santo Yohanes 1:1-18. Dengan menghadiri tiga kali misa ini, kita akan lebih memahami dan menghayati makna iman peristiwa Natal ketimbang hanya menghadiri misa malam saja. Kedalaman spiritualitas Natal didukung pula oleh busana berwarna putih dan hiasan-hiasan estetis yang mengungkapkan kebenaran (verum), kebaikan (bonum) dan keindahan (pulchrum). Nyanyian-nyanyian liturgis pun dipilih sesuai dengan kegembiraan Natal dan bukan lagu-lagu pop rohani murahan. Kor mendukung nyanyian umat dengan paduan suara sopran, alto, tenor dan bas. Semuanya sudah disediakan dalam Puji Syukur dan Madah Bakti. Janganlah membawa selera seni jalanan, murahan ke dalam liturgi. Perayaan liturgi Natal tidak boleh disamakan begitu saja dengan HUT anak-anak balita, dan TK, apalagi dengan tempat-tempat hiburan. Iman yang mendalam, matang dan kuat hendaknya diungkapkan pula dalam lagu-lagu bermutu, baik syair maupun melodinya. Iringan organ pun tidak sekedar iringan pop dengan ritme otomatis, bagaikan bunyi mesin. Lagu-lagu bermutu memperhatikan penjiwaan, forte-piano, legato, crescende-decresendo, staccato, ritortando. Justru itulah dibutuhkan dirigen dan organis yang handal. Liturgi yang baik, tepat dan bermutu sekaligus mendidik apresiasi umat (Sacrosanctum Concilium,19).

Beberapa saran :
Pusat perhatian utama adalah perayaan Ekaristi : Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Menjelang pembukaan Perayaan Ekaristi Malam Natal dilagukan Maklumat Kelahiran Juru Selamat seturut rumusan yang ada dalam Martirologium Romawi. Pohon Natal dan rumah tempat kelahiran Yesus hendaknya ditata secara inkulturatif sesuai dengan budaya nusantara, dan ditempatkan di ruang samping Gereja. “Dalam berbagai kebudayaan, orang-orang beriman dapat tertolong dalam doa dan dalam kehidupan rohani mereka dengan melihat karya-karya seni yang berusaha mengungkapkan misteri ilahi, sesuai dengan jiwa bangsa yang bersangkutan.” (De Liturgia Romana et Inculturatione, no. 44). Sangat dianjurkan Aksi Natal berupa kegiatan untuk memberi perhatian pada anak-anak, orang berusia lanjut (lansia), orang miskin, lemah, tertindas, tersingkir dan cacat. “Ketika kita tidak bersedia menyerahkan hidup kita bagi yang lain, kita sudah mati. Ketika kita bersedia mati dengan orang lain, kita sungguh-sungguh hidup. Atau ketika kita tidak bersedia membiarkan ego kita pergi, kita mati. Ketika kita bersedia membiarkannya pergi, kita mulai hidup dengan kepenuhan hidup.” (Albert Nolan. 2009. Jesus Today. Spiritualitas Kebebasan Radikal. Yogyakarta: Kanisius, hal. 101).

15 Desember 2019



ENGLISH MASS EVERY SUNDAY AT 11.30 AM



   
Feb,, 9th at 11.30
Feb, 16th at 11.30
Jan, 26th at 11.30
Feb, 2nd at 11.30
   
SUNDAY ENGLISH MASS
SUNDAY ENGLISH MASS
SUNDAY ENGLISH MASS
SUNDAY ENGLISH MASS
PRIEST : P. Carolus Putranto, Pr P. H. Sridanto, Pr Hidya Tjaya SJ Fadjar Himawan, MSF
           
CHOIR :     CANTATE CHRISTI ?
           
MULTI-MEDIA : Sdri. Inne Nathalia Sdri. Denise Sdri.Inne Nathalia Sdri. Junita
           
     
CHRISTMAS
   

Gereja Kristus Raja
Jl. Danau Toba no. 56, Pejompongan, Jakarta Pusat,
at 11.30 AM. Will see you there and God bless!

BAPTISAN BAYI 12 JANUARI 2020